Artikel Terbaru

Mengusung Prinsip di Pedalaman Papua

Mencari ketenangan: Cornelis Manangsang bersama istrinya Yonece Yufuwai melewati berbagai masa di Mauwa, Distrik Kamuu, pedalaman Nabire.
[Emanuel Goo]
Mengusung Prinsip di Pedalaman Papua
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Peluh mengguyur tubuh Cornelis Manangsang setiap kali ia hendak mencapai sekolah, tempatnya mengajar. Ia harus menelusuri lahan berpayau-payau di Kampung Mauwa Distrik Kamuu, di pedalaman Nabire, Papua.

Begitu tiba di SD YPPK Mauwa, serombongan anak berkulit gelap riang menyambutnya. Sebuah senyuman tulus mengulum di paras Cornelis, membalas songsongan mereka. Penat yang menguntit langkahnya menembus alam rawa, seketika luruh.

Begitulah keseharian Cornelis. Mantan Kepala SD YPPK Mauwa ini telah melebur dengan Bumi Cenderawasih. Ia merajut perjalanan hidupnya dari Jayapura, Fak-fak, Kokonao hingga pedalaman Paniai-Nabire. Kebanyakan masyarakat pedalaman cukup mengenal pria berdarah Sangir, Sulawesi Utara ini.

Sedari awal menjadi guru, ia memilih berkarya di antara masyarakat Papua. Di kawasan pedalaman yang telanjang, kedamaian berkarib dengannya. ”Saya tinggal di sini karena ingin mencari ketenangan,” ungkapnya.

Hingga usianya merambah petang, Cornelis mengusung satu prinsip hidup, yakni mengabdi dengan kejujuran dan cinta kasih. ”Mendidik dan membina murid-murid merupakan karya kasih kepada sesama,” tandasnya.

Dianggap setan
Cornelis lahir di Kampung Besum-Genyem Holandia, Papua, 19 Oktober 1944 dari pasangan Ferdinand Manangsang dan Hendrina Samuel. Ia mengenyam pendidikan di Vervolog School di Fak-fak, lalu melanjutkan ke Ofdelling Dorops Onderwes, juga di Fak-fak. Ia lulus tahun 1959.

Sebelum mendapat SK guru, selama beberapa bulan Cornelis mengajar di Kokonao. Kemudian ia ditugaskan di Enarotali (sekarang Ibu Kota Kabupaten Paniai). Setahun berselang, ia dipindahkan ke Obano. Lalu, ia pindah lagi ke Kuguwapa Bibida, Paniai. Selama delapan tahun ia berkarya di daerah itu.

Ketika pertama kali memasuki kawasan suku Moni di Bibida, masyarakat setempat menganggapnya setan. ”Karena kulit dan rambut saya berbeda dengan mereka,” tutur Cornelis berkisah. Sewaktu terjadi perang suku di Paniai, tahun 1969, Cornelis terpaksa mengungsi ke Jayapura. Setelah itu, ia kembali bertugas di pedalaman Paniai di Timida.

Tahun 1973, ia dipindahkan ke Badauwo. Di sana, ia menyunting Yonece Yufuwai, putri keluarga Ondofolo dari Depapre. Tahun 1975, Cornelis melanjutkan studi di Kolese Pendidikan Guru (KPG) Nabire. Setelah studinya usai, tahun 1978, ia bertugas di SD YPPK Egebutu Distrik Kamuu. Tahun 1981, ia berpindah tugas di SD YPPK Moanaemani.

Sejak 1985, ia pindah ke SD YPPK Mauwa hingga masa pensiun menjemputnya, tahun 2004. Dan, ia tetap bertahan di kawasan itu menjalani masa pensiunnya yang tahun ini menapaki tahun ketiga. ”Saya datang ke sini ketika suasananya masih gelap,” ucap ayah enam anak ini.

Padahal, Gubernur Papua Barnabas Suebu pernah menyuruhnya pindah dari Mauwa. Tawaran menjadi penilik sekolah di Jayapura pun tak ia indahkan. Batin Cornelis terlanjur tertambat di Mauwa. ”Saya masih ingin menyaksikan pembangunan yang dilakukan oleh anak-anak di-dik saya di sini,” terangnya.

Cornelis selalu mendambakan perubahan di Mauwa. ”Saya bangga dan terharu setiap kali melihat anak didik saya berhasil dalam berbagai aspek pembangunan,” tambahnya.

Tak berdaya
Namun, tak semua murid Cornelis sanggup menggapai keberhasilan. Sebagian besar justru putus sekolah, terutama murid-murid perempuan. Pengalaman tak enak pernah ia alami tatkala mengajar di Enarotali. ”Ada orangtua murid datang ke sekolah, memaksa anak gadisnya pulang untuk dikawinkan,” kenangnya. Tetapi, karena Cornelis bersikeras mempertahankan siswi tersebut, akhirnya orangtuanya mengalah.

Ada kalanya Cornelis tak berdaya. ”Kalau murid perempuannya sendiri memang ingin menikah, saya tidak bisa melarangnya. Orangtuanya bisa segera memperoleh mas kawin,” urainya.

Ketika pertama kali Cornelis memasuki Mauwa, sebagian masyarakat setempat masih menggunakan koteka dan moge. Mereka tidak mengerti bahasa Indonesia. Karena itu, sebelum bertugas, selama beberapa waktu Cornelis mempelajari bahasa daerah setempat. ”Meski dibekali dengan kursus bahasa, saya masih terbentur dengan kondisi masyarakat lokal yang pada umumnya belum memahami kehadiran guru,” ujar Cornelis.

Bukit tantangan yang menghadang tak menggoyahkan langkah Cornelis. Bahkan, ia menatapnya sebagai pelajaran berharga. ”Karena sejak masih remaja saya sudah masuk Enarotali,” kenangnya. Saat itu ia sudah mulai mengajar dengan perolehan gaji 116 gulden.

”Waktu itu masyarakat setempat belum mengenal uang. Pegawai negeri tidak ada. Yang ada hanya honei-honei dan polisi. Guru juga tidak ada…,” kenangnya lagi. Seirama waktu, masyarakat setempat mulai terbuka terhadap kehadiran guru di kampung mereka.

Bila mengajar, Cornelis menggunakan arang kayu di atas kalam putih. Hanya ada tiga kelas yang diselenggarakan. ”Untuk masuk kelas IV, murid-murid harus mengikuti ujian di Epouto. Mereka berjalan kaki menembus Kaimana sebelum memasuki Fak-fak,” kisahnya.

Penghasilan bergeming
Setelah Indonesia merdeka, Cornelis mulai meniti jenjang kariernya dari golongan I C dengan gaji pokok Rp 12.000. Penghasilan tersebut bergeming hingga ia melanjutkan studi di Kolese Pendidikan Guru. Setelah tamat, golongannya melonjak menjadi III A. ”Gaji itu bisa untuk menghidupi istri dan anak yang saat itu baru seorang,’’ ungkapnya.

Dalam kepungan keterbatasan, Cornelis sanggup bertahan. Karena itu, ia prihatin melihat kebanyakan guru condong bertugas di kota. ”Guru-guru sekarang berpendidikan tinggi sehingga mereka enggan mengajar di pedalaman,” keluhnya.

Selama bertugas, Cornelis jarang beranjak dari pedalaman. Kendati hidupnya terangkai dalam rutinitas yang jenuh, toh ia mengalir menghadapinya. ”Saya sangat jarang keluar kampung,” katanya. Bahkan, sewaktu liburan panjang tiba, ia tak ingin memanjakan diri berlibur ke kota. ”Saya tidak mau berfoya-foya di kota. Suasananya terlalu bising buat saya,” lanjutnya.

Pendidikan layak
Untuk menegakkan tiang nafkah rumah tangganya, Cornelis membuka kios di Mauwa. ”Kios bukan untuk mengejar kekayaan, tapi saya harus membiayai pendidikan anak-anak saya di tanah seberang,” jelasnya.

Cornelis berupaya sebisa mungkin membiayai studi anak-anaknya. ”Anak-anak didik saya bisa berhasil, tentu saya berharap anak-anak kandung saya juga bisa mengenyam pendidikan layak,” tukasnya.

Bila sebagian guru pendatang di Papua bisa memiliki tanah dan membangun rumah cukup mentereng, tidak demikian dengan Cornelis. Ia hanya membeli tanah secukupnya dan menempati sebuah rumah sederhana. ”Di sini sudah cukup buat saya untuk menjalani sisa hidup bersama istri dan anak-anak,” katanya.

Cornelis berharap, kelak tulang-belulangnya akan melumat dengan Bumi Papua, bila ia telah tiada. ”Saya ingin seperti ayah saya, mati di tempat tugas,” ungkapnya.

Meski sang waktu mulai memahat gelambir di kulitnya, semangat Cornelis tak meredup. Ia masih menyumbangkan tenaganya ke sekolah, tempatnya dulu berkarya. Ia tak enggan mengecat bangunan sekolah yang warnanya luntur terpanggang paparan surya. Ia juga asyik membikin papan nama dan lambang sekolah atau membereskan arsip guru. Bila ada masyarakat pedalaman Mauwa tertimpa persoalan, Cornelis tak ragu mengulurkan bantuan.

Tidak pas
Batin Cornelis perih melihat kurikulum pendidikan dewasa ini yang tidak pas diterapkan di Papua. ”Kurikulum dirancang menurut pola pikir orang Jawa. Padahal, seharusnya sistem pendidikan disesuaikan dengan kondisi masing-masing daerah,” ujarnya prihatin. Ia menyesalkan tindakan para pakar pendidikan di pusat, yang menyusun buku pelajaran menurut kemauan mereka sendiri.

Pengalaman mengajar di zaman Belanda masih mendekam di lumbung ingatannya. ”Waktu itu kami menggunakan buku-buku pelajaran karangan I.S. Kijne yang sudah disesuaikan dengan kondisi Papua,” ujarnya merenung.

Kebanggaan pun mewarnai batinnya bila ada orang-orang Papua menjelajah Jawa. ”Nyatanya, mereka mampu bersaing dengan orang-orang Jawa. Orang-orang Papua juga bisa menerbitkan buku-buku,” tegasnya dengan mimik senang.

Walau Cornelis telah mengabdi di Yayasan Katolik selama puluhan tahun, tak pernah ada bintang jasa disematkan di dadanya. Padahal, ia sudah berkarya di daerah Paniai sebelum Trikora bergaung. Sementara bola matanya menyaksikan sendiri guru-guru yang masuk Papua pasca Trikora bergantian memperoleh penghargaan dari pemerintah.

Tak ada selarik pun sesal di hatinya menapaki realita tersebut. ”Biarlah Tuhan saja yang menilai apa yang telah saya lakukan selama ini di dunia pendidikan,” ujarnya lirih seraya melepaskan tatapan.

Emanuel Goo/Maria Etty

(Sumber Majalah HIDUP, Edisi No. 1 Tanggal 7 Januari 2007)

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*