Artikel Terbaru

Melintasi Rangkaian Pergumulan

Tuhan menggenapi: Andreas Irwanto akhirnya terbebas dari deraan sakit kepala setelah tumor sebesar telur bebek di kepalanya dioperasi selama sembilan jam pada 4 Mei 2006.
[HIDUP/Maria Etty]
Melintasi Rangkaian Pergumulan
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Kapel RS St Carolus dipadati sekitar 40 orang warga Wilayah St Antonius Paroki Katedral Jakarta Pusat. Mereka berkumpul untuk mendoakan kelancaran operasi tumor sebesar telur bebek di rongga kepala Andreas Irwanto.

Keharuan melumuri batin Irwanto. Begitu banyak orang ikhlas berbagi simpati kepadanya. ”Suasananya seperti Misa Requiem,” ungkap Irwanto mengenang peristiwa di penghujung April 2006 tersebut. Dukungan mereka membuat perasaan Irwanto lapang menghadapi operasi.

Sebelum operasi, Irwanto kerap didera sakit kepala. Untuk menangkis rasa sakit, Irwanto biasa mengonsumsi obat dari warung. ”Memang pusingnya kerap kambuh lagi,” urai pria berusia 51 tahun ini. Karena serangan sakit kepala, empat kali Irwanto terjatuh saat mengendarai motor. Syukurlah, pada saat-saat demikian, selalu ada orang yang mau menolongnya.

Setelah melintasi rangkaian pergumulan, akhirnya tumor yang bercokol di kepala Irwanto diangkat. ”Nyatanya, Tuhan mengirim banyak orang untuk menolong saya,” tandas prodiakon di Paroki Katedral ini.

Seperti ayan
Di rumahnya, berulang kali Irwanto tersungkur. Manik matanya mendelik dan mulutnya berbusa seperti penderita ayan. ”Karena selalu terjadi dini hari, istri saya bingung,” ujar Irwanto berkisah.

Tanggal 18 Maret 2006, ketika sedang beraktivitas di Katedral, penyakit Irwanto kumat. Beberapa pengurus Wilayah St Antonius pun menyaksikan Irwanto berkelejat membendung rasa sakit.

Mereka mendesak Irwanto ke dokter. ”Tanggal 20 Maret 2006, mereka membawa saya ke RS Mitra Kemayoran,” kenangnya. Dokter setempat mendiagnosa ada tumor di kepala Irwanto. Ia disarankan berkonsultasi pada seorang ahli bedah saraf.

Untuk memastikan penyakitnya, tanggal 25 Maret 2006, Irwanto menjalani CTscan. ”Karena hasilnya kurang sempurna, saya harus menjalani CTscan ulang,” paparnya. Tiga hari berselang, Irwanto menjalani CTscan kontras. Hasilnya membuat bulu romanya bergidik. ”Ada tumor berukuran 5 x 6 cm,” ujarnya dengan tatapan hampa. Menurut dokter, tumor itu harus segera diangkat.

Sontak batin Irwanto terombang-ambing. Perasaannya kian tercekat, ketika ia mengetahui biaya operasi. ”Biayanya 50 juta rupiah. Belum lagi biaya pasca operasi,” keluhnya masygul.

Pengobatan alternatif
Dalam kegamangan, Irwanto berobat pada salah seorang anak buah Pastor Hendricus Loogman MSC di kawasan Kedoya, Jakarta Barat. ”Diagnosanya sama, ada tumor di kepala saya yang harus segera dioperasi,” papar Irwanto. Untuk menepis rasa sakit di kepalanya, ia mengonsumsi ramuan dedaunan Romo Loogman.

Salah seorang prodiakon di Paroki Katedral mengantar Irwanto berkonsultasi pada Romo Rochadi Pr di Paroki Kristus Raja Pejompongan, Jakarta Selatan. ”Empat kali saya datang, minta didoakan Romo Rochadi agar kondisi saya pulih kembali,” terang Irwanto.

Irwanto pun meningkatkan untaian doanya. Setiap malam, ia takzim bertelut di hadirat Tuhan. ”Setiap hari saya juga berdoa rosario di Katedral,” ujar ayah Johannes Billy Wahyudi dan Angela Diany Wahyuni ini.

Meski dana di koceknya tak memadai untuk biaya operasi, Irwanto memutuskan dioperasi. Secara moril dan materil, rekan-rekannya di Gereja siap mendukungnya. Namun, karena saat itu menjelang Paskah 2006, Irwanto menunda operasi. ”Karena pemulihan setelah operasi memakan waktu cukup lama,” dalihnya.

Menjelang operasi, Irwanto rutin mengunjungi Romo Rochadi dan anak buah Romo Loogman. ”Agar saat dioperasi, kondisi saya bagus,” lanjutnya.

Membulatkan niat
Meski rekan-rekannya siap membantu biaya operasi, toh kegalauan mengusik Irwanto setiap kali ia memikirkan ihwal dana. ”Mana mungkin saya sanggup membayarnya,” ungkapnya. Dalam situasi terhimpit, Irwanto kian berserah pada penyelenggaraan Ilahi. ”Saya yakin, dengan berpasrah, akan ada jalan keluar…”

Seminggu menjelang operasi, para pengurus Wilayah St Antonius Paroki Katedral menyelenggarakan rapat untuk memperbincangkan rencana operasi Irwanto. Hasil rapat tersebut kian membulatkan niat Irwanto segera dioperasi. ”Mereka mengatakan, saya tak perlu memikirkan soal biaya. Yang penting, saya sembuh,” sitir Irwanto.

Seketika keharuan mendekap Irwanto. Pelupuk matanya pun berlinang-linang, menyaksikan limpahan perhatian orang-orang di wilayahnya. ”Saat itu, saya tak sanggup berkata-kata…,” imbuh Irwanto.

Tanggal 27 April 2006, Irwanto masuk RS St Carolus, Jakarta Pusat diantar istrinya dan orang-orang dari wilayahnya. Sebelum operasi dilaksanakan, Irwanto harus melewati serangkaian pemeriksaan. ”Kondisi saya menjelang operasi harus benar-benar sehat,” tandasnya.

Karena sejak remaja hingga tahun 2005, Irwanto merokok, perasaannya sempat risau saat pemeriksaan paru-paru dan jantungnya. ”Syukurlah, hasil pemeriksaan bagus, tidak ada flek,” ucapnya seraya tersenyum. Namun demikian, karena batinnya disesaki kegalauan, tekanan darah Irwanto anjlok.

Teguran seorang perawat menyadarkan Irwanto agar sungguh-sungguh berserah kepada Tuhan. ”Pak, serahkan semuanya kepada Tuhan. Dia yang menentukan hidup dan mati kita…”

Operasi ditunda
Ketika kepala Irwanto sudah digunduli dan ia sudah menyiapkan hati untuk dioperasi, perawat mengabarkan bahwa operasi ditunda. ”Alasannya, karena dokter harus menangani pasien lain yang kondisinya lebih parah dari saya,” tukasnya. Operasi yang semula dijadwalkan Sabtu, 29 April 2006 pun bergeser menjadi Selasa, 2 Mei 2006.

Senin pagi, 1 Mei 2006, rambut-rambut halus yang mulai muncul di batok kepala Irwanto kembali dikerok. ”Sebab, menurut rencana, keesokan harinya saya akan dioperasi,” kata Irwanto.

Ternyata, Senin petang, lagi-lagi Irwanto memperoleh kabar bahwa operasi akan diundur sampai Kamis, 4 Mei 2006. Seketika batin Irwanto membuncah. Pikiran negatif mulai mengilik benaknya. ”Jangan-jangan ini pertanda buruk, operasi bakal gagal,” katanya menduga-duga.

Dalam kerisauan, Irwanto memergoki sebuah kesadaran bahwa dua kali penundaan operasi sesungguhnya justru memintal ketabahannya. ”Sepertinya Tuhan tengah menguji kesabaran saya,” simpulnya.

Sembilan jam
Kamis, 4 Mei 2006, pukul 10.00, akhirnya Irwanto dioperasi. Sekali lagi kepalanya dicukur. Dalam balutan pasrah, Irwanto memasuki ruang operasi. ”Operasi berlangsung selama sembilan jam dengan membelah batok kepala saya,” ungkap Irwanto.

Setelah operasi usai, Irwanto dirawat di ruang isolasi selama dua hari. Begitu kondisinya stabil, ia dipindahkan ke ruang perawatan selama 14 hari.

Pasca operasi, selama lima hari Irwanto tak bisa berbicara. Tenggorokannya terkunci oleh beragam selang yang melintasi tubuhnya. Namun, rasa sakit di kepalanya pasca operasi, perlahan-lahan beringsut.

Selama dirawat di rumah sakit, Irwanto sungguh terharu melihat tamu-tamu mem-banjir. ”Selain saudara-saudara, teman-teman segereja dan teman-teman sewaktu sekolah juga menengok saya.”

Karena kondisinya pasca operasi terbilang bagus, dua minggu berselang, Irwanto diperbolehkan kembali ke rumah. Lalu, selama dua bulan ia menjalani proses pemulihan. ”Yang mengharukan, semua pengobatan ditanggung oleh para pengurus wilayah dan lingkungan,” tuturnya menahan haru.

Tak terduga
Sebelum sakit, Irwanto tak punya pekerjaan tetap. Karena itu, biaya pengobatan yang menggelembung sungguh di luar gapaian kemampuannya. ”Sejak tahun 1996, saya berhenti bekerja sebagai sales supervisor di sebuah perusahaan pakan ternak,” ujarnya terus terang.

Sejak itu, sang istri Anna Maria Emmy Boediarto mengambil alih kendali ekonomi rumah tangga. Sementara Irwanto mengais rezeki dengan membuat air aki. ”Usaha ini berjalan sampai sekitar tiga tahun,” jelasnya.

Setelah itu, Irwanto beralih usaha menjadi pedagang ikan hias. Di rumahnya di kawasan Bungur Besar, Jakarta Pusat, ia beternakikan. Hasilnya memang tak melimpah. ”Tapi, lumayan untuk menambah penghasilan keluarga,” tuturnya. Karena jatuh sakit, usahanya terhalang.

Agustus 2006, setelah kondisinya memulih, Irwanto mulai mencari pekerjaan. ”Sebetulnya, saya ingin menjadi koster di Katedral karena ada koster pensiun,” ungkapnya. Tak terduga, salah seorang warga Paroki Katedral menawarinya bekerja di perusahaan kontraktor miliknya. ”Saya bekerja sebagai tenaga lapangan,” urai Irwanto.

Batin Irwanto berselubungkan syukur, Tuhan menggenapi permohonannya. Sementara kesehatannya menjurus prima, ia memperoleh pekerjaan yang sesuai. Kini Irwanto memadahkan syukurnya dengan giat terlibat dalam kerasulan Gereja.

Maria Etty

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*