Artikel Terbaru

Mencari Pengganti di Usia Senja

Memberi bimbingan: Salah satu kegiatan Yayasan Sosial Lumba-lumba adalah memberi bimbingan belajar pada anak-anak.
[NN/Dokumen Yayasan Lumba-lumba]
Mencari Pengganti di Usia Senja
1 (20%) 1 vote

HIDUPKATOLIK.com – Usia mereka hampir 70 tahun. Namun mereka tetap sabar mengurus Yayasan Sosial Lumba-Lumba (YSLL), Cilincing Jakarta Utara. Mereka berharap, bisa segera menemukan pengganti.

Yayasan ini mereka rintis ketika mereka masih berusia 40 tahunan. Jadi sampai tahun ini mereka sudah berkarya selama hampir 30 tahun. Kelangsungan yayasan ini tidak terlepas dari peranan enam ibu pemrakarsa. Mereka adalah Ketua Yofita Sulastriasih (Ibu Suparman), Wakil Ketua Gertrudis Anita Rasima (Ibu Muaral), Bendahara Suwandi Suhartono (Ibu Hartono), Bidang Pendidikan Utami Rajiman (Ibu Rajiman), Bidang Kesehatan dan Rumah Sakit Anasri Suratono (Ibu Suratono), dan Pembantu Umum Rahayu Riadi (Ibu Riadi).

Sampai saat ini mereka tetap aktif dan kompak dalam menjalankan yayasan ini. Bahkan, Ibu Muaral masih bisa mengendarai sepeda motor, pulang pergi dari rumah ke yayasan.

Kesetiaan mereka kepada yayasan ini dilandasi keinginan untuk membagikan cinta kasih yang tulus terhadap masyarakat sekitar. Dalam melaksanakan niat ini, Ibu Suparman berpegang pada pesan Pastor F. X. Wartadi CM, imam di Paroki Cilincing. ”Bendera Kristus disimpan di belakang. Wajah Kristus saja yang diperlihatkan di sana!”

Sejak beberapa tahun terakhir, mereka telah berusaha mencari pengganti. Mereka berharap orang-orang muda bisa segera mengambil alih karya pelayanan ini. Namun, orang-orang muda yang mereka tawari sering kali menanyakan besarnya honor. Karena itulah mereka kesulitan menemukan orang muda yang bersedia melanjutkan karya sosial ini. ”Saya percaya tangan Tuhan akan bekerja di sini, Dia tidak akan membiarkan rumahnya terbengkalai,” imbuh ibu yang masih energik ini.

Dari sejak awal yayasan ini dimulai, mereka tidak pernah mengharapkan imbalan atau upah. Mereka sudah terbiasa dengan kegiatan sosial seperti di Bhayangkari, PKK, dan WK. ”Pekerjaan ini kami lakukan tanpa beban apapun. Sekarang YSLL sudah tinggal diteruskan dan dijalankan saja,” tandas Ibu Suparman.

Bagi beberapa orang yang tidak mengerti, aktivitas Ibu Suparman dan kawan-kawan kadang suka disalahartikan. Beberapa komentar negatif sering kali terdengar, ”Kami yang sudah tua-tua ini kok masih bertahan di sini, berapa sih honornya?” Mereka berharap bisa segera menikmati masa pensiun. Mereka merasa wajar jika tidak lagi mengurusi pekerjaan sosial ini. Karena sesungguhnya masih banyak orang yang lebih muda yang bisa menggantikan mereka.

Pelayanan kemanusiaan
YSLL sampai saat ini aktif memberikan pelayanan kesehatan dan pendidikan. Awalnya, yayasan ini hanya mempunyai satu tempat kegiatan yang terletak di pinggir laut, di Gang BS, Cilincing.

Sekolah pra-SD yang diselenggarakan adalah sekolah yang dipersiapkan bagi anak-anak nelayan untuk memasuki SD. Saat ini anak-anak di yayasan ini setiap bulannya diminta bayaran sebesar Rp 1500. Penarikan bayaran diberlakukan sejak keadaan ekonomi masyarakat semakin membaik. Pungutan ini juga diberlakukan supaya ada rasa tanggung jawab dari orangtua terhadap anaknya. ”Besar atau pun kecil mereka harus membayar biaya pendidikan untuk anaknya, tidak gratis begitu saja,” ungkap Ibu Suparman.

Dengan uang Rp 1500 tersebut, anak-anak berhak mendapatkan gizi berupa susu dan makanan. Setelah mereka menyelesaikan pendidikan pra-sekolah, mereka kemudian meneruskan pendidikan ke SD. ”Jika tabungan mereka tidak cukup untuk membayar uang pangkal dan lain-lain di SD, kami akan mencoba mencarikan sponsor yang bisa mendukung mereka sampai akhirnya bisa sekolah,” ungkap Ibu Muaral.

Saat ini mereka mempunyai dua pengajar, satu dari Legio Maria, dan satu lagi dari warga Gang BS. Mereka mengambil tenaga pengajar dari warga ini untuk menghindari kecurigaan masyarakat terhadap apa yang mereka ajarkan.

Dengan semangat pelayanan dan niat baik tanpa pamrih, Ibu Suparman dan kawan-kawan selalu mengingat apa yang dikatakan Uskup Agung Jakarta Mgr Leo Soekoto SJ (Alm), ’Mereka tidak membutuhkan rosario, mereka tidak perlu Injil, tapi mereka membutuhkan pendidikan yang baik dan kesehatan yang baik’.

Itulah sebabnya, ketika mereka masuk di lingkungan yang 99 % adalah Muslim, mereka bebas bergerak karena tidak ada beban apapun. Tujuan utama mereka hanyalah membantu memberikan kehidupan yang lebih layak dan bukan untuk menyebarkan agama.

Awal mereka berkarya di tempat ini, mereka berenam merintis dan melakukan pendekatan terhadap Lurah, RT dan RW. Jabatan suami mereka di POLRI dan TNI, mereka pertaruhkan. ”Kami jadikan jaminan untuk memberikan kepercayaan bahwa kami tidak akan macam-macam,” tegas Ibu Muaral.

YSLL yang digerakkan oleh awam Katolik bukan lagi sebagai ancaman. Akan tetapi mereka sekarang sudah menjadi saudara dan keluarga warga Gang BS. Beberapa kali, yayasan ini sempat dijadikan tempat live in para suster, pastor, dan awam Katolik. Sampai sejauh ini mereka aman dan diterima baik oleh warga. Paling tidak, sekarang warga mengerti bahwa orang Katolik tidak membeda-bedakan agama. Semua yang dilakukan semata-mata berdasarkan rasa kemanusiaan.

Niat tulus
Tahun 1977, atas izin RT, RW, dan Kelurahan Cilincing, Ibu Suparman dan keenam temannya, merekrut ibu-ibu warga setempat untuk menjadi kader. Mereka berhasil merekrut 10 orang yang sembilan di antaranya buta huruf. Sambil mengajari ibu-ibu membaca dan menulis, mereka melayani perbaikan gizi terhadap ke-14 anak kader.

Persoalan kesehatan masyarakat di pinggir pantai Cilincing sangat buruk. ”Setiap hari kami sering kali melihat bayi mati begitu saja,” ungkap Ibu Muaral. Semua persoalan ini ternyata bermuara pada rendahnya tingkat pendidikan.

Sebenarnya mereka berharap bisa merekrut orang lebih banyak. Tetapi sebagian warga waktu itu kurang bersahabat dengan mereka. Kendati demikian Ibu Muaral dan teman-temannya tetap melakukan hal terbaik. Sejalan dengan perkembangan waktu, ke-14 balita, anak dari 10 warga tadi sedikit demi sedikit berkembang kearah yang semakin baik. Berita ini tersebar secara otomatis. Hal ini ternyata sangat berpengaruh positif. Balita yang tadinya hanya 14 anak , berkembang menjadi 40 balita. Satu kelompok belajar yang tadinya hanya 10 orang menjadi 10 kelompok ibu-ibu dan bapak-bapak. ”Ini sebuah perkembangan yang sangat bagus,” ungkap Ibu Muaral.

Saat itu, hampir kebanyakan orang takut disuntik. Pernah suatu waktu mereka mengundang seorang dokter. Karena tidak ada warga yang mau datang berobat akhirnya dokter dan tim Lumba-Lumba, mengunjungi orang yang sakit. ”Kebetulan ada orang yang sakit, dia sembunyi di kolong tempat tidur, ini terjadi sekitar tahun 1982-1983,” tutur Ibu Muaral. Setelah dibujuk akhirnya orang itu mau diperika dan diberi obat. Sejak orang itu sembuh dari sakitnya, warga kampung itu datang dengan sendirinya untuk berobat.

Begitu juga halnya dalam membangun kesadaran ber-KB. ”Ketika kami pertama kali mengadakan safari KB di lingkungan warga, seorang bapak dengan goloknya mengancam pak lurah, kuatir istrinya diapa-apakan,” tutur Ibu Muaral dengan senyum.

Walau begitu akhirnya KB ternyata mampu mengerem jumlah kelahiran. Sedangkan ketika yayasan ini mengadakan Pos Kesehatan, yayasan sanggup melayani balita hingga mencapai 600 anak di tiga Posyandu.

Tanpa terasa tiga puluh tahun sudah Lumba-Lumba melayani para nelayan Cilincing. Namun sayangnya, anggota penggerak tidak bertambah seorang pun. Penerus generasi Ibu Suparman dan kelima temannya tidak berkelanjutan. Sepertinya kaum muda enggan berpartisipasi dalam gerakan sosial ini. Mereka lebih mengincar materi. ”Meski begitu, kami tidak pernah bosan mengajak kaum muda untuk terlibat,” tutur Ibu Suparman mantap.

Paulus Aripin

(Sumber Majalah HIDUP, Edisi No. 4, Minggu, 28 Januari 2007)

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*