Artikel Terbaru

Fransiscus Maria Widayanto: Tanah Liat tak Menjanjikan Sesuatu

Di ruang pribadinya: F. Widayanto sejak kecil suka menggambar, membentuk-bentuk. Ia juga senang wayang orang dan wayang kulit.
[HIDUP/Maria E. Yasinta]
Fransiscus Maria Widayanto: Tanah Liat tak Menjanjikan Sesuatu
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Tidak seperti anak seusianya saat itu. Sejak kecil ia suka menggambar, membentuk-bentuk, pergi ke museum, senang dengan keris, wayang orang, dan wayang kulit. Sebaliknya, ia tidak suka berhitung.

Itulah sosok Fransiscus Maria Widayanto, seniman keramik kelahiran Jakarta, 23 Januari 1953. Selain berhitung, ia juga tidak menyukai bentuk yang kaku formal, gedung-gedung pemerintah, dan seragam. ”Yang membuat saya senang sekolah adalah teman. Bukan pelajaran dan guru-gurunya. Itu sangat tidak menyenangkan buat saya,” lanjutnya.

Lulus SMA, Yanto berencana melanjutkan kuliah di Jerman. Namun, keinginannya tidak bisa terpenuhi. Karena, tahun 1972 terjadi penciutan mahasiswa Indonesia untuk belajar di Jerman. Tahun 1973, ia memutuskan belajar di Institut Teknologi Bandung (ITB). Meski diterima, tapi ia tidak mau kuliah tahun itu. Tahun 1974, ia mendaftar tes lagi di ITB dan diterima.

Satu setengah tahun kemudian, ia memilih Jurusan Keramik Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB.”Suatu ilmu yang sama sekali saya gak tahu. Tadinya mau melukis. Tapi, ternyata tiap hari saya sudah menggambar terus,” jelas pria yang mengadakan pameran Loro Blonyo tahun 1990. Tahun 1981, ia lulus dari Jurusan Keramik. Keinginannya melihat dunia luar muncul kembali. Ia ingin pergi ke Eropa. Namun, keinginan lainnya yang terwujud. Yaitu, memiliki studio keramik.

Ketika lulus 1981, ia mendapat kesempatan memamerkan tugas terakhirnya di Erasmus. ”Saya dapat sambutan baik. Saya yakin, banyak yang menyukai produk saya, lukisan, dan keramik-keramik,” katanya. Berawal dari pameran itu, ia membuat workshop keramik kecil di Pasir Angin Bogor, Jawa Barat dan mengadakan berbagai pameran. Karena kepercayaan dirinya bertambah, ia mulai membuat barang-barang untuk dipakai dan karya seni. Lalu, orang mulai mengenal karya-karyanya.

Menghargai proses
Dari tahun 1983 hingga 1990, manajemen perusahaannya tidak baik, bahkan akhirnya perusahaan itu bubar.”Tapi, saya yakin produk saya banyak disukai orang. Tahun 1991, saya mulai berdiri sendiri dengan nama perusahaan PT Widayanto Citra Tembikarindo hingga sekarang,” ujarnya.

Baginya, tanah liat memberikan tantangan lebih banyak. ”Tanah liat yang masih gak jelas, harus dibentuk dengan teknik tertentu, harus dikeringkan, dibakar, dan diglasir,” urainya. Proses itu sendiri butuh waktu lama dan pengetahuan yang cukup banyak. Bahkan, jika keramik itu pecah saat pembakaran, ia harus mengulang kembali dari awal. Proses pembakaran merupakan salah satu keistimewaan pembuatan keramik dari tanah liat.

Proses itu juga terjadi dalam hidup.”Sama seperti hidup juga, kita berusaha yang terbaik tapi kadang-kadang hasilnya tidak sesuai dengan yang kita harapkan. Kita harus ulang lagi. Kita tetap gak boleh patah hati,” tegasnya. ”Tanah liat tidak menjanjikan sesuatu,” imbuhnya.

Barang-barang yang lain bisa hancur. Kalau keramik begitu ia ditempa dibakar, ia akan menjadi kuat. Bagi Yanto, hal itu adalah sebuah misteri.”Sama seperti hidup. Buat saya, hidup juga sebuah misteri. Hidup tidak menjanjikan tapi meminta perjuangan. Tanah mempunyai nilai yang sangat berarti buat saya,” ungkap pria yang pernah mengajar di Jurusan Keramik, Institut Kesenian Jakarta ini.

Baginya, menggambar dan karakter adalah dua hal yang tidak terpisahkan. Seperti tanah, ia juga memiliki karakter. Karena itu, ia selalu memperlihatkan karakter tanah dalam karya-karyanya. ”Karakter tanah itu harus kelihatan. Sama seperti orang, kita juga harus menghargai sebuah karakter. Kita tidak boleh mengubah karakter,” ujarnya.

Widayanto juga senang bepergian dan membaca tradisi. Tradisi itu penting untuk diketengahkan. Meskipun orang dari berbagai latar belakang yang sama, namun jika pikirannya berbeda, pencetusannya pun akan berbeda. ”Saya banyak mengetengahkan nilai-nilai budaya Jawa dalam keramik saya,” katanya.

Dalam setiap karyanya, Yanto juga menggunakan unsur flora fauna, antara lain dengan menggabungkan keramik dengan rotan, kayu, bambu, logam, dan tali-temali.

Boleh dikatakan, keramik karya Widayanto merupakan karya individual. Artinya, tidak akan didapati karya lain yang sama. Semua karyanya dibuat secara manual atau dengan tangan dari proses awal hingga akhir.

Selalu meniru
Menurut Yanto, perkembangan keramik saat ini tidak menggembirakan. Karya keramik masih belum bisa dianggap fashion. ”Keadaan di sini selalu meniru, selalu mengulang. Jadi, kita tidak memiliki seorang kreator di bidang keahlian keramik,” jelasnya. Pengalaman itu telah dialaminya saat produk-produknya dibajak tahun 2000. Ia sedih hal itu menimpanya.

Ia juga melihat, para perajin saat ini hanya melihat apa yang laku di pasaran. Tetapi, mereka tidak berani menciptakan karya-karya baru. Ia juga prihatin akan anggapan bahwa keramik masih dianggap sebagai kerajinan saja.

Satu usaha untuk melindungi karya-karyanya adalah dengan selalu membuat sesuatu yang baru. Meski demikian, gangguan tetap ada. Bahkan, ada pengusaha yang mengambil staf atau perajinnya. ”Penjiplakan-penjiplakan ini menunjukkan, mental perajin kita itu gak mau susah-susah. Mereka tidak ingin mengembangkan konsep mereka, tapi hanya berpikir apa yang laku dan menirunya,” urainya. Menurut dia, hal ini tidak sehat karena mereka tidak mau capai dan mau gampang saja.

Keberhasilan Widayanto sebagai keramikus Indonesia saat ini karena orangtuanya memberikan kebebasan.”Orangtua memberikan kebebasan budaya, sikap bekerja, dan pandangan hidup. Itu modal penting,” tegasnya. Namun sisi lain, relasi, kepercayaan, ide, kesempatan untuk berpameran yang memberinya dorongan.

Bukan orang ritual
”Saya bukan orang ritual,” tegasnya ketika ia ditanya tentang kehidupan rohaninya. Dulu orangtuanya sangat disiplin. Tapi, dalam perjalanan hidupnya, pekerjaannya, ia merasa bahwa bisa berkomunikasi dengan Yang di Atas jauh lebih leluasa daripada hal-hal yang bersifat ritual.

Ia mencontohkan saat ia pergi ke gereja. ”Kalau di sini saya biasa di Gereja Santa Theresia. Sekarang orang kalau pergi ke gereja seperti mau pameran.” Di Tapos, ia bisa melakukan kontemplasi. Baginya, Tuhan ada di mana-mana.

Sebagai seorang Katolik, Widayanto menjelaskan, semangat kekatolikan itu bukan hanya di kulit atau di permukaan saja. Saat ia pergi ke gereja di Eropa, ia merasakan suasana, lingkungan, dekorasi, dan orang-orangnya sangat mendukung. Sehingga, orang bisa mengikuti Misa dengan khusyuk.”Kalau di sini bagaimana bisa khusyuk, bagaimana bisa berdoa, sementara di dalam sangat penuh, di luar pasang tenda, dan melihat pastor dari layar televisi,” paparnya.

”Saya senang berada dalam gereja walaupun sesepi-sepinya gereja itu saya suka. Banyak gereja-gereja yang sederhana, tapi suasananya jauh lebih khusyuk,” imbuhnya. Yanto tidak menyukai ritual dan formalitas agama yang terlalu mengekspresi diri.

Pria yang saat kecil bercita-cita menjadi dokter hewan ini mengaku, meneladani sosok Yesus dan Bunda Maria dalam hidupnya. Sejak kecil, Yanto dididik dalam tradisi dan nilai Katolik. Maka, ia senang melayani dan menjadi rendah. Keramikus dari keluarga Jawa ini dibaptis saat bayi. ”Ayah saya tidak memberi saya kesempatan lewat satu hari,” paparnya. Karena itu, ayahnya memberikan pesan agar di Kartu Tanda Penduduk (KTP) ia harus mencantumkan agama dan golongan darah.

Yanto mengaku bahagia menjadi seorang Katolik.”Saya bahagia menjadi orang Katolik. Saya gembira menjadi orang Katolik.” Karena ia merasakan banyak mendapat kesempatan, berpikir, melihat, dan merasakan banyak hal. Ia menuturkan, ”Betapa bebasnya kita sebagai orang Katolik mengekspresikan diri. Ini yang ingin saya katakan melalui karya saya.”

Fransiscus Maria Widayanto
Tempat & tanggal lahir: Jakarta, 23 Januari 1953
Pendidikan Terakhir: S1 Jurusan Keramik, Fakultas Seni Rupa dan Disain Institut Teknologi Bandung, lulus 1981

Pekerjaan:
– Pengelola studio keramik Marryan’s Clay Work, Ciawi, Bogor, 1983
– Pengelola studio keramik F. Widayanto Clay Statement, Tapos, Bogor, 1990
– Mengajar di Jurusan Keramik, Institut Kesenian Jakarta, 1990-1996

Karya-karya:
– Wadah Air (1987)
– Loro Blonyo (1990)
– Topeng (1990)
– Ganesha Ganeshi (1993)
– Ukelan (1994)
– Golekan (1997)
– Mother and Child (2000)
– Kendi-kendi (2000)
– Sanghyang Sri..Nyi Pohaci (2003)

Maria E. Yasinta

(Sumber Majalah HIDUP, Edisi No. 2 Tanggal 14 Januari 2007)

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*