Artikel Terbaru

Ignatius Bambang Sugiharto: Hati Punya Kecerdasan

Pengukuhan: Bambang Sugiarto saat menyampaikan pidato pengukuhan.
[HIDUP/Salomo Marbun]
Ignatius Bambang Sugiharto: Hati Punya Kecerdasan
5 (100%) 1 vote

HIDUPKATOLIK.com – Pernahkah Anda mendengar nama Blaise Pascal atau Henry Bergson? Keduanya berbicara tentang logika hati. Aliran tema itu akhirnya hinggap juga di pikiran Bambang.

Logika hati lebih mampu memahami kehidupan yang penuh kontradiksi. Artinya hidup dapat dipahami melalui logika biasa. Demikian Ignatius Bambang Sugiharto, akrab disapa Bambang, dosen Fakultas Filsafat Universitas Katolik Parahyangan (UNPAR) Bandung Jawa Barat, saat pengukuhannya sebagai Guru Besar Ilmu Filsafat di Bandung, 16/12/2006. ”Dari mereka saya belajar bahwa hati mempunyai kecerdasan sendiri,” timpalnya.

”Hati dapat memahami dan berbicara. Itu saya dapatkan dari pergaulan keluarga, bukan dari dunia akademis,” katanya. Persoalan hati yang dapat memahami dan berbicara akhirnya membawanya kepada filsafat seni, bahasa, dan kebudayaan.

Kesepian
Ketika mulai menekuni filsafat kebudayaan tahun 80-an, ia sempat merasakan kesepian karena filsafat di Indonesia banyak bertautan dengan kondisi sosial dan politik. ”Saya merasa ada wilayah tertentu yang belum banyak diolah, yaitu wilayah kebudayaan terutama masalah bahasa dan seni,” ujar kelahiran Tasikmalaya, 6 Maret 1956 ini.

Baginya, para pemikir Barat terlalu asyik membedakan seni tinggi dan seni rendah atau memandang seni untuk seni. ”Perilaku semacam itu terasa artifisial,” katanya.

”Seni memang mengandung refleksi, namun para pemikir Barat lupa dengan satu hakikat seni yaitu, merayakan kehidupan,” urai nya. Ia mencontohkan kehidupan mayoritas masyarakat di Bali yang menjadikan seni sebagai bagian hidup sehari-hari.

Dalam orasi ilmiahnya berjudul Seni, Ilmu Pengetahuan, dan Peradaban, ia mengatakan, seni sebagai tendensi kreatif umum akhirnya menghasilkan rasa ”keberadaban”, suatu tolok ukur umum evolusi kemanusiaan. Ia pun mengutip kata-kata seorang filsuf bernama Friedrich Schiller.

Schiller mengatakan dalam situasi hidup bersama yang dikelola rasa ”keindahan terdalam” peradaban adalah situasi di mana manusia sebagai roh semakin mampu memandang lebih dalam aspek kerohaniannya. Saat itu kekuasaan berubah menjadi kepedulian, nafsu menjadi komitmen cinta, hasrat menjadi solidaritas, sedangkan kerendahan hati dan belarasa menjadi sesuatu yang sangat mulia.

Bambang berharap pendidikan di Indonesia dapat menjadikan seni sebagai acuan pendidikan. ”Suasana pendidikan Indonesia saat ini dikuasai ilmu-ilmu pertukangan,” ujarnya.

Ia juga berpesan agar para orangtua tidak sekadar mendorong anaknya terampil saja dalam menciptakan karya seni, tapi harus sadar akan makna seni. ”Para orangtua harus tahu seni itu bukan sekadar dekorasi atau hiasan saja, tetapi soal pembentukan perasaan ke arah yang lebih tinggi yaitu pembiakan imajinasi dan pengalaman perasaan,” papar suami Anggraini Prawirakusumah ini.

Ayah dari dua anak ini juga prihatin terhadap fenomena pertelevisian yang menampilkan banyak sinetron kerohanian. Menurutnya, sinetron itu harus lebih menampilkan sisi pengalaman batin. Pengalaman itu didapat dari adegan yang menawarkan dilema kehidupan yang akan mengasah perasaan.

Filsafat kebudayaan yang mengandung seni dan bahasa, bukanlah hal baru bagi Bambang. Sejak SMA ia kerap menonton pameran di Galeri Soemardja, ITB. Darah seni yang mengalir pada Bambang dipercaya orang-orang dekatnya karena keturunan almarhum kakeknya yang menjadi pembatik dan niyogo (pemain gamelan Jawa) di Keraton Yogyakarta.

Dunia desain grafis pun dirambahnya. Ia sempat menjadi seorang desainer kaos untuk sebuah perusahaan kaos ternama, milik kawan karibnya di Bandung. Bambang banyak menghasilkan karya desain kaos, namun kini, ia lebih banyak menjadi penyeleksi desain yang cocok untuk penampilan sebuah kaos.

Kariernya sebagai pengajar dimulai sejak tahun 1984. Dua gelar sarjana yang diperoleh menghantarnya pada jenjang master dan doktoral di Universitas San Tomasso, Roma, Italia.

Guru Besar
Kesepian tak lagi dirasakannya seperti di saat awal Bambang mengangkat filsafat kebudayaan sebagai wacana filsafat yang layak untuk dipikirkan. Banyak seniman yang mengakui kepiawaian Bambang ketika harus mengangkat seni sebagai tema tulisannya.

Jim Supangkat mengungkapkan kekagumannya pada Bambang. ”Biasanya kesenian dibicarakan di emperan, di ruang studio, dan di ruang pameran, tapi kali ini dibicarakan di situasi yang formal,” ujar Jim. Dalam kesempatan yang sama, Jim dan beberapa seniman Bandung memberikan sebuah lukisan potret diri Bambang.

Perjuangan Bambang selama 22 tahun menekuni bidang filsafat ternyata telah membuahkan hasil yang manis. Kini ia boleh menempelkan gelar profesor di depan nama dan gelar doktornya. Istri dan kedua anaknya yang sering ditinggal pergi karena kesibukannya, akhirnya memaklumi pencapaian yang diraih Bambang. Kalung guru besar berwarna abu-abu yang disematkan di leher Bambang sepertinya akan menambah tanggung jawabnya dalam bidang akademis.

Salomo Marbun

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*