Artikel Terbaru

Menebar Kedamaian di Timor Leste

Sr Yustina Maria Santos ALMA
[NN]
Menebar Kedamaian di Timor Leste
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Ketika terjadi demonstrasi dan pembakaran besar-besaran di Timor Leste, April 2006, Sr Yustina Maria Santos ALMA memberanikan diri berada di antara pihak-pihak yang saling bertikai.

Di tengah desingan peluru dan dentuman meriam, suster yang energik ini mengajak orang-orang yang sedang terbalut emosi itu untuk menghentikan aksi-aksi tak berperikemanusiaan. Akibatnya, nyawanya pun nyaris melayang terkena peluru. Namun, ia tetap melakukan tindakan yang sangat berisiko tersebut.

Bersama kedua temannya Sr Natalia Ati ALMA dan Sr Florensia Hokeng ALMA, Sr Yustin, begitu ia biasa disapa, tetap setia melayani korban-korban yang terluka karena terkena tembakan. Dan, ia berusaha menenangkan pihak-pihak yang saling menembak dan membunuh.

”Saya berusaha mendekati kedua belah pihak dan mengajak mereka menghentikan aksi baku tembak dan saling membunuh,” ujarnya. Sr Yustin berusaha merangkul dan tidak membeda-bedakan mereka. ”Karena mereka bukan Lorosae atau Loromanu, tapi orang Timor Leste, sesama saudara. Bukan musuh yang harus dibasmi,” tegasnya.

Akibat pemecatan
Kerusuhan di Timor Leste itu bermula dari tindakan mantan Perdana Menteri Timor Leste Mari Alkatiri memecat 591 tentara karena dinilai membangkang dan tidak setia pada tugas. Kebanyakan tentara yang dipecat tersebut berasal dari Timor Leste bagian Barat atau sering disebut Loromanu. Hanya beberapa orang saja yang berasal dari Timur atau Lorosae.

Pemecatan tersebut menimbulkan ketidakpuasan sehingga menyulut demonstrasi pada 28 April 2006. Kemudian para tentara yang dipecat itu meninggalkan asrama tentara dengan membawa senjata dan bersembunyi di hutan. Di bawah pimpinan Mayor Alfrede Alves Reinaldo, tentara-tentara pecatan ini menyusun kekuatan. Lalu, pada 23 Mei 2006 mereka memasuki Kota Dili dan melakukan kontak senjata dengan tentara pemerintah.

Pertempuran antara tentara pemberontak dan tentara pemerintah ini menyebabkan Kota Dili mencekam. Ribuan warga mengungsi ke gunung dan hutan. Mereka juga mengungsi ke gereja dan biara-biara. Sementara itu terjadi pembakaran rumah dan gedung pemerintah serta penjarahan toko-toko. Pemuda-pemuda saling berkejaran di jalan raya. Anak-anak menangis mencari orangtuanya. Begitu juga para ibu histeris mencari anak-anaknya.

Tragedi berdarah tahun 1999 seakan terulang kembali. Trauma perang saudara antara pro kemerdekaan dan anti kemerdekaan, yang masih tersisa dalam ingatan masyarakat, kini terjadi lagi. Aksi saling membantai antarsesama warga merebak.

Situasi pun kian tak terkendali sewaktu masyarakat mulai mengelompokkan diri menurut daerah asal, yakni Lorosae (bagian Timur) dan Loromanu (bagian Barat). Pertempuran tak hanya terjadi antara tentara pemberontak dan tentara pemerintah, tetapi juga antara warga Lorosae dan Loromanu. Terjadi penculikan dan pembunuhan di antara sesama warga. Kedua pihak saling mengintai. Hari ini seorang warga Loromanu tertembak, besok seorang warga Lorosae juga tertembak. Aksi balas dendam menyebabkan kematian orang-orang tak berdosa, terutama anak-anak dan perempuan.

Kebencian dan aksi balas dendam antara warga Lorosae dan Loromanu ini menggugah para imam dan biarawati menyelamatkan warga yang saling menyerang dan membunuh. Mereka menerobos ke tengah medan pertempuran dan berusaha menyelamatkan yang terluka. Akibatnya, Pastor Mujon Pr tertembak di kakinya.

Ada pula pastor dan suster yang berusaha menampung orang-orang yang panik di biara mereka. Sebagian mengantar komuni kepada mereka yang sakit dan orang jompo di pengungsian. Suster Yustin ada di antara mereka.

Kekuatan doa
Sr Yustin keluar masuk hutan untuk mengunjungi pengungsi, terutama anak-anak cacat yang diungsikan ke hutan oleh orangtuanya.

Di Panti ALMA Dili, Sr Yustin menampung tiga anak cacat. Secara rutin, setiap minggu, ia melayani 31 anak cacat di rumah mereka di Kota Dili. Akibat pertikaian tersebut, ke-31 anak cacat tersebut mengungsi bersama orangtuanya ke hutan. Sr Yustin pun berusaha mencari anak-anak itu.

Tanggal 15/6/2006 pukul 08.00 waktu setempat, Sr Yustin hendak pergi ke hutan di sekitar Kota Dili untuk mengantar makanan, pakaian, dan obat-obatan bagi anak-anak cacat itu. Ketika hendak keluar dari komunitas ALMA, tiba-tiba terdengar tembakan bertubi-tubi di sekitar rumah mereka. Bahkan, peluru hampir mengenai atap rumah mereka. Saat itu, orang-orang saling berkejaran di sekitarnya.

Dalam kondisi demikian, Sr Yustin berpaling pada Bunda Maria. Ia menunda keberangkatannya dan masuk ke biliknya. Lalu, ia menyalakan lilin di hadapan arca Bunda Maria. Sementara Sr Natalia mendekap salib Yesus erat-erat sambil berdoa, Sr Yustin memohon perlindungan Bunda Maria. Ia meminta agar Bunda Maria berkenan melembutkan hati orang-orang yang sedang saling tembak agar mereka menghentikan aksinya.

Ketika sedang berdoa, Sr Yustin seakan melihat Bunda Maria menatapnya dalam-dalam. Ia merasa patung Maria di depannya berbicara kepadanya. Seketika ia merasa dikuatkan pergi ke hutan menemui anak-anak cacat binaannya. Sementara itu, orang-orang yang berkejaran dan saling menembak itu makin menjauh dari rumah mereka. ”Saya yakin, Bunda Maria menguatkan hati saya untuk pergi ke hutan dan melembutkan hati orang-orang yang saling menembak itu sehingga mereka meninggalkan rumah kami,” kenangnya.

Setelah menuntaskan doa rosario, Sr Yustin mulai melangkah ke hutan. Ternyata, ia harus menghadapi tantangan lainnya. Langkahnya terhenti oleh sekelompok orang yang mengenakan penutup kepala berwarna hitam. Mereka memegang parang dan panah beracun. Mereka memaksa Sr Yustin menjawab pertanyaan mereka. ”Kamu dari kelompok mana?”

Karena terdesak, Sr Yustin mengeluarkan rosario dari saku jubahnya. Sejenak ia berdoa dalam hati. Kelompok itu tampak tertegun menyaksikan tindakan Sr Yustin. ”Ketika saya mengangkat muka, mereka sudah tidak ada lagi entah ke mana. Saya heran, begitu cepat mereka pergi. Saya yakin, Bunda Maria melindungi saya dari orang-orang tak dikenal itu,” ungkapnya.

Kemudian Sr Yustin melanjutkan perjalanannya. Akhirnya, ia berhasil menjumpai anak-anak cacat bersama orangtua mereka. Lalu, ia segera membagikan makanan, beras, dan obat-obatan. Ia juga mengajak mereka berdoa bersama.

Menampung semua
Tanggal 24/6/2006, pertempuran sengit berlangsung di Kota Dili. Rakyat pun berhamburan ke luar rumah. Masing-masing mencari tempat perlindungan. Ada yang memasuki komunitas ALMA Dili.

Sr Yustin bersama Sr Natalia dan Sr Florensia berusaha menyelamatkan puluhan orang tersebut yang dikejar-kejar sekelompok orang. Akibatnya, mereka dicurigai telah menyembunyikan orang-orang jahat. Kelompok pengejar itu berusaha memasuki Rumah ALMA Dili untuk memastikan siapa saja yang ditampung. Dengan suara keras, mereka berteriak-teriak, ”Serang… serang!” Sementara itu, mereka merangsek masuk.

Mendengar pekikan itu, Sr Yustin langsung menggendong anak-anak cacat dan menyelamatkan mereka ke rumah tetangga. Kemudian ia kembali menemui orang-orang itu. Ia mengatakan bahwa yang ditampung di Rumah ALMA adalah warga Lorosae dan Loromanu. Mendengar jawaban itu, kelompok itu langsung meninggalkan Rumah ALMA.

”Tadinya mereka mengira saya menampung musuh mereka. Padahal, saya menampung semua, baik dari Lorosae maupun dari Loromanu, karena mereka semua adalah saudara dan saudari saya,” tandas Sr Yustin.

Perjuangan Sr Yustin mendamaikan dua kelompok yang bertikai terus berlanjut. Hingga Oktober 2006, masih kerap terjadi bentrokan antara para pemuda dari Lorosae dan Loromanu. Bila ada kesempatan berjumpa dengan kelompok yang bertikai, Sr Yustin selalu mengajak mereka berdamai.

Sejak pecahnya pertempuran, April 2006 hingga sekarang, Sr Yustin tetap setia mendampingi para pemuda yang kerap baku lempar dan saling menganiaya. Tanggal 27/9/2006, tepat pada Pesta St Vincensius A Paulo, pelindung ALMA, Sr Yustin bersama Sr Natalia dan Sr Florensia serta para biarawati dari Kongregasi Suster-suster Cinta Kasih dari Yesus dan Maria Bunda Pertolongan Baik (KYM) Dili mengundang sekelompok pemuda dan sekelompok orangtua, baik dari Lorosae maupun Loromanu untuk merayakan Misa Syukur bersama.

Mereka menghimpun warga dari dua belah pihak yang masih sering bertikai itu untuk menunjukkan bahwa kebencian dan permusuhan hanya akan memecah-belah warga Timor Leste. ”Kami menghimpun mereka agar merajut kembali persaudaraan dan bersatu membangun Timor Leste tercinta,” tandas Sr Yustin.

Hermin Bere Pr

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*