Artikel Terbaru

Keluarga dalam Perjanjian Lama

[bibleartists.wordpress.com]
Keluarga dalam Perjanjian Lama
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Keluarga Adam
Pria dan wanita ”pertama” yang diciptakan Allah adalah Adam dan Hawa. Setelah diberkati-Nya (Kej 1), keduanya ”menjadi satu daging” dan berada di Taman Eden (Kej 2). Mereka berdua semula sangat bahagia dan sejahtera.

Sayang, mereka berdua kemudian berbuat dosa. Adam dan Hawa harus hidup sengsara di luar Taman Eden (Kej 3).

Adam dan Hawa mempunyai dua anak laki-laki, Kain dan Habel. Kain kemudian membunuh Habel, adiknya sendiri. Karenanya, Kain mendapat hukuman dari Allah. Ia harus hidup sengsara sebagai pengembara (Kej 4).

Kisah keluarga ”pertama” mengungkapkan keyakinan penulisnya bahwa keluarga tersebut pada dasarnya terberkati oleh Allah, namun toh mengalami penderitaan karena dosa-dosa para anggotanya sendiri.

Keluarga Nuh
Suatu ketika, di tengah-tengah masyarakat manusia yang penuh dosa, ada seseorang yang tidak bercela di antara sesamanya dan akrab dengan Allah, yakni Nuh. Pria yang saleh itu punya tiga anak lelaki, yakni Sem, Yafet, dan Ham (Kej 5).

Karena dosa-dosa mereka, semua orang dilenyapkan Allah, kecuali Nuh dan keluarganya (Kej 6-9). Keluarga Nuh terdiri dari Nuh, istrinya, ketiga anak lelakinya, dan istri mereka masing-masing (Kej 7). Dari mereka itulah muncul generasi manusia baru, yang mengadakan sebuah perjanjian dengan Allah (Kej 9). Anak bungsu Nuh, yakni Ham, berbuat dosa terhadap ayahnya. Karena itu, ia dan keturunannya dikutuk oleh Nuh (Kej 9).

Kisah keluarga Nuh mengungkapkan keyakinan penulisnya bahwa keluarga tersebut merupakan satu-satunya keluarga yang dinilai Allah layak untuk diselamatkan dari murka-Nya. Meskipun demikian, keluarga tersebut bukanlah keluarga sempurna. Salah satu anggotanya berbuat tidak senonoh. Ia pantas dihukum.

Keluarga Abraham
Pada abad ke-19 SM, hiduplah seorang pria bernama Abram atau Abraham. Ia menikah dengan Sarai atau Sara. Atas perintah Allah, Abraham meninggalkan tanah leluhurnya, Ur-Kasdim, menuju Tanah Kanaan (Kej 12). Ia mengajak istrinya dan kemenakannya bernama Lot.

Karena mengira Sara tidak dapat menurunkan anak, Abraham menikahi Hagar, salah satu pembantu rumah tangganya. Hagar pun mengandung, lalu melahirkan seorang anak lelaki, yang dinamainya Ismael (Kej 16).

Kemampuan menurunkan anak bagi Abraham ternyata mendorong Hagar berubah sikap terhadap Sara, majikannya. Ia kurang menghormatinya. Syukurlah, hal itu tidak berlangsung lama, sebab akhirnya Sara juga mengandung, lalu melahirkan seorang anak lelaki, yang dinamainya Ishak (Kej 21). Keadaan berubah. Sekarang, Sara ganti kurang menghargai Hagar (Kej 21).

Kisah keluarga Abraham mengungkapkan keruwetan yang terjadi dalam sebuah perkawinan bersifat poligam. Kedua istri Abraham tidak dapat hidup berdampingan dengan rukun.

Keluarga Ishak
Sesuai dengan pesan Abraham, ayahnya, Ishak menikah dengan Ribka, seorang perawan yang tidak berasal dari Kanaan melainkan dari tanah air leluhur Abraham (Kej 24). Dari rahim Ribka, Ishak memperoleh dua anak lelaki, yakni Esau dan Yakub. Esau kemudian bertumbuh menjadi pemuda yang suka tinggal di padang dan pandai berburu, sedang Yakub menjadi pemuda yang tenang dan suka tinggal di kemah. Esau lebih disayangi ayahnya, sedang Yakub lebih disayangi ibunya (Kej 25).

Meskipun sebenarnya anak yang sulung adalah Esau, ia kehilangan hak sebagai anak sulung. Dengan beberapa cara, Yakub berhasil memperoleh hak tersebut (Kej 25). Hal tersebut membuat Esau menaruh dendam terhadap Yakub. Syukurlah, Yakub tidak jadi terbunuh, sebab ia dapat melarikan diri ke Mesopotamia (Kej 27-28).

Kisah keluarga Ishak mengungkapkan kemungkinan adanya sikap pilih kasih di dalam keluarga. Ayah mengasihi anak sulung, ibu mengasihi anak bungsu. Kisah itu juga mengungkapkan kemungkinan adanya konflik antara kakak dan adik kandung.

Keluarga Yakub
Suatu ketika, Yakub ingin menikahi Rahel, putri kedua Laban. Namun, hal itu tidak langsung bisa dilakukannya. Sesuai dengan tradisi waktu itu, ia harus menikahi lebih dahulu Lea, putri pertama Laban. Baru sesudah itu, ia pun dapat menikahi Rahel (Kej 29).

Lea dan Rahel yang kakak-beradik itu ternyata tidak rukun. Dalam suasana ”persaingan”, mereka membiarkan Yakub berhubungan intim dengan kedua budak perempuan mereka, yakni Bilha dan Zilpa. Dari hubungan intim itu, Yakub memperoleh beberapa anak. Sebelum dan sesudahnya, Yakub juga memperoleh beberapa anak dari kedua istrinya (Kej 29-30). Dari keempat wanita itu, Yakub akhirnya memperoleh dua belas anak lelaki, yang kemudian menurunkan keduabelas suku Israel (Kej 35).

Kisah keluarga Yakub mengungkapkan keruwetan yang terjadi dalam perkawinan poligam. Para istri tidak rukun. Meskipun demikian, melalui keluarga seperti itu pun, Allah tetap dapat melangsungkan rencana-Nya untuk menyelamatkan manusia!

Keluarga Musa
Musa lahir dan dibesarkan di Mesir, sebab saat itu bangsanya sedang menjadi budak-budak di negeri adi daya itu (Kel 1). Ia lari dari Mesir ke Tanah Midian, setelah ia membunuh seorang Mesir. Di negeri asing itu, ia menikah dengan Zipora, putri Rehuel atau Yitro, imam di Midian (Kel 2).

Karena perutusan yang diperolehnya dari Yahwe, Musa kembali ke Mesir. Ia mengajak serta istri dan anak-anak lelakinya (Kel 3-4).

Dengan penuh keberanian dan ketekunan, Musa menjalankan tugas perutusan dari Allah itu (Kel 5-13). Semua jerih-payahnya tidak sia-sia. Dengan bantuan Ilahi, akhirnya Musa berhasil membawa bangsanya keluar dari negeri Mesir (Kel 14).

Kisah keluarga Musa mengungkapkan adanya kerukunan dalam keluarga itu, meskipun Musa dan istrinya punya latar belakang kebangsaan yang berbeda. Keluarganya tetap bersatu, meskipun Musa mempunyai tugas perutusan yang sangat berat.

Keluarga Daud
Daud semula adalah seorang gembala di Betlehem, salah satu dari beberapa anak lelaki Isai. Barulah setelah diurapi oleh Samuel, peran sosialnya berkembang pesat. Ia direkrut oleh Raja Saul menjadi salah satu pelayannya (1 Sam 16). Kemudian, setelah berhasil membunuh Goliat, kariernya di bidang militer menanjak pesat (1 Sam 17-31). Kariernya mencapai puncak ketika Raja Saul wafat. Atas dukungan semua suku Israel, Daud pun menjadi Raja Israel (2 Sam 1-2).

Sementara itu, Daud menikah dengan cukup banyak wanita, antara lain Maakha (putri Talmai, Raja Gesur), Abigail (bekas istri Nabal, yang memusuhi Daud), Ahinoam dari Yizreel, Hagit, Abital, dan Egla. Dari mereka, Daud memperoleh beberapa anak, (2 Sam 3). Selain itu, ia juga memiliki beberapa gundik. (2 Sam 5).

Poligami yang dilakukan oleh Raja Daud ternyata membawa banyak masalah. Amnon memperkosa Tamar, adik tirinya sendiri. Karena kejahatan itu, kemudian Amnon dibunuh oleh Absalom, kakak Tamar (2 Sam 13). Selanjutnya, Absalom mengangkat diri menjadi raja (2 Sam 15). Karena itu, ia dikejar-kejar dan akhirnya dibunuh oleh para pendukung Raja Daud (2 Sam 18).

Allah begitu mengasihi Daud sehingga kepadanya Ia berjanji: ”Keluarga dan kerajaanmu akan kokoh untuk selama-lamanya” (2 Sam 7). Sabda inilah yang membuat bangsa Israel selama berabad-abad menunggu datangnya seorang Mesias, Putra Daud!

Kisah keluarga Daud sekali lagi mengungkapkan adanya keruwetan dalam perkawinan yang bersifat poligam. Anak-anak dari istri-istri Daud tidak dapat rukun. Yang satu membenci dan memusuhi yang lain. Dalam situasi semacam itu, Daud pun mengalami kesulitan menentukan sikapnya!

Pastor Dr Al Purwo H MSF

(Sumber Majalah HIDUP, Edisi No. 4 Tanggal 28 Januari 2007)

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*