Artikel Terbaru

Seabad SFIC di Indonesia: Mengasihi di Mana pun

Memberi wujud: Para suster SFIC pada perayaan seabad di Indonesia.
[NN/Dok.SFIC]
Seabad SFIC di Indonesia: Mengasihi di Mana pun
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Tinggal di rumah beratap daun yang nyaris roboh, dijalani para misionaris Kongregasi SFIC di Kalimantan Barat selama hampir setahun.

Muder Emerentiana van Thiel, Suster Alexia Hellings, Suster Fidelia Grassens, Suster Sylvestra van Grinsven, dan Suster Rogeria Vissers adalah misionaris pertama Kongregasi SFIC (Suster Fransiskus dari Perkandungan Tak Bernoda Bunda Suci Allah) yang menginjakkan kaki di Singkawang, Kalimantan Barat, 28 November 1906.

Kedatangan mereka atas permintaan Ordo Kapusin yang tiba setahun sebelumnya. Kedatangan suster-suster itu disambut dengan gembira oleh Mgr Pacificus Bos OFMCap dan para saudara Kapusin serta umat yang terheran-heran namun senang.

Tahun pertama, para suster menumpang di rumah Chang A. Kang, seorang guru agama. Rumahnya sederhana, beratap daun, kecil, dan nyaris roboh. ”Kami tidur di tempat yang sangat sederhana sehingga ketika bangun pagi tampak berbekas di wajah dan kulit, namun kami senang,” tulis Muder Emerentiana. Mereka menghayati semangat ibu pendiri: panggilan ini membawa kegembiraan, sehingga sungguh mampu mengasihi dan mewujudkan kasih di mana pun dan dalam situasi apa pun.

Mengajar keterampilan
Para suster memulai karyanya dengan mengajar keterampilan kepada putri-putri di Singkawang. Keterampilan yang berguna untuk hidup, merawat orang sakit, merawat dan menampung anak-anak yang dibuang atau tidak diinginkan kehadirannya oleh orangtua mereka. Para suster menyebut anak-anak ini sebagai ”anak misi” dan dirawat sampai dewasa dan bisa mandiri.

Banyak tantangan mereka alami. Keadaan cuaca yang jauh berbeda dari negara asalnya Belanda. Kesulitan bahasa juga seringkali membuat mereka harus menggunakan bahasaTarzan. Namun, itu semua tidak menyurutkan langkah mereka menebarkan Kerajaan Allah di Bumi Kalimantan Barat.

Alhasil, karya kasih terus berkembang, dengan bertambahnya jumlah misionaris yang datang untuk memperkuat tenaga yang sudah ada. Para suster menjelajah belantara Kalimantan sampai ke Sejiram, Benua Martinus di hulu Sungai Kapuas yang terletak ± 1.000 km dari Pontianak dan Laham – Tering di Kalimantan Timur. Namun, karya-karya di tempat tersebut tidak dilanjutkan setelah perang. Tahun 1910, para suster memperluas karya ke Pontianak setelah kedudukan misi dipindahkan dari Singkawang ke tempat tersebut.

Karya pelayanan yang ditangani semakin bertambah dan mengalami perkembangan, antara lain membuka sekolah-sekolah, menangani perawatan orang kusta (1917), mengelola dan berkarya di rumah sakit di Singkawang dan Pontianak, serta membuka asrama-asrama. Karya kasih juga terbuka bagi masyarakat yang tidak seiman. Misalnya, para suster pernah menampung dan merawat anak sultan dari suku Melayu di Pontianak.

Buah perjuangan kelima pionir, di samping semakin luasnya wilayah kerajaan-Nya juga telah menumbuhkan benih-benih panggilan di hati putri-putri di tanah misi. Tahun 1925, suster pertama Indonesia keturunan Tionghoa mengikrarkan kaul kekal di Veghel, Belanda. Setelah itu, menyusul calon-calon yang lain bergabung dengan SFIC.

Keganasan perang sempat membuat suster misionaris dan pribumi harus berpisah. Suster-suster pribumi harus mengungsi ke gunung. Tahun 1942, banyak religius ditawan oleh Jepang di kamp tahanan di Kuching, Malaysia. Sebanyak 64 orang misionaris SFIC ditawan di kamp. Penderitaan lahir batin mereka alami. Mereka dipaksa bekerja keras di kebun dan kekurangan makanan serta hidup dalam situasi mencekam. Hampir setiap hari mereka harus lari ke parit untuk berlindung dari pengeboman. Situasi di kamp tahanan meminta korban enam suster meninggal, sementara yang lain setelah perang selesai kembali ke misi lagi dan meneruskan karya kasih yang ditinggalkan selama mendekam di kamp tahanan.

Sejak para suster membuka pendidikan religius di Indonesia tahun 1949, banyak putri Tionghoa maupun Dayak masuk SFIC. Dengan bertambahnya jumlah suster pribumi, misionaris pun mulai surut. Setelah tahun 1967, persiapan menuju kemandirian dilaksanakan. Tahun 1977, pucuk pimpinan di Indonesia dipegang oleh suster pribumi. Status misi ditingkatkan menjadi Regio, kemudian menjadi Provinsi pada tahun 1985.

Menjelang usia satu abad, bekas tanah misi telah mengalami perkembangan. Benih-benih Kerajaan Allah yang ditanam para misionaris telah siap memperluas lahan bagi kerajaan-Nya.

Tanggapan kongregasi terhadap kebutuhan masyarakat dengan memperluas wilayah-wilayah kehadiran dapat dirasakan oleh umat di Kalbar pada umumnya. Kongregasi SFIC hadir dan berkarya di Keuskupan Agung Pontianak, Keuskupan Sanggau, Keuskupan Agung Jakarta, dan Keuskupan Agung Makassar, serta di misi Kenya-Afrika Timur. Sejak tahun 1997 sampai saat ini, Pemimpin General SFIC yang berkedudukan di Veghel – Belanda dijabat oleh Sr Accursia Widyarti, kelahiran Singkawang. Ini merupakan ladang yang cukup luas dengan jumlah anggota 122 orang.

Karya-karya yang ditangani Kongregasi SFIC antara lain bidang pendidikan formal maupun non formal, terlihat dengan kehadiran sekolah dari TK-SMA, asrama-asrama untuk menampung siswa/i maupun mahasiswi dengan kapasitas penghuni 100 – 200 orang yang hampir terdapat di setiap komunitas; bidang kesehatan dengan mengelola dan berkarya di Rumah Sakit Umum (St Antonius di Pontianak dan St Vincensius di Singkawang), RS Kusta dan balkesmas/poliklinik; dan bidang pastoral dengan peran serta di paroki/stasi.

Perayaan seabad
Tema perayaan seabad Kongregasi SFIC di Indonesia mengambil spiritualitas kongregasi ini, yaitu Hendaknya mereka semakin memberi wujud kepada Kerajaan Allah: kerajaan damai dan keadilan, bagi semua orang dan seluruh ciptaan. Rangkaian perayaan dimulai dengan Misa Maret 2004. Mulai saat itu semua unit karya: sekolah-sekolah, rumah sakit maupun asrama menyelenggarakan bermacam-macam kegiatan dalam rangka perayaan yubileum ini.

Perlombaan-perlombaan meliputi cerdas cermat tentang SFIC, olahraga, dan kesenian, serta kegiatan kebersihan/keindahan lingkungan. Unit pendidikan dan kesehatan: TK, SD, SMP, SMA dan rumah sakit, selain mengadakan kegiatan di masing-masing unit, juga mengadakan kegiatan bersama-sama di Singkawang, Februari 2006. Saat itu semua karyawan: petugas kebersihan, guru, suster, kepala sekolah, satpam, perawat, dokter, dsb berbaur menjadi satu keluarga besar tanpa pembedaan strata sosial.

Tarekat juga mengundang anak-anak yatim piatu dan cacat dari beberapa panti asuhan yang ada di Pontianak untuk merayakan pesta di biara pusat awal November 2006.

Untuk para anggota tarekat, diadakan pendalaman spiritualitas kongregasi dan refleksi peziarahan satu abad, ziarah ke makam para suster, dan pameran untuk umum tentang kehadiran dan karya-karya SFIC. Sedangkan untuk lebih mengetahui dan mendalami spiritualitas pendiri, diselenggarakan kuis yang melibatkan semua anggota.

Semua kegiatan dalam rangka satu abad kehadiran dan karya-karya di Kalimantan Barat ini berakhir dan berpuncak pada Perayaan Syukur bersama umat yang diselenggarakan di Pontianak, Minggu, 19 November dan di Singkawang, Minggu 26 November 2006.

Kongregasi SFIC
SFIC didirikan Suster Theresia van Miert, 19 September 1844 di Veghel, Belanda. Tanggal 24 April 1870, Kongregasi, Konstitusi, dan Peraturan Umum disahkan oleh Paus Pius IX. Dengan demikian, SFIC (Sororum Franciscalium ab Immaculata Conceptione a Beata Matre Dei)merupakan kongregasi religius dengan status kepausan dan Suster Theresia van Miert merupakan pendiri kongregasi.

Dari Veghel, Kongregasi SFIC berkembang ke seluruh dunia. Pada usia 12 tahun setelah pendiriannya, seiring dengan bertambahnya jumlah anggota, kongregasi mulai membuka biara-biara cabang di luar Veghel. Setelah melewati pesta emas, Veghel menjadi biara induk.

SFIC telah hadir dan berkarya di berbagai belahan dunia, antara lain Indonesia (1906), Filipina (1929), dan Tanzania (1925-1975). SFIC memiliki tiga provinsi Gerejawi, yakni Belanda, Indonesia, dan Filipina. Dari Filipina, berkembang ke Thailand (1982), Jepang (1989), dan memiliki regio di Filipina Selatan (2002) yang statusnya segera akan ditingkatkan menjadi provinsi. Dalam menanggapi keprihatinan global dan memacu corak internasionalitas dan solidaritas dalam kongregasi, sejak tahun 1994 ketiga provinsi Gerejawi SFIC membuka misi bersama di Kenya, Afrika Timur.

Andrea Goreta

(Sumber Majalah HIDUP Edisi No. 2, Minggu, 14 Januari 2007)

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*