Artikel Terbaru

Memberdayakan Kembali Komunitas Basis: Bagian Pertama

[brandnewz.com]
Memberdayakan Kembali Komunitas Basis: Bagian Pertama
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Tahun 2007 ini, Uskup Agung Jakarta Julius Kardinal Darmaatmadja SJ mengajak para pastor dan segenap umat KAJ lebih fokus memberdayakan Komunitas Basis. Perhatian pastoral diarahkan pada Komunitas Basis, di mana terdapat umat Katolik konkret yang masih saling mengenal dan berkomunikasi. Sebagai umat beriman, khususnya kaum awam, mereka saling membuka diri bagi siapa saja di lingkungannya dan pada golongan apapun yang berkehendak baik. Kekuatan dan ciri khas Komunitas Basis dapat memungkinkan anggotanya untuk tetap teguh dalam iman di tengah masyarakat yang ditandai pluralisme dalam hal suku, agama, dan budaya. Dengan semangat solidaritas, umat saling tolong menolong dalam hidup sehari-hari. Umat basis mencontohi cara hidup jemaat perdana.

Panggilan Kristiani umat basis menjadi nyata dalam masyarakat setempat, dalam hidup berdampingan dengan umat beragama lain dan juga memperhatikan orang miskin, tertindas, dan terlantar di lingkungan komunitasnya. Dengan memberi perhatian kepada orang miskin, seorang uskup berjanji, ”demi Tuhan menjumpai orang miskin dan tanpa tanah air, dan semua orang yang menderita kekurangan dengan baik hati dan bersikap murah hati terhadap mereka”(Deus Caritas Est, No 32).

Kultural
Tanpa mencontohi gerakan Komunitas Basis seperti di Amerika Latin atau di Eropa sekitar 1950 sampai 1960, umat Katolik di KAJ pun telah lama menjalani cara hidup umat basis. Keuskupan (KAJ) dibagi dalam bentuk paroki, dan paroki dibagi dalam bentuk lingkungan. Demikian pula terdapat banyak kelompok kategorial, bahkan untuk itu diperlukan seorang Vikep tersendiri.

Jadi, Komunitas Basis di KAJ bukanlah suatu hal yang baru, tetapi sesuatu yang telah ada, namun selama ini kurang diberdayakan. Komunitas Basis di KAJ, sangat kontekstual dan kultural, sesuai dengan adanya Rukun Tetangga (RT) dan Rukun Warga (RW) dalam sebuah kelurahan. Diharapkan agar penduduk di RW dan RT dapat hidup rukun, toleran, menjauhi konflik, masalah diselesaikan secara musyawarah dan mufakat sesuai dengan cita-cita budaya Indonesia. Namun kehidupan yang rukun dan harmonis belumlah cukup karena di balik itu masih tersimpan secara tersembunyi ”permusuhan dan perseteruan antar manusia, serta pencarian kambing hitam yang tiada habisnya” (Sindunata, Kambing Hitam, Teori Rene Girard, Jakarta: Gramedia, 2006, hal 353).

Nah, di tengah masyarakat yang menjalani kehidupan harmonis semu-romantik, kehadiran Komunitas Basis dalam bentuk Lingkungan (di Paroki) dan Kelompok Kategorial memberikan kesaksian nyata akan pelayanan kasih. Mengapa? Karena ”melaksanakan kasih bagi para janda dan yatim piatu, para tahanan, orang-orang sakit dan mereka yang kekurangan apa saja, termasuk hakekat Gereja seperti pelayanan sakramen-sakramen dan pewartaan Injil. Gereja tak dapat mengabaikan pelayanan kasih seperti juga pelayanan Sakramen-sakramen dan Sabda”(Deus Caritas Est, No 22). Banyak lingkungan di paroki KAJ telah melaksanakan semangat Komunitas Basis. Contoh, tugas pengurus lingkungan di Paroki Santo Matias Rasul, Kosambi, Jakarta Barat:

• Melaksanakan keputusan rapat Dewan Paroki.
• Mengusahakan keakraban persekutuan dan kerja sama di dalam lingkungannya.
• Mengikutsertakan umat lingkungan dalam suka duka warga-warganya, seperti pertunangan, perkawinan, sakit dan kematian.
• Memperhatikan orang-orang sakit dan bila perlu menyampaikannya kepada pastor paroki.
• Memperhatikan orang-orang lanjut usia atau jompo supaya tidak kesepian atau terlantar dan supaya kadang-kadang dapat menerima komuni.
• Memperhatikan keluarga-keluarga atau umat lingkungan yang menderita atau berkekurangan dan menyalurkan mereka kepada seksi terkait.
• Memperhatikan anak-anak supaya masuk Sekolah Katolik.

Jelaslah, kendati belum sempurna, semangat Komunitas Basis telah dijalankan di paroki-paroki selama ini. Untuk ke depan, tentu saja harus disempurnakan terutama sungguh dilaksanakan sehingga inkulturasi iman tidak hanya menyentuh lapisan superfisial, tetapi sungguh menyentuh seluruh pribadi manusia.

Gereja memang harus selalu tanya diri, dan terus-menerus memperbarui diri, sehingga ia berarti bagi masyarakatnya. Cita-cita Komunitas Basis tidak hanya dikerjakan seorang diri oleh ketua lingkungan, tetapi bersama-sama semua umat lingkungan. Dengan demikian ”kaum awam lebih terlibat dalam hidup menggereja. Kehidupan Gereja Purba dibangkitkan dalam masyarakat dan Komunitas Basis, sambil mengutamakan kesatuan gerejawi” (William Chang.Berteologi Pembebasan, Jakarta, Obor, 2005, hal 77).

Back to basic
Ajakan memberdayakan Komunitas Basis adalah ajakan untuk kembali menghayati kehidupan Gereja Para Rasul. Jadi, bukan hanya karena umat Katolik merasa terancam, bukan karena tuntutan reformasi dan demokrasi, bukan karena tuntutan memberantas KKN, bukan karena ekonomi Indonesia belum pulih, bukan karena eksklusivisme agama dan primordialisme daerah, bukan karena muncul budaya kekerasan, bukan karena umat Katolik Indonesia adalah minoritas dan sasaran kebencian dan lain sebagainya.

Semua faktor ini adalah pemicu untuk lebih meningkatkan pemberdayaan Komunitas Basis. Sebab, ”kita harus membaharui iman kita, kita harus mendasarkan diri pada dasar iman kita, yaitu Yesus. Kita lalu akan teringat bahwa Gereja sudah selama 200 tahun dianugerahi bagian dalam penderitaan Yesus sehingga mengalami kesulitan, tekanan dan kadang-kadang penganiayaan. Maka kalau kita mengalami kesulitan dan tekanan, hal itu justru akan membuktikan bahwa kita di jalan Yesus” (Franz Magnis-Suseno SJ, ”Di Tahun 2000 Umat Katolik Indonesia Melihat ke Depan”, dalam Spektrum, No 1, 2001, hal 59-60).

Rupanya selama ini kita sedikit terlena dengan pandangan triumfalistis. Kita terpesona ketika Paus merayakan Ekaristi di Stadion Senayan. Kita bangga memiliki katedral yang antik, kita gembira mendengar kabar ada menteri beragama Katolik, kita bangga dengan sekolah dan Perguruan Tinggi Katolik, kita kagum dengan Rumah Sakit besar Katolik. Kita memiliki pahlawan nasional dan tokoh Katolik di bidang politik, sosial, ekonomi dan budaya, dan setiap lima tahun sekali diadakan Sidang Agung Gereja Katolik Indonesia.

Titik acuan
Sementara itu kita rupanya agak lupa dengan hal-hal yang kecil, padahal ”kecil itu indah”. Untuk menganalisis situasi masyarakat, kita lebih mendengarkan pendapat ahli ilmu kemasyarakatan dan teolog ketimbang pendapat seorang pastor paroki yang berkecimpung dalam lumpur dan debu di paroki. Akibatnya, banyak kertas kerja dalam sidang-sidang terasa mengawang-awang dan tidak mem-bumi. Padahal, kalau mau memberdayakan Komunitas Basis, berarti kita harus kembali menempatkan paroki dan pastor paroki sebagai titik acuan refleksi dan aksi. Karena paroki memiliki lingkungan.

Tanpa pastor paroki (dan pastor kategorial), Komunitas Basis akan menjadi liar, tidak terkendali, melenceng, dan cenderung sesat. Maka memberdayakan Komunitas Basis berarti memberdayakan paroki. Ini adalah peringatan dini sebelum terlambat.

”Dengan kekuasaan kudus yang ada padanya, imam pejabat membentuk dan memimpin umat keimaman. Ia menyelenggarakan kurban Ekaristi atas nama Kristus, dan mempersembahkannya kepada Allah atas nama segenap umat. Sedangkan umat beriman, berkat imamat rajawi mereka, ikut serta dalam persembahan Ekaristi. Imamat itu mereka laksanakan dalam menyambut sakramen-sakramen, dalam berdoa dan bersyukur, dengan memberi kesaksian hidup suci, dengan pengikraran diri serta cinta kasih yang aktif” (LG, No 10).

Sementara itu, umat pun perlu dididik untuk menempatkan imam sebagai bagian dari hidup imannya. Imam bukan pemimpin organisasi. Imam perlu dilihat juga sebagai ”alter Christus”. Keluhan bahwa beberapa pastor paroki cenderung otoriter, mungkin ada benarnya. Tetapi rupanya keluhan tersebut datang dari umat yang melihat pastor sebagai pemimpin organisasi.

Bagi banyak awam yang cukup dewasa imannya, tidak ada keluhan seperti itu, atau sekurang-kurangnya itu masalah kecil saja. Jadi, memberdayakan Komunitas Basis harus dibarengi juga dengan memberdayakan umat agar menjadikam imam sebagai pastornya. Dengan begitu, kegiatan dan sepak terjang Komunitas Basis sekurang-kurangnya diketahui pastor paroki. Selalu ada dialog dan komunikasi antara umat basis dengan pastor paroki (pastor kategorial).

Memberdayakan Komunitas Basis berarti: kehidupan umat berdasarkan usaha, kegiatan, kreativitas, tanggungjawab sendiri dengan tetap berorientasi pada kebersamaan dengan pastor. Walaupun imam tidak ada, kerinduan akan adanya seorang imam adalah bagian hakiki dari kehidupan iman umat Komunitas Basis. Jadi memberdayakan Komunitas Basis bukan hanya karena takut nanti sewaktu imam tidak ada, ditangkap, dan masuk penjara. Tanpa kehadiran seorang imam pun, Komunitas Basis dapat berdikari, namun dalam pengharapan dan kerinduan akan hadirnya seorang imam.

Pelayanan
Sejak awal kepada umat hendaknya dijelaskan Komunitas Basis sebagai paguyuban, persekutuan, jemaat, Gereja, bukan organisasi. Semangat hidup bersaudara harus sungguh tertanam dalam diri umat. Maka menjadi ketua lingkungan atau pengurus kelompok kategorial bukanlah status, tetapi pelayanan.

Beberapa cara kerja organisasi mungkin dapat dipergunakan, tetapi tidak menentukan. Semua umat berpartisipasi aktif dan bersedia menjadi pengurus sesuai gilirannya. Orang harus merasa bangga terlibat dalam Komunitas Basis. Seorang guru besar atau politikus ulung harus bangga menjadi pengurus Komunitas Basis. Selama ini terkesan, seorang ilmuwan, ekonom atau politikus ulung yang dikenal di tingkat nasional, tidak pernah terlibat dalam aktivitas Komunitas Basis. Lalu refleksi apa yang dapat diharapkan dari mereka? Jelaslah, pandangan mereka tentang Gereja dan masyarakat, terkesan teoritis, mengawang-awang, hanya dari buku-buku dan tidak mendarat.

Padahal, keterlibatan langsung dalam kelompok kecil, turut membangun dari dalam, merasakan suka-duka Komunitas Basis, adalah pengalaman yang sangat berharga yang tidak sama dan tidak diperoleh dari buku-buku. Karena itu, sejak sekarang, kita hendaknya lebih mendengarkan pengalaman seorang ketua lingkungan, pemimpin kelompok buruh, kelompok nelayan, dan orang kecil.

Pastor Jacobus Tarigan Pr
Kepala Paroki Santo Matias Rasul, Kosambi, Jakarta Barat, alumnus Universitas Gregoriana, Roma

(Sumber Majalah HIDUP, Rubrik Mimbar, Edisi No. 2, Minggu, 14 Januari 2007)

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*