Artikel Terbaru

Chatarina Kadarsih: Hidup untuk Berbagi

Melayani: Chatarina Kadarsih (berbaju coklat) bersama ibu-ibu separokinya, ditemani RD Ign Wuryanto Jayasewaya bekerja bakti di pemakaman Seminari Tinggi St Paulus Kentungan Yogyakarta tiap Selasa pagi.
[H. Bambang S.]
Chatarina Kadarsih: Hidup untuk Berbagi
5 (100%) 1 vote

HIDUPKATOLIK.com – Bagi Bu Wi, hidup dan harta benda hanyalah titipan Tuhan. Setelah suaminya, dr Paulus Wiyono wafat, rumah peninggalan sang suami dipersembahkan bagi kepentingan Gereja.

Chatarina Kadarsih (72 tahun), menikah dengan Paulus Wiyono pada 1967. Suaminya berprofesi sebagai dokter penyakit dalam di RS Panti Rapih, yang kemudian ditempatkan di RS St Elisabeth Ganjuran, Bantul, Yogyakarta. Suaminya juga membantu pelayanan di RS Panti Rini Kalasan, Sleman. Kala itu, Bu Wi, sapaannya, dan suami menempati rumah di Bantul, sebelum akhirnya pindah ke Kampung Bangirejo, Yogyakarta.

Tahun 2006, sang suami meninggal karena kanker darah. Sejak saat itu, rumah di Bangirejo yang dibangun di atas tanah seluas 1.000 meter persegi dihibahkan pada Keuskupan Agung Semarang (KAS).

Proses hibah tanah dan bangunan sudah dilakukan lewat notaris di Yogyakarta, ketika peringatan 40 hari wafatnya sang suami. Meski secara hukum rumah telah dihibahkan pada KAS, tapi penyerahan sertifikat belum dilakukan. Hal itu menunggu kelak Bu Wi sudah dipanggil Tuhan, yakni ketika peringatan 1.000 harinya. Salah satu alasannya, Bu Wi berharap ketiga putrinya: Elisabeth Ika Wikantri, Catharina Triwikatmani, dan Ivonne Dewikarini selalu mendoakannya hingga 1.000 hari kematiannya.

Tempat Berkumpul
Bu Wi terlahir bukan dari keluarga Katolik. Bungsu dari sepuluh bersaudara ini dibaptis pada 1958 di Gereja St Isodorus Sukorejo, Kendal, Jawa Tengah. Saat itu, ia duduk di kelas 3 SMP.

Sejak remaja hingga usia senja, lulusan SGA Stella Duce Sabirin Yogyakarta ini rajin mengikuti Misa harian. Selain itu, ia berdevosi pada Hati Kudus Yesus. Bahkan di halaman tempat tinggalnya kini, dibangun tempat doa yang dilengkapi patung Yesus. “Ini untuk mengingatkan saya saja bahwa Yesus selalu mencintai saya,” ucapnya.

Dengan keyakinan Yesus mencintainya, ia berharap bisa mencintai dan berbagi pada sesama. Salah satunya, rumah yang ia diami. Rumah itu dihibahkan pada KAS sebagai wujud nyata berbagi pada sesama.

Saban hari, rumah itu hampir tak pernah lengang. Berbagai kegiatan dilakukan di tempat, yang dihiasi aneka pohon dan tanaman bunga itu. Latihan paduan suara bagi Ikatan Istri Dokter Indonesia (IIDI) Cabang Yogyakarta digelar di situ. “Kami latihan di rumah ini sejak anak-anak masih kecil hingga sekarang saya sudah memiliki sembilan cucu,” tuturnya.

Rumah Bu Wi acapkali digunakan untuk pendalaman iman bagi Kelompok Ibu-ibu Katolik Universitas Gadjah Mada (UGM). Pasalnya, mendiang suaminya sempat menjadi dosen di Fakultas Kedokteran UGM Yogyakarta.

Tempat yang sering dimanfaatkan untuk aktivitas berbagai komunitas itu terletak di halaman rumah Bu Wi. Ruangannya terbuka tanpa pintu. Dulu, ketika suaminya masih hidup, ruangan itu dimanfaatkan untuk kamar tidur, kamar mandi, dan garasi. Namun sejak akan digunakan untuk peringatan 1.000 hari wafatnya sang suami, ruangan lantas direhab terbuka. Hal ini dimaksudkan agar ruangan mampu menampung lebih banyak orang.

Usai acara 1.000 hari, ruangan seluas 20 x 6 meter itu akhirnya rutin digunakan sebagai tempat berkumpul para ibu pemerhati calon imam dan penderita kanker. “Selain itu, ruangan tersebut juga digunakan untuk tempat kumpulan bagi teman-teman alumni SGA Stella Duce Yogyakarta, latihan koor lingkungan, devosi Maria, dan kumpulan ibu-ibu kampung,” ungkap Bu Wi.

Semua kegiatan yang dilaksanakan di rumahnya itu selalu diikuti Bu Wi. Bahkan, tak jarang ia masih aktif keluar rumah dan bergabung dalam kegiatan sosial IIDI UGM. Ia pun ambil bagian sebagai relawan di Yayasan Kanker Indonesia (YKI) Cabang Yogyakarta, yang diketuai Gusti Kanjeng Ratu Hemas. Sedangkan di kampungnya, Bu Wi aktif dalam kegiaatan lansia, dan bendahara RT 37/RW 10 Bangirejo.

Titipan Tuhan
Banyaknya kegiatan di rumah Bu Wi membuat rumah itu disebut “Rumah Kita”. “Karena siapa saja bisa menggunakan tempat ini,” ujar seorang umat lingkungan St Yusuf Bangirejo, Paroki St Albertus Magnus, Jetis.

Anak-anak dari keluarga kurang mampu juga sering tinggal di “Rumah Kita”. Rumah yang luas dengan 10 kamar, bisa menampung anak-anak yang dititipkan para pastor pada Bu Wi dan keluarganya. Bu Wi mengaku tidak keberatan dengan hal itu. Bu Wi justru senang bisa membantu orang lain, karena semasa ia dan suaminya studi, mereka dibiayai orang lain.

Berkaitan dengan penghibahan rumah pada Gereja, Bu Wi sebenarnya sudah lama merencanakannya, bahkan saat suaminya masih hidup. “Jadi, ini sudah persetujuan Bapak (suami-Red),” ujarnya.

Bu Wi berkisah, dulu sang suami suka berinvestasi tanah tatkala menjadi dosen dan bekerja di RS Panti Rapih. “Setelah mencari tanah, lalu dibangun rumah. Sehingga, ada rumah di beberapa tempat, melebihi jumlah anak kami,” ungkapnya.

Suatu hari, suaminya bertanya, rumah mana yang paling disukai Bu Wi. “Saya bilang yang di sini (Bangirejo-Red), karena letaknya dekat pasar dan tidak jauh dari gereja,” jawab Bu Wi kala itu. Ia dan belahan jiwanya itu pernah membicarakan rumah mereka yang jumlahnya berlebih.

“Ya, besok salah satunya bisa diserahkan ke panti asuhan atau ke keuskupan, gitu to Pak, supaya bisa dimanfaatkan siapa saja. Begitu ya..Pak?” bujuk Bu Wi. Rupanya, niat tulusnya untuk berbagi itu ditanggapi positif oleh suaminya.

Bu Wi menguntai syukur karena “Rumah Kita” sering digunakan untuk aneka kegiatan. Walaupun harus mengeluarkan tenaga untuk menata meja, kursi, atau menggelar karpet tebal untuk lesehan, Bu Wi melakukannya dengan rela hati.

Di ruang pertemuan itu, mantan guru SPG St Fransiskus Semarang, Jawa Tengah ini, menyediakan 70 kursi dan beberapa meja. Selain itu, ia menyiapkan karpet tebal yang siap digelar jika ingin berkegiatan sambil duduk lesehan. “Dengan kegiatan di sini, saya sendiri merasa beruntung karena tidak perlu banyak pergi. Lutut saya kan sudah sakit-sakitan dimakan umur,” ujarnya.

Kerelaannya untuk menghibahkan rumahnya mekar seiring dengan falsafah hidupnya. “Semua ini hanya titipan Tuhan yang harus kita pelihara dengan baik. Jadi, saya tidak merasa memiliki, karena semua ini peparing Gusti (pemberian Tuhan-Red),” tutur perempuan kelahiran Kendal, Jawa Tengah, 14 November 1941 ini saat ditemui pada Sabtu, 15/6.

“Kami sejak dulu hidup sederhana. Tidak punya cita-cita muluk. Sekadar menjalani hidup, ngglinding…mengalir saja. Wong urip kan sakdremo nglakoni (Hidup itu hanya sekadar menjalani-Red). Kalau sudah begini jadi sumeleh. Pasrah marang Gusti Allah (Pasrah pada Tuhan-Red),” tandasnya.

H. Bambang S.

(Sumber Majalah HIDUP, Edisi No. 2 Tanggal 14 Januari 2007)

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*