Artikel Terbaru

Mewarta Sekarang Ini

Sumber: [vandaliaumc.org]
Mewarta Sekarang Ini
1 (20%) 1 vote

HIDUPKATOLIK.com – Sebuah karya kreatif audio visual dari lingkungan Gereja siap diproduksi. Begitu ia tampil di publik, ia akan bertarung dengan produk-produk sekular. Bertarung? Rasanya tidak! Yang kedua kerap jauh lebih canggih, kerap jauh lebih atraktif. Sehingga tidak tepat dikatakan bahwa produk Gereja masuk ke dalam ajang pertarungan.

Di sinilah Studio Audiovisual PUSKAT (SAV) Yogyakarta melakukan terobosan cerdas. Ia membuat film yang kelak akan diberi judul Bethlehem van Java. Film ini mengisahkan palungan jemaat Katolik di Jawa dan bagaimana benih-benih kekatolikan ini tumbuh dan menyebar. Tema ini tidak dimaui oleh lembaga lain. Dan, memang bukan bidang yang menjadi kompetensi mereka.

Tema tersebut di atas sudah merujuk bahwa produk ini menggumuli nilai inti dari kerasulan Gereja. Ia hendak setia dengan komitmen paling dasar. Dengan demikian, bertempur secara langsung dalam wilayah yang memang bukan konsentrasinya, ia hindari.

Pusat-pusat kreatif lain memproduksi film-film kekerasan, hantu dan dunia gaib, seks, dan infotainment. Dalam carut-marutnya situasi ini, SAV memilih jalan menyimpang yang unik. Inilah tipikal sikap elegan Gereja: tidak pertama-tama mencari kambing hitam. Dalam situasi kepayahan, rasul-rasul Gereja tidak menyalahkan pihak-pihak luar (kebijakan pemerintah, perubahan mental umat, atau atasan mereka). Yang mereka upayakan adalah mencari dan terus mencari, menggali kreativitas baru.

Diferensiasi adalah taktik yang menjadi salah satu kunci keberhasilan kerasulan kita. Nilai inti tetap kita pertahankan, tetapi produk yang ditawarkan harus berbeda dari yang lain. Kita diajak merenungkan satu kebenaran, bahwa keunggulan dicapai dengan memilih ”sedikit lebih berbeda” daripada ”sedikit lebih baik”. Inilah konsekuensi yang diambil untuk menanggapi realita hidup yang dibanjiri produk dengan kualitas yang mirip, bentuk dan wajah juga mirip, harga yang tidak jauh berbeda, di tempat yang sama.

Kita dituntut untuk mencari bidang yang spesifik, dalam ruang tertentu, tetapi dengan dampak signifikan di kemudian hari. Jika pilihan yang diambil tepat, maka perbaikan terus-menerus akan berlangsung dalam jangka panjang. Inilah prinsip – sulit menemukan padanan dalam bahasa Indonesia – leverage. Sebuah prinsip yang dilukiskan untuk menemukan ”liang” kunci. Dengan menerobos liang ini, dan dengan enerji kecil saja, perubahan besar terjadi.

Pertanyaannya, apakah SAV yang membuat film Bethlehem van Java ini bisa dikategorikan sudah menerapkan prinsip leverage? Dengan kata lain, apakah film ini merupakan hasil kreatif yang akan memberikan dampak luas dan panjang?

”Liang” yang begitu kita harapkan senantiasa merupakan benda yang tidak mudah kita temukan. Benda ini tidak tampak di permukaan. Orang biasa tidak akan mampu melihat dan mengenalinya. ”Lubang kunci” ini hadir dalam wujudnya yang samar.

Memahami bagaimana cara kerja pesawat terbang lepas landas adalah perkara rumit untuk awam. Salah satu kunci terletak pada sayap pesawat. Ketika sayap memberikan tekanan ke samping, pesawat justru terangkat ke atas. Perkara ini tidak akan terlihat sama sekali untuk awam. Orang harus terlebih dahulu mempelajari aerodinamika untuk memahaminya. Analogi ini mirip dengan pencarian cara-cara merasul di zaman ini. Inilah yang membuat hidup dan karya kerasulan Gereja menjadi menarik dan menantang.

Sudah sekian lama, kerasulan kita dianggap tidak berkembang. Dikatakan Gereja mandek, tidak membuat inovasi-inovasi baru. Kita terus mengalirkan dana, energi, dan waktu untuk karya-karya lama. Sekarang – dalam banyak kasus – Gereja dipaksa mengalami secara langsung kebenaran, ”Yang kemarin kita anggap solusi dan keberhasilan, hari ini menjadi sumber problem”.

Wisdom yang bisa kita ambil adalah apa yang tepat kemarin untuk memperoleh keberhasilan, tidak bisa diterapkan untuk hari ini. Jika ini terus dilakukan, hasilnya semakin buruk. Semakin keras kita kerja, semakin buruk hasil yang kita peroleh. Karena kita berada di jalan yang keliru.

Kita sudah mendengar kisah seorang pemabuk mencari kunci kamar di dalam rumahnya meski ia menjatuhkan kunci tersebut di luar rumah. Seorang Sufi bertanya mengapa demikian. Jawab sang pemabuk, ”Karena di dalam rumah ini ada sinar terangnya. Sementara di luar rumah gelap.”

Bethlehem van Java adalah upaya pencarian kunci di dalam kegelapan ini. Kita harapkan sinarnya bisa memancar luas.

Redaksi

(Sumber Majalah HIDUP, Edisi No. 1 Tanggal 7 Januari 2007).

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*