Artikel Terbaru

Meski Bahaya Mengintai

Lanny Paulina
[HIDUP/Maria Etty]
Meski Bahaya Mengintai
1 (20%) 1 vote

HIDUPKATOLIK.com – Subuh tengah melata, saat Lanny Paulina mengayuh sepedanya menerobos gulita yang lembab. Sebagai loper, ia hendak membagikan setumpuk koran kepada para pelanggannya.

Di simpang jalan di kawasan Serpong, Tangerang, sebuah motor nyaris menghajarnya. Lanny terhenyak. Sementara kekagetannya belum sirna, ia kembali dilabrak kekagetan berikutnya: pengendara motor itu merampas koran-koran di keranjang sepedanya.

Selang sesaat, Lanny berteriak-teriak. Namun, teriakannya tak sanggup membuntuti pengendara motor yang segera melesat dalam kecepatan tinggi. Sesal pun bergulung di dadanya. Sementara dana di koceknya mepet, ia harus mencari koran pengganti agar tak mengecewakan pelanggan-pelanggannya.

Pengalaman itu tak membuat Lanny menyerah. Padahal, bahaya kerap mengintai… Tak jarang kesenyapan dini hari membuat bulu-bulu kuduknya meremang. Beberapa kali ia melihat makhluk halus di kegelapan. ”Tadinya saya pikir manusia, ternyata apa yang saya lihat itu sekelebat saja menghilang,” ujar wanita kelahiran Jakarta, 56 tahun lalu ini.

Untuk menaklukkan rasa takut, di sepanjang jalan Lanny takzim berdoa. Ia melantunkan pujian kepada Sang Pencipta. ”Sebelum berangkat, saya berdoa ’Mohon Doa Malaikat Pelindung’,” tandasnya.

Kerja keras
Putri kelima dari delapan bersaudara ini dibesarkan dalam lingkungan pedagang. Karena ayahnya kerap menganggur, sang ibu membanting-tulang agar ekonomi keluarganya tak doyong.

Sejak kecil Lanny terbiasa kerja keras membantu ibunya. Awalnya, ibunya berjualan makanan di warung milik neneknya di kawasan Kota, Jakarta Barat. ”Setelah warung tutup, Mama berjualan lauk-pauk di pasar,” kenang Lanny.

Untuk meringankan beban orangtua, selepas SMA, Lanny mulai mencari pekerjaan. Tahun 70-an, ia menjadi kasir di Bank Marannu di Jl Hayam Wuruk, Jakarta Barat. ”Enam tahun saya bekerja di sana,” kenangnya.

Kemudian Lanny bekerja di RS Husada, Jakarta Barat. ”Sembari bekerja, saya menitip bacang bikinan Mama di kantin rumah sakit,” tambah Lanny. Setahun berselang, Lanny bekerja di sebuah biro iklan dan agen koran. ”Di situ saya mendapat keterampilan menjadi agen koran,” ungkapnya.

Kerusuhan 1998
Demi perbaikan kesejahteraan, medio 1990, Lanny pindah kerja di sebuah perusahaan mebel di kawasan Cikupa, Tangerang. Lagi-lagi, ia menjadi kasir. ”Setiap hari saya harus pergi pulang Jakarta-Cikupa dengan kendaraan umum,” tuturnya. Tak jarang bus yang ia tumpangi tak mau berhenti di jalan tol sehingga ia terbawa sampai ke Serang. ”Kondisi tersebut membuat saya bergumul,” ungkapnya.

Saat bekerja di Cikupa, pengalaman traumatis menggores batinnya. Tanggal 13 Mei 1998, ia bekerja seperti biasa. Tengah hari, pimpinannya memulangkan para karyawan. ”Saya tak menyangka situasi sudah kacau-balau,” kenang Lanny. Di jalan, kendaraan umum sudah jarang melintas. Risau mulai menggenang di batin wanita lajang ini.

Tiba-tiba, sebuah colt menghampiri. Lanny segera naik hingga ke Bitung, Tangerang. Dari sana, ia menumpang ojek menuju Kali Deres, Jakarta Barat. ”Saat itu uang saya tinggal Rp 12.000,” ujarnya.

Ternyata, tukang ojek menurunkannya di sembarang tempat. Rasa bingung mulai menyiutkan nyali Lanny. Apalagi di sepanjang jalan, bangkai-bangkai bara berhamburan. Aroma sangit pun menusuk hidungnya sementara sisa-sisa asap mengaburkan pandangannya.

Tiba-tiba, segerombolan anak muda memekik saat Lanny melintas. ”Eh Cina… Cina, bagi duit,” hardik mereka. Seraya mengerahkan sisa-sisa keberaniannya, Lanny menjawab, ”Saya tidak punya duit!” Reaksi mereka sungguh tak terduga. ”Ayo, kita perkosa saja!” pekik mereka sambil mengejar Lanny.

Selekas mungkin Lanny berlari. Pemandangan orang-orang yang sibuk menjarah di sekitarnya, tak ia hiraukan. Ia berusaha membuang tatapannya dengan berlari dan terus berlari… hingga kawanan anak muda tadi lenyap dari pandangannya.

”Mulut saya komat-kamit mengucapkan doa Salam Maria tiada henti,” imbuh Lanny. Beberapa orang yang berpapasan dengannya berkomentar, ”Eh Cina gila… Cina gila…!” Lanny tak peduli. Napasnya terengah-engah serasa hendak putus. Akhirnya, ia melebur dengan segerombolan orang yang hendak pulang ke rumah masing-masing.

Karena batinnya begitu tegang, Lanny tak menghiraukan panas, lapar, dan dahaga yang menyergapnya. ”Yang ada di kepala saya, bagaimana caranya saya bisa pulang ke rumah di kawasan Tanjung Duren, Jakarta Barat,” ujarnya.

Syukurlah, mobil boks milik Harian Suara Pembaruan lewat. Serta-merta ia menumpang hingga ke kawasan Puri Indah, Jakarta Barat. ”Dari situ, saya naik ojek sampai rumah,” kisahnya lega. Ia baru tiba di rumah orangtuanya ketika mentari telah memasuki peraduannya. ”Mama saya menunggu di teras rumah sambil terus-menerus berdoa,” kisahnya dengan tatapan sayu.

Pengalaman yang memedihkan itu tak menyurutkan niatnya bekerja. ”Saya bertahan sampai dua tahun kemudian di perusahaan itu,” ucapnya.

Berhenti kerja
Tahun 2000, Lanny memutuskan berhenti bekerja. ”Saya tidak tahan melihat penyimpangan-penyimpangan di perusahaan itu,” tegasnya. Lalu, Lanny mengisi kesehariannya dengan membantu ibu dan adiknya berdagang di Pasar Kopro, Tanjung Duren, Jakarta Barat. Di celah-celah waktu, ia bergabung dalam Persekutuan Doa St Rafael di kawasan Tomang, Jakarta Barat.

Seiring waktu, keinginan hidup mandiri menjejali batinnya. ”Sejak lahir, saya terus tinggal di rumah orangtua,” ungkapnya. Keinginan itu meruncing karena kakak dan adiknya juga tinggal seatap dengan orangtuanya. Tak jarang friksi bersenggolan di antara mereka.

Di kala batinnya letih, Lanny mengobatinya dengan ikut retret. Belakangan Lanny mengonsultasikan keinginannya itu kepada seorang pastor. ”Ternyata, tidak apa-apa saya tinggal sendiri asalkan ada yang menemani orangtua saya,” kilahnya.

Tahun 2001, Lanny mantap hendak tinggal sendiri. Sebelum pindah rumah, ia terus berdoa agar Tuhan berkenan memberikan sebuah rumah yang layak ia huni. ”Rumah yang dekat dengan gereja, pasar, dan mudah dijangkau dengan kendaraan umum,” tambahnya.

Doa-doa Lanny terjawab. Ia mendapat rumah mungil sederhana. ”Rumah ini saya peroleh dengan lancar tanpa hambatan,” katanya seraya tersenyum. Di rumah ini, ia bisa menuai privasi yang selama bertahun-tahun ia dambakan. ”Saya tinggal sendiri di rumah ini,” katanya saat ditemui di rumahnya di kawasan Serpong, Tangerang, Rabu, 13/12/2006.

Menjaring pelanggan
Sejak tinggal sendiri, Lanny menjadi sub agen koran. Awalnya, ia membantu seorang agen di kawasan Pondok Jagung, Tangerang. Ternyata, tak mudah menjaring pelanggan. ”Saya mendatangi rumah kenalan-kenalan satu per satu untuk menawari langganan koran. Tapi, susah sekali mendapat pelanggan,” ungkapnya.

Seiring waktu, pelanggannya tak kunjung bertambah. Bahkan, cenderung keluar masuk. ”Saat ini hanya ada 18 pelanggan yang saya layani,” tukasnya. Perolehan yang ia terima tak sebanding dengan upaya yang ia lakukan. Terlebih, ia harus mengayuh sepeda di pagi buta.

Lanny pun memutar otaknya agar dapur di rumahnya terus mengepul. Ia mulai membikin kudapan ringan untuk dijual di pasar.

Karena Lanny aktif di Legio Maria Paroki St Monika Serpong dan Kelompok Lansia Servio, keterampilannya membikin kue pun diketahui di lingkungan Gereja. ”Jika ada acara-acara di gereja, saya sering mendapat pesanan kue-kue,” ujarnya.

Tidak laku
Jika tidak ada pesanan dari Gereja, setiap hari Lanny membuat kue-kue dari ubi kayu: 25 potong combro, 25 potong misro, dan 15 potong ketimus. Sejak malam hari ia sudah menyiangi bahan-bahannya sendirian. ”Baru di pagi hari saya menggorengnya,” imbuhnya.

Namun, tak setiap hari hasil jerih-payahnya itu laku. ”Pernah dari dua puluh empat potong kue, hanya laku empat potong,” keluhnya. Situasi demikian tak jarang membuat semangatnya luruh. Namun, sahabat-sahabatnya di lingkungan Gereja selalu memompa semangatnya sehingga ia tetap berusaha. ”Betapa berartinya sahabat dalam hidup saya,” tegasnya.

Keuntungan yang ia peroleh pun bergelombang. Tak jarang ia menangguk rugi. ”Kalau kue-kue sedang tidak laku, saya bagikan saja kepada kenalan-kenalan.” Cara itu bisa menjadi penawar kekecewaannya.

Dalam kondisi ekonomi tak menentu, Lanny makin bersandar pada Tuhan. ”Nyatanya, selalu ada rezeki datang,” ujarnya. Pertolongan Tuhan sungguh ia rasakan bila keuangannya sedang paceklik.

Meski hidupnya jauh dari kelimpahan, Lanny sungguh bersyukur, ”Tuhan menganugerahkan kesehatan kepada saya.” Nyatanya, di usianya yang mulai senja, ia masih sanggup mengayuh sepeda berkilo-kilometer, meloperi koran…

Maria Etty

(Sumber Majalah HIDUP, Edisi No. 2 Tanggal 14 Januari 2007)

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*