Artikel Terbaru

Keuskupan Tanpa Uskup

Sumber Foto: seputarsemarang.com
Keuskupan Tanpa Uskup
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Perjalanan hidup semua orang dan komunitas dapat dilukiskan menyerupai kurva lonceng. Dia akan mengalami perjalanan hidup yang menaik, akhirnya sampai di puncak, dan kemudian menurun hingga ke dasar. Setiap individu dan institusi akan menjalani ’naik-turun’ ini. Tentu dengan beberapa variasinya di sana-sini. Tampaknya tidak ada seorang pun yang mampu menolak kepastian ini. Perjalanan sejarah Gereja selama dua ribu tahun pun mengikuti hukum ini.

Keniscayaan di atas ternyata bukan nasib yang tidak bisa kita kendalikan. Perjalanan naik-turun tadi ternyata bisa kita kelola. Gereja – dalam lingkup sejagat maupun lokal – sebaiknya sadar akan hal ini.

Gereja dengan beberapa fenomena yang ’tidak biasa’ – misalnya, beberapa keuskupan mengalami kekosongan pimpinan dalam jangka waktu yang panjang – mempunyai nuansa tersendiri bila didekati dengan keterangan tadi. Apa pun argumennya, kosongnya takhta kepemimpinan semacam itu adalah gejala ketidaksigapan institusi membarui diri. Terkadang ini merupakan situasi krisis.

Situasi krisis bisa membawa pada dua situasi: peluang atau bahaya. Dengan kata lain, Gereja Keuskupan ini memiliki dua kemungkinan. Akan segera naik, mengikuti grafik mendaki ’kurva lonceng’. Atau, dia justru akan turun menelusuri lembah dan berakhir di jurang dalam.

Di antara dua pilihan tadi, tentu orang-orang di keuskupan tersebut lebih memilih kemungkinan pertama. Pada titik tertentu, secara terencana, lembaga ini ingin membuat perjalanan naik dalam kurva lonceng yang baru. Soalnya, pilihan ini tidaklah sesederhana yang dibayangkan. Ia membutuhkan beberapa persyaratan dan kondisi.

Hambatan mental yang langsung menghadang untuk melakukan ’pendakian baru’ adalah orang pada umumnya senang dengan jalan yang datar (atau, bahkan jalan menurun). Orang lebih nyaman dengan kebiasaan-kebiasaan lama. Tanpa sadar, kemudian mereka sebenarnya sedang menempuh jalan yang menurun. Baru mereka sadar ketika lembah dan jurang sudah ada di depan mata. Pada saat kelelahan dan mendekati putus asa inikah saat yang tepat bagi sebuah lembaga melakukan pendakian baru?

Jawaban pertanyaan tadi adalah ’negatif’. Pembaruan kerasulan dan pelayanan Gereja tidak dikerjakan ketika orang-orang di dalamnya sedang mengalami keletihan. Terobosan-terobosan baru juga tidak didorong ketika mental orang sedang mengalami kelesuan. Atau, ketika sumber daya material dan keuangan sedang morat-marit.

Sebaliknya, sebuah institusi – antara lain Gereja Keuskupan – hendak melukis kurva lonceng baru ketika semua orang sedang bergairah. Ketika mereka memiliki sumber daya yang besar untuk mendorong perubahan. Ketika mereka masih menyimpan kekuatan besar untuk melawan segala bentuk tantangan.

Lebih spesifik lagi, sebuah lembaga mulai merencanakan pembaruan justru ketika puncak sudah ada di depan mata. Sambil melanjutkan dan menuntaskan rencana dan sasaran yang sudah digariskan, tikungan lain sudah harus dimulai. Belokan baru dibuat juga bukan pada saat puncak. Sesudah berada di puncak – dengan segala faktor yang mempengaruhinya – yang terjadi kemudian hanyalah grafik menurun.

Sebuah Gereja Lokal dengan persoalan yang kerap cukup kompleks, namun tidak disertai dengan kehadiran pimpinan, berada dalam situasi bahaya. Banyak keputusan strategis tidak bisa diambil, perjalanan hidup menjadi datar. Sedangkan kepemimpinan ad interim ini kerap kali merupakan ’klub’ yang terdiri dari orang-orang lama, dengan tenaga yang tinggal sisa-sisanya, bertugas hanya melanjutkan kebijakan lama (yang belum tentu masih relevan untuk kondisi sekarang). Inilah kompleksitas sebuah ’keuskupan tanpa uskup’.

Pelayanan dan kerasulan Gereja yang datar, ”itu-itu saja” dari tahun ke tahun, membuat komunitas di dalamnya tidak bergairah, tidak memiliki cadangan energi untuk melakukan kreativitas. Inilah situasi yang merupakan salah satu penyebab untuk menerangkan mengapa banyak Gereja Keuskupan yang hidup dan pelayanannya hanya suam-suam kuku.

Redaksi

(Sumber Majalah HIDUP, Edisi No. 2 Tanggal 14 Januari 2007)

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*