Artikel Terbaru

Menderita, Tetapi Bahagia

Sumber Foto: www.hotel-r.net
Menderita, Tetapi Bahagia
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Seorang pekerja sosial dengan institusinya bekerja membangun masyarakat dengan segala jatuh bangunnya. Jatuh bangun? Lebih banyak jatuh, daripada bangunnya! Konon, mendampingi manusia untuk meningkatkan kualitas hidup lebih diwarnai pengalaman gagal, daripada berhasil. Ini merupakan indikasi bahwa dunia masyarakat bawah ini jauh dari dunia yang tenang dan nyaman.

Perkara praktis mengembangkan usaha kecil masyarakat kelas bawah ternyata dilandasi dan dilingkupi oleh konsep yang sangat filosofis. ’Kebebasan manusia’ itulah konsep filosofis yang dimaksud. Sarana dan tujuan pembangunan masyarakat selalu terkait dengan kebebasan yang seharusnya ada dalam diri orang-orang yang terlibat di dalamnya.

Agar seseorang mampu mengembangkan dirinya, dia membutuhkan atmosfer kebebasan. Seorang pedagang kaki lima kerap tidak bisa berkembang lebih dari itu. Juga kalau dia sudah bekerja sangat tekun dan keras. Ia dilingkupi oleh peraturan-peraturan ekonomi dan politik yang mengikatnya. Ia tidak bisa lepas dari jeratan ini.

Sebuah peluang yang satu dan sama dilihat baik oleh pedagang kecil maupun pebisnis. Yang pertama tidak mampu mengambil peluang karena tiadanya instrumen yang dibutuhkan. Sementara yang kedua dengan mudah merebutnya.

Kebebasan, lebih dari yang kerap dibayangkan orang, membuat orang lebih berbahagia dalam hidupnya. Jadi, kebebasan menjadi tujuan sekaligus sarana. Kebebasan membuat hidup menjadi lebih gembira, nyaman, dan cerah. Orang sekali pun miskin, jika memiliki kebebasan, dia berpotensi untuk hidup bahagia.

Jangan salah paham. Kebebasan tidak saja relevan untuk orang kecil. Orang kaya yang kebebasan untuk berbicaranya dirantai akan merasa ’sesak napas’. Nilai yang sangat mendasar yang seharusnya ia miliki dilucuti.

Kebebasan dengan demikian merupakan nilai universal. Semua orang – dengan berbagai peranan yang diambilnya – yang terlibat dalam pembangunan membutuhkan kebebasan. Lebih dari syarat, kebebasan itu membuat pembangunan menjadi lebih kaya.

Ada macam-macam kebebasan klasik yang merupakan sarana untuk pembangunan: politik, sarana ekonomi, peluang sosial, transparansi, dan keamanan. Hubungan satu sama lain yang saling melengkapi adalah bahan bakar pendorong pertumbuhan ekonomi.

Dalam peta global, kita bisa melihat nuansa fenomena di atas. Negara-negara yang memiliki pertumbuhan ekonomi tinggi ternyata tidak selalu diikuti kualitas hidup yang baik. Memang ada negara-negara dengan pertumbuhan ekonomi tinggi dengan kualitas hidup yang tinggi pula (Taiwan atau Korea Selatan), tetapi ada negara-negara yang memiliki kualitas hidup yang tetap rendah (Brazil).

Seorang penggerak pembangunan memiliki pergumulan yang kompleks. Dia selalu berada dalam tegangan: antara ekonomi dan kualitas hidup, antara keuangan yang mandiri dan kesehatan, antara hak politik dan rasa aman.

Semua penjelasan di atas tidak menutupi adanya realita lain. Kita menjumpai proses pembangunan yang berlangsung sebaliknya. Kita menyaksikan manusia yang bekerja untuk memperbaiki hidup di bawah iklim yang buas. Suasana ini terus-menerus ditandai dengan ’keringat, air mata, dan darah’.

Di awal, dikatakan pendampingan masyarakat ini banyak diwarnai ’jatuh’ daripada ’bangun’. Tidak salah untuk dikatakan ’penderitaan’ menjadi pengalaman yang banyak menaungi pergumulan ini. Tetapi, belajar dari ’orang besar’ penuh dedikasi dan cinta pada orang miskin, hidup mereka ternyata tidak diisi dengan frustrasi dan kepahitan. Cukup banyak para pengabdi kemanusiaan akhirnya sampai pada sebuah kedalaman. Mereka menyerap wisdom pengalaman spiritual orang kecil: menderita, tetapi bahagia.

Pergumulan dalam pekerjaan ini memang menggelisahkan, tetapi mampu menimbulkan perasaan puas dan bangga. Proses dekat dengan orang sederhana membuktikan bahwa lawan kata dari ’bahagia’ bukan ’menderita’. Lawan kata ’bahagia’ adalah ’sedih’. Dunia orang bawah mengajarkan kita kebijaksanaan yang revolusioner: menderita, tetapi bahagia. Semua orang Kristiani akan paham inti nilai ini.

Redaksi

(Sumber Majalah HIDUP, Edisi No. 3 Tanggal 21 Januari 2007)

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*