Artikel Terbaru

Pacaran dengan Wali Baptis

Sumber: [debretts.com]
Pacaran dengan Wali Baptis
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comKetika saya dibaptis, bapak guru agama saya menjadi wali baptis. Sekarang saya sudah kuliah. Dalam perjalanan waktu, saya jatuh cinta dan pacaran dengan guru agama saya, yang adalah wali baptis saya. Apakah hubungan kami ini bisa kami lanjutkan sampai ke pelaminan?

Fitri Indah, Yogyakarta

Fitri, tidak ada hambatan yang muncul dari pertalian rohani karena menjadi bapa baptis. Karena itu, silakan melanjutkan hubungan kalian ke tingkat perkawinan. Memang dulu, menurut hukum Gereja yang lama, pertalian rohani itu dipandang sebagai hambatan untuk menikah, tetapi menurut Hukum Gereja yang baru, pertalian rohani itu tidak menjadi hambatan. Hambatan muncul dari pertalian darah dan legal.

Saya menyaksikan di Filipina, para wali baptis menjadi begitu erat dengan orangtua anak yang dibaptis, bahkan dianggap seperti saudara. Apakah hal ini didasarkan pada ajaran Gereja atau hanya tradisi budaya? Mengapa di Indonesia tidak muncul keakraban seperti itu? Apakah tugas wali baptis?

Tidak ada ajaran Gereja yang mengatur hal tersebut. Apa yang terjadi di Filipina juga terjadi di banyak negara atau daerah yang mempunyai tradisi budaya Katolik yang kuat, misalnya di Italia, di Spanyol, Portugis, bahkan juga di Flores, dan Timor Timur. Relasi persaudaraan yang kuat antara orangtua dan wali baptis itu muncul dari keyakinan bahwa menjadi wali baptis berarti menjadi orangtua rohani dari anak (orang) yang dibaptis.

Karena itu, relasi mereka menjadi seperti relasi persaudaraan. Sedangkan tugas wali baptis pada umumnya ialah ikut serta bertanggung jawab untuk menumbuhkembangkan iman anak (orang) tersebut sebagai orang Kristiani. Tugas ini dilakukan bersama orangtua anak yang dibaptis, karena itu Gereja melarang orangtua anak (orang) yang dibaptis untuk menjadi wali baptis (bdk KHK kan 874,1,5). Dalam pembaptisan anak, wali baptis bersama orangtua mewakili iman anak untuk menanggapi pemberian rahmat yang dilimpahkan Tuhan (bdk KGK 1255).

Apakah ada persyaratan untuk menjadi wali baptis?

Karena tugas pokok wali baptis ialah membimbing sebagai orangtua rohani, maka persyaratan-persyaratannya mengalir dari butir ini: a) pertama-tama, menjadi wali baptis harus dengan tahu dan mau, artinya tidak boleh ada pemaksaan; penunjukan bisa dilakukan oleh calon baptis itu sendiri atau orangtuanya atau pastor paroki; b) berumur 16 tahun ke atas; c) sudah menerima Sakramen Baptis, Krisma, dan Komuni, serta mempraktikkan imannya sehingga dapat memberikan kesaksian iman dan bimbingan kepada anak baptisnya. Kalau menikah, pernikahannya harus beres sesuai dengan peraturan Gereja; d) tidak dijatuhi atau dinyatakan ternoda oleh suatu hukuman kanonik; e) bukan ayah atau ibu dari calon baptis (KHK kan 874, 1).

Apakah seorang suster atau frater atau imam boleh menjadi wali baptis?

Dalam hukum Gereja yang berlaku sekarang, tidak ada peraturan eksplisit tentang hal ini. Beberapa tarekat mempunyai peraturan yang melarang anggotanya menjadi wali baptis. Alasan yang diberikan ialah perpindahan tugas dari anggota tarekat tidak memungkinkan yang bersangkutan menjalankan tugasnya sebagai wali baptis dengan baik. Kiranya alasan tersebut cukup valid untuk dipertimbangkan.

Apakah wali baptis harus hadir dalam upacara pembaptisan?

Tidak harus, wali baptis boleh tidak hadir dalam upacara pembaptisan, tetapi harus selalu ada orang yang mewakili (proxy) pada saat upacara pembaptisan. Namun demikian, pastor yang membaptis atau pelayan baptis harus memastikan bahwa wali baptis yang tidak hadir itu memenuhi persyaratan seperti di atas. Kepastian ini hendaknya tidak didasarkan hanya pada informasi sepihak, tetapi didukung oleh bukti tertulis. Orangtua anak yang dibaptis juga boleh menjadi wakil wali baptis. Nama wali baptis itulah yang akan ditulis dalam buku baptis.

Dalam upacara pembaptisan, siapa yang seharusnya memegang anak (bayi) yang dibaptis, orangtua anak itu atau wali baptis?

Pilihan pertama tetap pada orangtua anak yang dibaptis, sebagai penanggung jawab utama atas perkembangan iman anak (bayi) tersebut. Saat pencurahan air baptis ke dahi anak (bayi), hendaknya wali baptis memegang kepala atau bahu anak (bayi) yang dibaptis.

Kontak fisik ini menandakan keikutsertaan wali baptis dalam memikul tanggung jawab atas iman anak tersebut dan dalam memberikan dukungan. Pada pembaptisan orang dewasa, wali baptis memegang pundak orang yang dibaptis pada saat pelaksanaan pencurahan air baptis ke dahi orang yang dibaptis.

Pastor Dr Petrus Maria Handoko CM

(Sumber Majalah HIDUP, Edisi No. 3 Tanggal 21 Januari 2007)

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*