Artikel Terbaru

Grace Carla Munando: Lebih Enjoy Main Harpa

Main harpa: Grace Carla menunjukkan kebolehannya memetik harpa di ruang kelasnya di Galeri El Canna, Kebayoran Baru Jakarta Selatan.
[Susianna D. Soeratman]
Grace Carla Munando: Lebih Enjoy Main Harpa
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Ia nampak serius memetik senar dan menggesek biola layaknya sebuah pertunjukan konser mini. Begitu pertunjukan usai, tepuk tangan dari para tamu mewarnai suasana di lantai dua Elcanna Art Gallery Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Pemain harpa Grace Carla Munando (34) tidak melewatkan setiap kesempatan untuk bermain harpa. Ia tampil bersama Yasid Burhan, (musisi Bali), Leo Kristi (gitar), dan Lili (biola). Penampilannya bersama musisi lainnya mengawali pembukaan pameran lukisan karya para wartawan yang juga berprofesi sebagai pelukis belum lama ini.

Boleh dibilang pemain harpa itu langka. Itu pun bisa dihitung dengan jari. Istri David Suherman ini beberapa kali tampil tunggal maupun kolaborasi pada pembukaan pameran lukisan di galeri miliknya.

Grace bukan hanya mahir memetik senar harpa, tetapi juga musisi serba bisa. Ia senang memetik cello, meniup klarinet, menggesek biola, dan menarikan jari-jemarinya di atas tuts-tutspiano.

”Saya bermain biola untuk melatih pendengaran, demikian juga cello. Saya senang harpa karena bentuknya unik dan suaranya enak didengar. Umumnya harpa dimainkan wanita, walaupun di luar negeri ada juga yang dimainkan pria,”urai ibu dari Julius Owen (5) dan Basilio Otto (3).

Karena kecintaannya terhadap harpa, ia mengoleksi beberapa poster harpa yang dipajang di ruang kelas di mana ia mengajar piano. Demikian juga harpa 44 senar selalu berada di ruang kelasnya. Selain itu harpa dengan 47 senar yang diakuinya paling besar juga tersimpan di rumahnya di Jakarta Barat. Kedua harpa buatan luar negeri itu selalu disentuh oleh jari-jemarinya yang lentik di saat ia sedang bermain dalam sebuah konser.

Instrumen harpa merupakan instrumen langka. Selain harganya mahal (mencapai lebih dari seratus lima puluh juta rupiah), juga karena keterbatasan guru harpa. Menurut Grace, guru senior harpa di Jakarta baru tercatat dua orang wanita yaitu Usy Pieter dan Heidi Awuy, yang juga guru Grace.

Grace pernah tampil saat Natal bersama Heidi Awuy dan murid-muridnya. Ia juga tampil pada pesta perkawinan, berbagai acara di hotel berbintang, termasuk di Balai Pertemuan Sarbini dan Semanggi.

Ia bangga dan bersyukur jika ada yang mengundangnya untuk tampil, namun ia tidak pernah mematok biaya yang harus dibayar. Bagi Grace yang terpenting adalah pihak pengundang senang dan respect pada instrumen harpa.

Menjadi guru piano
Ketertarikannya pada harpa berawal setelah ia berkeluarga. Grace mengaku tertarik dengan bentuknya yang unik dan artistik serta suaranya yang menyentuh. Untuk mencapai impiannya itu ia belajar dengan Heidi Awuy yang cukup piawai memetik senar harpa sehingga membuatnya terkagum-kagum.

Saat masih duduk di TK Xaverius Lampung, Grace kecil sudah bergelut dalam dunia musik. Bungsu dari tiga bersaudara ini bersama kedua kakaknya Munando diberi kesempatan les piano oleh orangtuanya, Hellen Sopotan dan Paul Munando.

Namun yang menekuni piano hanya Grace karena sejak kecil memang obsesinya ingin menjadi guru piano. Hal itu dilakoninya dengan tekun belajar sampai ia belajar di Yayasan Pendidikan Musik Jakarta.

Kemudian Grace meneruskan pendidikan di Jakarta. Ia belajar di SD, SMP Ursula, dan SMA Theresia. Namun di SMA Theresia ini ia hanya sempat duduk di kelas satu. Karena ia melanjutkan studi SMA-nya di Perth, Australia.

Setamat SMA, Grace meneruskan studi di Jurusan Manajemen di sebuah perguruan tinggi di Amerika Serikat, tetapi tidak selesai. Walau begitu ilmu yang ia serap di Negeri Paman Sam itu mengantarnya pada bisnis galeri lukisan yang ditekuninya sejak akhir 2004.

Obsesinya membuka galeri muncul karena ia senang menikmati lukisan. Walaupun ia tidak bisa melukis. Ia juga seorang pencinta seni rupa. Itu bisa dilihat dari puluhan koleksi lukisan karya sejumlah pelukis. Selain mengoleksi lukisan, ia juga tertarik pada usaha butik dan florist yang melayani dekorasi ruangan dan merangkai bunga.

Selain mengurus bisnis, keseharian Grace adalah sebagai guru piano bagi anak-anak dari usia balita hingga dewasa. Kegiatan itu dimulai sejak 1996 baik privat di galerinya, maupun mengajar di sekolah musik Yayasan Musik Jakarta. Bagi Grace tiada hari tanpa musik, walaupun ia tidak bisa menyanyi, tetapi ia senang. Musik merupakan bagian dari hidupnya.

Kedua anaknya sejak kecil juga dikenalkan belajar piano dan biola. Meski suaminya, David Suherman bekerja di bidang perbankan namun ia sangat mendukung aktivitas Grace untuk mengembangkan kariernya di bidang musik.

Suka dan duka
Bagi Grace, talenta yang diberikan Tuhan patut disyukuri, meskipun rencananya itu tidak selalu terpenuhi. Walau ia mengaku tidak terlalu aktif di Gereja, tetapi ia percaya bahwa semua itu Tuhan yang menentukan. Ia dan suaminya selalu menyempatkan waktu mendidik kedua buah hatinya dalam pendidikan iman Katolik. Apalagi kedua orangtua Grace juga aktif dalam kegiatan di Paroki St. Kristoforus, Grogol, Jakarta Barat.

Dengan rendah hati, Grace mengaku belum profesional sebagai guru piano walau setiap harinya ia bergaul dengan tuts piano. Namun sebagai seorang guru piano yang sudah berpengalaman ia menyimpan banyak kesan dan suka duka. Ia bangga tatkala muridnya berhasil. Namun di balik rasa bangganya itu, ia juga mendengar kalimat-kalimat yang kurang enak didengar, ibarat kacang lupa pada kulitnya.

”Ada murid yang tidak ingat saya. Ironisnya murid itu ngomong ke orang lain bahwa saya tidak mampu lagi mengajarnya. Padahal sejak kecil saya mendidiknya dari belum bisa baca not,” tutur Grace. Menurutnya, cara mengajar itu berbeda-beda, tetapi yang penting bisa mengantar murid-murid mengerti not dan memainkan piano. Yang penting dalam hal ini adalah komunikasi antara orangtua murid, guru, dan murid itu sendiri.

Hal ini untuk menghilangkan kesalahpahaman mengapa anaknya belum juga bisa memainkan piano, membaca not balok, dan sebagainya. Grace selalu memberikan yang terbaik bagi murid-muridnya.”Sebagai guru tak mungkin ngirit memberi ilmu kepada murid-muridnya. Pasti apa yang dimiliki guru diberikan untuk muridnya agar bisa pintar dan sukses,” tegasnya.

Hingga sekarang, Grace masih menjadi guru piano dan belum berniat menjadi guru harpa.”Saya kurang begitu pede mengajar harpa karena masih ada yang lebih pintar dari saya yaitu guru saya. Meski saat ini saya lebih enjoy main harpa,” papar Grace.

Susianna D Soeratman

(Sumber Majalah HIDUP, Edisi No. 4, Minggu 28 Januari 2007)

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*