Artikel Terbaru

Suami Suka Berjudi

Suami Suka Berjudi
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comUsia saya 30 tahun. Lima tahun yang lalu, setelah berpacaran selama enam bulan saja, saya menikah secara Katolik dengan Gideon, seorang pemuda Protestan. Semula saya mengira dia pemuda baik-baik. Setelah menikah barulah saya tahu, dia sangat suka berjudi dan main perempuan. Dia suka ke lokalisasi WTS.

Kami belum punya anak. Relasi kami sama sekali tidak harmonis. Hanya sekitar sebulan dia bersikap sebagai suami yang baik, suami yang mau mencari nafkah dan tiap malam tidur di rumah. Setelah itu, selama masa perkawinan kami, dia jarang sekali pulang ke rumah. Dia hanya datang ke rumah saat kehabisan uang. Dalam situasi itu, dia selalu merengek-rengek meminta uang dari saya, kemudian pergi lagi untuk berjudi dan main perempuan.

Selama lima tahun itu pula saya sudah berusaha menyadarkan dia, agar dia bertobat dan kembali ke jalan yang benar. Biasanya dengan cara yang halus. Hanya kadang-kadang saja, saya menegur dengan cukup keras. Bila saya tegur dengan cara yang halus, dia pura-pura tidak mendengar. Bila saya tegur dengan keras, dia menantang, mengajak bercerai.

Menurut pastor, apa yang sebaiknya saya lakukan? Apakah saya boleh bercerai dari dia, bila dia sama sekali tidak mau dan tidak mampu bertobat?

Margareta-Lampung.

Drs Haryo Goeritno Msi:
YANG terkasih, Saudari Margareta! Saya ikut prihatin atas peristiwa yang Anda alami saat ini, berkaitan dengan perjalanan perkawinan Anda. Umumnya kita tidak membayangkan, ternyata perkawinan yang kita alami tidak seindah seperti waktu pacaran. Apalagi perkenalan atau jalinan cinta yang relatif singkat (enam bulan) ternyata tidak cukup untuk mengetahui secara lebih mendalam sifat dan kepribadian pasangan kita. Sekarang ini tampaknya Anda mengalami penyesalan dan kekecewaan atas keputusan pernikahan yang dulu Anda ambil.

Dalam menghadapi kehidupan ini, pada dasarnya kita berhadapan dengan permasalahan-permasalahan yang mau tidak mau dan/atau senang tidak senang harus berani mengambil keputusan. Keputusan yang diambil dapat dipastikan memiliki dampak atau risiko, baik kecil atau besar.

Pada waktu Anda menerima lamaran Gideon untuk menjadi istrinya, tentunya Anda sudah mempertimbangkan secara matang risiko yang akan dihadapi dalam membina rumah tangga, selain perbedaan agama. Namun, seandainya waktu Anda mengambil keputusan menikah, tidak didasarkan atas pertimbangan matang, maka Anda hanya mendasarkan atas perasaan atau emosi sesaat saja, atau boleh dikatakan Anda belum cukup dewasa dalam mempertimbangkan keputusan yang Anda ambil saat itu.

Sekarang Anda dihadapkan permasalahan yang hampir sama dengan pada waktu menerima lamaran Gideon, yaitu apakah pernikahan yang sudah berjalan lima tahun ini akan tetap dipertahankan atau bubar (bercerai). Untuk mengambil keputusan tersebut, kami menyarankan untuk mempertimbangkan secara matang. Jangan hanya mendasarkan emosi atau perasaan sesaat saja, sehingga tidak menimbulkan penyesalan atau kekecewaan di kemudian hari.

Langkah pertama yang harus dilakukan adalah membuat daftar inventarisasi (secara tertulis) keuntungan dan kerugian bila seandainya perkawinan dipertahankan atau sebaliknya bila dibubarkan (bercerai). Untuk membuat daftar tersebut, kita harus bersikap netral. Artinya, kita tidak mengarahkan pikiran hanya pada keinginan kita sendiri, misalnya kita tetap ingin bercerai.

Langkah kemudian, pertimbangkan risiko mana yang menguntungkan atau merugikan, yang dapat mempengaruhi kehidupan dan kebahagiaan kita selanjutnya, bila keputusan tersebut telah diambil.

Dampak yang menguntungkan bagi kebahagiaan kita, yang hendaknya menjadi pertimbangan keputusan. Apa yang sudah menjadi keputusan, tentunya jangan menjadikan kekecewaan atau penyesalan di kemudian hari.

Seandainya Anda masih mengalami kesulitan dalam membuat keputusan, saya sarankan untuk mendatangi psikolog keluarga yang ada di kota Anda. Mintalah pertolongan dan sarannya dalam mengambil keputusan apakah tetap mempertahankan perkawinan atau bercerai.

Tuhan memberkati.

Pastor Dr Al. Purwa Hadiwardoyo MSF:
Bu Margareta yang baik! Saya ikut prihatin dengan Ibu, yang sedang mengalami kesulitan besar dalam menghayati perkawinan dengan Bapak Gideon.

Berikut adalah beberapa gagasan yang dapat saya ungkapkan. Semoga gagasan-gagasan itu berguna bagi Ibu.

Pertama, lima tahun lalu Ibu, sebagai seorang Katolik, telah menikah secara Katolik dengan Bapak Gideon yang beragama Protestan. Secara hukum, tindakan Ibu itu sudah baik dan tepat. Dengan demikian perkawinan Ibu dengan dia merupakan perkawinan sah.

Kedua,
sayang, masa pacaran Ibu waktu itu terlalu singkat, sehingga Ibu belum cukup mengenal kepribadian calon suami. Dan Ibu memang sial, sebab ternyata dia bukan pemuda baik-baik seperti yang Ibu sangka. Itu barangkali akar masalah yang Ibu hadapi saat ini.

Ketiga, saat ini Ibu merasa susah dan tertekan oleh perilaku suami Ibu. Menurut Hukum Gereja Katolik, seseorang boleh ”pisah ranjang” bila telah mendapat izin dari pimpinan Gereja setempat, entah karena pasangannya terbukti berselingkuh, entah karena hidup bersama itu ”tidak lagi tertahankan”. Maka, berdasarkan ketentuan hukum tersebut, Ibu boleh saja mencoba meminta izin dari Bapak Uskup setempat, untuk hidup terpisah dari suami. Bila kelak Bapak Uskup mengizinkan, silakan Ibu hidup sendiri, terpisah dari suami. Hanya saja perlu Ibu ketahui, izin itu tidak membuka peluang ke arah perceraian secara Katolik. Maka, izin itu juga tidak membuka peluang bagi Ibu untuk menikah lagi dengan pria lain.

Keempat, kalau suatu saat justru Bapak Gideon yang menceraikan Ibu, secara sipil misalnya, Ibu diharap dapat bertahan hidup sendiri, tidak menikah lagi dengan orang lain. Sebab, kalau Bapak Gideon sudah dibaptis secara sah, dan kalau perkawinan Ibu dengan dia sungguh sah, perkawinan itu merupakan sebuah sakramen yang mengikat Ibu dengan Bapak Gideon seumur hidup.

Kelima, kalau sejak menikah lima tahun lalu, Ibu merasa sudah ada ”hal-hal yang kurang wajar” dalam diri Bapak Gideon, cobalah Ibu berkonsultasi dengan pastor paroki. Siapa tahu ada hal-hal yang membuat perkawinan Ibu dengan Bapak Gideon sebenarnya tidak sah sejak awal. Bila memang benar demikian, dengan bantuan pastor paroki, Ibu dapat meminta Lembaga Pengadilan Gereja di keuskupan, untuk meneliti perkawinan Ibu dengan seksama. Bila menurut Lembaga Pengadilan Gereja, perkawinan Ibu dengan Bapak Gideon terbukti tidak sah sejak awal, Ibu dapat menikah baik-baik dengan pria lain, yang lebih baik daripada Bapak Gideon. Tentu saja setelah perkawinan Ibu dengan dia sudah dibatalkan secara resmi oleh Lembaga Pengadilan Gereja.

Itulah beberapa gagasan yang dapat saya ungkapkan. Semoga berguna. Tuhan memberkati!

Drs Haryo Goeritno Msi/Dr Al. Purwo H. MSF

(Sumber Majalah HIDUP, Edisi No. 2 Tanggal 14 Januari 2007)

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*