Artikel Terbaru

Van Lith, Sang Perintis

A. Budi Susanto SJ
[NN]
Van Lith, Sang Perintis
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Kisah misioner Romo van Lith memukau banyak orang, termasuk para penerusnya di Serikat Yesus. Dari studi mereka yang mendalam tentang van Lith, berikut ini pendapat mereka.

”Londo wurung, Jowo tanggung, Indonesia durung”, demikian ungkapan Pastor Dr A. Budi Susanto SJ tentang sosok misionaris Romo van Lith SJ. Ketika Paus Yohanes Paulus II berkunjung ke Yogyakarta tahun 1989, dia menyebut tiga nama yang dianggap berjasa bagi perkembangan Gereja Katolik di Jawa. Mereka adalah Romo van Lith (guru) dan kedua muridnya, A. Soegijapranata dan I. J. Kasimo. ”Dan, kita semua memang tahu bahwa dari satu guru yang sama itu, lahir dua murid berbeda aliran. Misalnya, berkaitan dengan politik nasionalisme di bawah Bung Karno si ’penyambung lidah rakyat’,” terang Pastor Budi Susanto yang dikenal sebagai antropolog itu.

Dalam buku ”Harta dan Surga, Peziarahan Jesuit dalam Gereja dan Bangsa Indonesia Modern”, ada cerita dari Romo E. Djajaatmadja SJ tentang Romo van Lith. Dikisahkan, waktu Romo Djaja berada di Muntilan, Romo van Lith ada di Semarang. Sampai tahun 1926, Romo Djaja sempat tiga kali melihat Romo van Lith. ”Ketika meninggal dunia, saya menyaksikan penguburannya. Banyak sekali yang datang berkunjung. Saya sungguh heran, banyak orang tahu bahwa dia antikolonialisme, tetapi dia dihormati oleh Belanda juga. Residen Semarang pun hadir pada saat penguburannya,” kisah Romo Djaja yang lulusan sekolah berbahasa Belanda HIS di Klaten, sebelum masuk Muntilan.

Pada waktu rekreasi, kisahnya, suatu kali Romo van Lith menantang siswa Jawa untuk bermain catur. Permainan itu berakhir dengan kemenangan Romo van Lith. Dia lalu ’mengejek’ orang pribumi. Katanya, ”Lho kaya ngene iki, kowe wong Jawa, keok!” (Beginilah, kamu orang Jawa, takluk!). Romo van Lith menunjukkan perlunya semangat bersaing. Sebelum mulai bekerja di kalangan orang Jawa, Romo van Lith mengadakan riset ilmiah, membaca banyak buku dan karangan tentang masyarakat Jawa. Dia tahu bahwa bangsa Jawa mempunyai kebudayaan yang unggul. Orang Jawa mempunyai kesusasteraan.

Keilmiahan Romo van Lith tampaknya membuat dia sangat menghargai orang Jawa. Mereka harus di”menang”kan dalam beberapa hal.

Untuk mengkatolikkan orang Jawa perlu diberi pendidikan. Pada waktu itu ternyata orang Jawa haus belajar Bahasa Belanda. ”Bahasa Belanda untuk mencari makan dan bahasa Jawa untuk kebudayaan.”

***
Satu kata kunci untuk menggambarkan Romo van Lith adalah ’Manjir ajur ajer’ yaitu menyatu dan tidak berjarak. Menurut Pastor Dr G. Budi Subanar SJ, staf Seminari Tinggi St Paulus Kentungan, Romo van Lith sepenuhnya memahami pola pikir dan menghayatinya dalam perilaku, sebagaimana orang-orang yang dilayaninya.

Romo van Lith mengawali karya di bidang pendidikan dengan sangat sederhana. Dokumen yang ditulis salah satu bekas muridnya J. Sastradwija di Gemolong Februari 1926, – seperti ditulis Romo Budi Subanar SJ ’Seabad van Lith, Seabad Soegijapranata’ dalam buku ”Gereja Indonesia Pasca-Vatikan II, Refleksi dan Tantangan” – kiranya dapat memberi sedikit gambaran.

”Anak-anak dibuatkan rumah sendiri, dengan bangun rumah model limasan (salah satu model rumah Jawa), beratap genting, berdinding bambu, tempat tidurnya dari bambu, lantainya tanpa ubin (tanah). Gerejanya sangat kecil, modelnya pencu, seperti rumah orang-orang Semarang tempo dulu, perlengkapannya sangat sederhana tanpa hiasan macam-macam.

Bangunan sekolahnya model ’klabang nyander’ (model rumah Jawa yang lain), beratap atep (ijuk), berdinding bambu, mejanya rendah, duduknya di bawah menggunakan tikar.”

Itulah gambaran situasi awal ketika Romo van Lith dan murid-murid pertamanya memulai proses pendidikan di sekolah yang kemudian diberi nama ”Kolese Xaverius” (sekarang SMA van Lith, Muntilan).

Dalam surat yang ditulis van Lith pada tahun 1904 – yang mencerminkan hasil refleksi atas pengalamannya – dia mengemukakan, ”Usaha misi di antara bangsa Jawa mulai dengan metode yang salah: mewartakan Injil kepada individu. Kita harus insaf bahwa karya kita bergantung dari pendidikan, pemimpin, dan guru.”

Menurut Pastor Budi Subanar, rumusan ini bisa mengesankan pendekatannya bersifat elitis: kaum guru dan pemimpin. Namun, demikian Pastor Budi Subanar, dapat disimak usaha Romo van Lith berburu dan mencari murid. Dia mendatangi sekolah-sekolah pribumi dan bercakap-cakap dengan kaum tani tentang pendidikan untuk anak-anak mereka.

Kalau ada orang takut padanya, ia lalu mengajak orang itu mandi bersama. ”Dia bersatu dengan orang yang dilayani, memahami kehidupan, susah payah dan kesusahan mereka, serta pola pikir mereka,” tutur Pastor Budi Subanar.

Menurut Pastor Budi Subanar, kesalahan persepsi dari pihak generasi sekarang adalah bahwa Romo van Lith dilihat sebagai orang yang berdiri sendiri. Padahal, ia berkarya dengan banyak orang. ”Karena itu, dalam tampilan foto tidak digunakan foto van Lith secara pribadi, tetapi dengan komunitas lain, supaya kesadaran sejarah itu tertanam, yaitu bahwa van Lith bukan tokoh yang berdiri sendiri, tetapi berkarya dengan banyak orang: dengan guru-guru awam, bruder, frater, dan murid-muridnya yang lain,” tegasnya.

***
Pastor Dr Floribertus Hasto Rosariyanto SJ berpendapat, Romo van Lith bukan sekadar ’bapak pendidikan’. Dalam pandangan staf Seminari Tinggi St Paulus Kentungan ini, seluruh perjalanan karya Romo van Lith dilalui lewat perjuangan, darah, dan airmata. ”Ada saat di mana dia putus asa. Karena dia memulai karyanya dari nol, tidak selalu dipahami teman-teman misionaris. Kadang-kadang dia harus menerima untuk tidak disenangi oleh rekan-rekannya sesama Yesuit,” tuturnya.

Awal misinya di Tanah Jawa, jumlah orang Katolik masih sangat sedikit. Kedatangan Romo van Lith ke Tanah Jawa Oktober 1896 adalah sebuah taruhan. Namun, karena ketaatannya pada pembesarnya, dia berangkat ke Tanah Jawa. Tugas berat yang dibebankan kepadanya tidak dilihat sebagai sebuah beban, tetapi bagaimana Allah mengutus dia dan dia akan memberikan seluruh hatinya pada tugas perutusan.

Bahkan, menurut Pastor Hasto, Indonesia bukan tempat ideal untuk van Lith. ”Semula dia tidak menginginkan menjadi misionaris di Indonesia. Ia bercita-cita menjadi misionaris di tanah leluhurnya sendiri, daratan Eropa. Apalagi dia adalah putra Yesuit terbaik saat itu di antara Yesuit Belanda lainnya. Namun, karena taat pada pembesar dan kecintaannya pada tugas perutusan, ia memberikan dirinya sepenuh hati pada Gereja Indonesia,” tutur Romo Hasto yang menulis disertasi tentang van Lith.

Karya misi Romo van Lith, demikian Pastor Hasto, dapat dikatakan tidak biasa. Dia sangat menghargai kebudayaan Jawa. Awalnya ia melakukan riset, membaca banyak buku, dan mempelajari bahasa dan budaya setempat. Sesuai tugas perutusannya untuk mengkatolikkan orang Jawa, dalam pandangan Romo van Lith yang paling tepat adalah mengembangkan sumber daya awam dengan memilih untuk terlibat dalam pendidikan bagi anak-anak pribumi. ”Pilihannya ini sangat tepat karena di tengah situasi saat itu – berada dalam penindasan, kemiskinan dan tentunya kurang pendidikan bagi kaum pribumi – kerinduan akan kemajuan pendidikan sangat besar.”

M. M. Maria Nilaningsih

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*