Artikel Terbaru

Sosok Aneh Itu Hadir Kembali

Pembaptisan massal: Dibaptisnya 171 orang Jawa di Sendangsono menyelamatkan misi van Lith di Jawa. Van Lith mengakui peristiwa ini merupakan penyelenggaraan Ilahi. Adegan Rm van Lith bersama umat perdana di Jawa, dalam film "BvJ"
[NN/Dok.SAV-PUSKAT]
Sosok Aneh Itu Hadir Kembali
5 (100%) 1 vote

HIDUPKATOLIK.com – Ada suasana lain di Dusun Duren Sawit, tak jauh dari Gua Maria Sendangsono, Jawa Tengah. Selama dua hari, Rabu dan Kamis, 13-14/12/2006, berpuluh-puluh penduduk dusun itu seperti kembali ke masa silam.

Mereka mengenakan pakaian khas Jawa tahun 1900-an. Laki-laki mengenakan kain lurik dengan surjan dan blangkon. Perempuan mengenakan jarik lurik dan kebaya. Semua berhimpun di sebuah mata air di bawah pohon besar. Sementara di tengah kumpulan itu, menyelip seorang pria berkulit putih dengan rambut lurus disisir rapi.

Satu per satu orang-orang Jawa itu maju. Seseorang yang berkulit putih itu menyambutnya. Ditumpangkannya telapak tangan kiri ke atas setiap kepala, sementara tangan kanan menyiramkan segayung air ke dahi mereka. Air di gayung mengalir perlahan. ”Cut…! Terdengar teriakan seseorang, disambut tepuk tangan meriah orang-orang yang berkumpul di rerimbunan pohon besar itu.

Yang berteriak ”cut..!” itu adalah Pastor F.X. Murti Hadiwijayanto SJ, sutradara film ”Bethlehem van Java”, produksi Studio Audio Visual Pusat Kateketik (SAVPUSKAT) Yogyakarta. Pengambilan gambar yang sempat diulang sampai tujuh kali itu akhirnya berakhir.

Yesuit kelahiran Magelang, 17 April 1967 itu menarik napas panjang. Senyum di bibirnya mengembang. Ia tampak lega setelah mengarahkan pemain utama dan puluhan figuran dalam adegan pembaptisan 171 orang Jawa (separuh perempuan, separuh laki-laki) oleh Romo van Lith SJ tahun 1903 di sebuah mata air (sendang) yang kemudian dikenal sebagai tempat ziarah Sendangsono.

Lokasi syuting tidak mengambil lokasi Sendangsono, tetapi di Duren Sawit, tak jauh dari Sendangsono. Di dusun berpenduduk mayoritas Katolik ini, terdapat sendang yang berada di pokok kayu besar, persis seperti lokasi pembaptisan massal di zaman Romo van Lith SJ. SAV Puskat bekerja sama dengan manajer Sendangsono mengerahkan umat Stasi Duren Sawit untuk memerankan umat Katolik perdana di Jawa.

Selama dua hari dusun di Bukit Menoreh ini dimeriahkan oleh kehadiran kru dan pemain film, beserta kegiatan syutingnya. Pengambilan gambar (take) sampai berulangulang karena melibatkan puluhan pemain. Jumlah figuran memang tidak persis 171 orang (seperti jumlah orang yang dibaptis Romo van Lith). Menurut Pastor Murti, cukup 25 orang. Dengan teknik pengambilan gambar yang dipadatkan dan proses editing tertentu, bisa dibuat seolah-olah pembaptisan massal. ”Film itu kan soal kesan. Di narasi tetap disebutkan jumlah 171 orang,” ungkap Pastor Murti.

Proyek idealisme
Sejak tahun 2005, SAV PUSKAT Yogyakarta mempersiapkan produksi film dokudrama berjudul ”Bethlehem van Java” (BvJ). Film ini dibuat menggenapi produksi sebelumnya, yaitu ”Kasih Sang Ibu di Perbukitan Menoreh” (2003), dan ”Bunga Rampai Perayaan 100 tahun Sendangsono” (2004). Dua film dokumenter ini telah terjual 20.000 keping dalam bentuk VCD. Untuk film ”Kasih Ibu di Perbukitan Menoreh”, memperoleh penghargaan kedua untuk kategori televisi dalam Festival Niepokalanow XX Miedzynarodowy 2005 di Warsawa, Polandia.

Menurut Kepala Bagian Operasional SAV Puskat M. Rini Purwaningsih SAg, yang dipercaya menjadi Pimpinan Produksi Film ”BvJ”, selama ini lembaga yang dikembangkan imam- imam Yesuit sejak 1970 ini hanya memproduksi film atas permintaan, seperti membuat profil perusahaan atau lembaga. Untuk lebih mewujudkan visi dan misi lembaga, setiap tahun para kreator di lembaga ini mengagendakan pembuatan film atas inisiatif sendiri. ”Kami menyebutnya sebagai proyek idealisme,” ujar perempuan yang akrab disapa Rini itu.

Tahun 2006, SAV Puskat memutuskan membuat film tentang kisah misioner Romo van Lith SJ. Film ini akan menghabiskan dana Rp 353.150.000, meliputi biaya pra produksi, produksi, dan pasca produksi. Pemain yang terlibat berjumlah 140 orang (pemain lokal) dan 40 orang (pemain asing). Pemain lokal diambil dari kelompok-kelompok teater dan mahasiswa Yogyakarta, serta masyarakat setempat. Sedang pemain asing adalah para ekspatriat di Yogyakarta.

Sementara pengambilan gambar (syuting) berlangsung selama 19 hari (4-22/12/2006). Lokasi syuting berpindah-pindah di wilayah Yogyakarta dan Jawa Tengah meliputi: SAV Sinduharjo – Puskat Kotabaru- Semarang-Duren Sawit-Sompilan-Stasiun Ambarawa-Seyegan- Muntilan.

Setelah proses editing, mulai Januari 2007, umat Katolik di paroki-paroki sudah bisa menikmati film ini dalam bentuk cakram (VCD). Rini mengungkapkan, untuk peredaran pertama dicetak 10 ribu keping, dengan harga Rp 20.000 per keping.

Orang aneh
Nama Romo van Lith sudah sangat dikenal sebagai tokoh Katolik Jawa. Namun, Pastor Murti mengakui, kisah hidupnya khususnya ketika menjadi misionaris di Jawa belum banyak orang mengetahuinya.

Bercerita tentang masa lalu berarti ia harus merekonstruksi sejarah. Peristiwa yang dialami Romo van Lith (1896-1926), dia ceritakan lagi lewat film. Pastor Murti menyebutnya sebagai film dokudrama. Yakni, penyatuan antara dokumenter dan cerita. ”Dokumenter yang filmis (bergaya film), ada adegan!” tegasnya.

Inspirasi untuk membuat film jenis ini ia serap ketika ia menonton Discovery Channel yang tengah memutar film tentang peristiwa Tiananmen. Film berjudul ”Forbidden City” ini mengungkap kembali masa lalu Cina dengan cara mereka-reka peristiwa yang telah terjadi ratusan tahun lalu.

Sebelum membuat naskah, Pastor Murti memulai dengan riset. Ia membaca buku-buku tentang Romo van Lith tulisan Pastor Budi Subanar SJ dan Pastor Hasto Rosariyanto SJ. Ia juga meminta saran dari Pastor Budi Susanto SJ, Pastor Putranto SJ, dan Pastor Sarijatmiko Pr. Riset perpustakaan dilakukan di Kolese St Ignatius Yogyakarta untuk mencari foto-foto lama tentang tempattempat dan gedung-gedung yang berhubungan dengan kehidupan Romo van Lith.

Pernak-pernik ini juga merupakan kesulitan bagi para periset untuk membuat property (benda-benda/alat-alat) dan setting (gedung/tempat yang dijadikan lokasi syuting). Rini berujar, bagian artistik film setengah mati mengusahakan ini, karena mereka harus cermat sehingga tidak ada kesalahan sedikit pun. Misalnya, pena tahun 1906 itu ada bulunya atau tidak.

Dalam pandangan Pastor Murti, kisah misioner Romo van Lith tidak heboh. Tidak heroik seperti kisah misioner para imam Yesuit di Amerika Latin, seperti dilukiskan dalam film The Mission (dibintangi Robert de Niro, Academy Award untuk Film Terbaik Tahun 1986). Ia berpikir, dari sisi mana akan bercerita. Akhirnya, ia menemukan sisi menarik dari kehidupan Romo van Lith. Dia adalah orang aneh dan melawan arus di zamannya. Dia suka keluyuran ke kampung tanpa jubah, bermain catur dengan anak-anak, dan berkumpul dengan orang-orang desa. Sementara sosok misionaris yang lain waktu itu, diwakili Pastor Hoevenaars, sangat tertib Misa dan tugasnya membaptis orang.

Romo van Lith juga dicap sosialis oleh Pemerintah Kolonial Belanda, karena terlalu membela orang Jawa. Bahkan, ia bersahabat dengan para kiai saat menjadi wakil rakyat di Volkstrad. Romo van Lith pernah mengatakan, seandainya ada pertentangan antara orang Jawa dan Pemerintah Belanda, ia memilih membela orang Jawa. Sosok aneh itu akan hadir lagi di rumah Anda. Sambil menikmati kisahnya, Anda boleh merenungkan kisah pendahulu Gereja itu, untuk diambil semangatnya dalam mengembangkan Gereja saat ini.

Anton Sumarjana

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*