Artikel Terbaru

Menyehatkan Demokrasi

[nydailynews.com]
Menyehatkan Demokrasi
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Demokrasi di negara kita sedang sekarat. Nurani demokrasi kita telah digerogoti berbagai politik anarkis hingga membuat demokrasi kita berada dalam titik nadir. Ia sepertinya sudah kehilangan aura dan daya pikatnya.

Sejak revolusi Prancis 1789, kenyataan demokrasi menunjuk pada model side effect, yaitu elitisme dan rekayasa perimbangan suara. Soal pokok yang langsung muncul dalam praktik adalah bagaimana mekanisme kontrol terhadap praktik kuasa atau wewenang yang dimandatkan rakyat (Mudji Sutrisno, 2000). Negara yang demokratis adalah negara yang menempatkan rakyat sebagai titik tolak dan basis verifikasi setiap kebijakan politik. Demokrasi memberi penghargaan yang setinggi-tingginya kepada rakyat, mengingat rakyat adalah kata kunci dari demokrasi. Ini menjadi tuntutan dasar sehingga kebijakan politik tidak pragmatis atau terjebak dalam kepentingan jangka pendek, di mana dalam kebijakan jangka pendek ini rakyat biasanya lolos dari perhatian, karena politisi cenderung membangun etika dengan berbagai dalih dan rasionalisasi. Namun kiranya menjadi elegi yang terus saja dikeluhkan rakyat kebanyakan bahwa kebijakan politik selalu saja menistakan esensi demokrasi sehingga yang terjadi adalah ketidakadilan dan berbagai tindakan tercela lainnya yang begitu subur tumbuh di negara kita ini dan begitu mendera kebersamaan.

Runtuhnya rezim Orde Baru, membawa sejuta asa bagi rakyat Indonesia. Paling tidak rakyat merasa bebas dari deraan politik yang begitu membungkam selama Orde Baru berkuasa. Keyakinan dasar yang sungguh menjadi pemacu semangat juang adalah bahwa reformasi total merupakan arah dasar dalam menyehatkan demokrasi. Demokrasi kita yang begitu kumuh, rapuh, dan arogan hanya bisa diperbaiki dengan merekontruksi kinerja politik dalam berbagai lini kehidupan bernegara. Sebuah bangsa yang demokratis hanya bisa memperbaiki dan mengembangkan diri kalau ia sadar akan keadaannya dan berangkat dari keadaannya itu ia lalu memacu, berbenah, dan menyehatkan diri. Dalam artian ini maka demokrasi tetap menjadi titik acuan dan muara bagi proses pencerahan politik. Karena itu kebijakan dan wacana politik harus sungguh mempunyai daya operatif sehingga rakyat dengan antusias berperan dan berandil dalam berpolitik secara maksimal. Melalaikan hal ini, berarti menegasi atau menggerayangi hak-hak politik rakyat yang seharusnya ada. Kalau sudah demikian maka politik kekuasaan akan menindas demokrasi. Ketika demokrasi ditindas maka anarkisme, feodalisme, oligarkisme, dan tirani akan menjadi tameng bagi politik kekuasaan.

Demokrasi yang sehat harus ditopang konstitusi yang adil. Konstitusi yang adil adalah penjamin hak-hak demokratis yang seluas-luasnya. Sejatinya demokrasi adalah sebentuk prosedur yang memaksa kerja sama politik secara konstitusional. Demokrasi tidak berfokus pada kehendak umum melainkan sebuah strategi dalam kerja sama politik (Michel Foucault, 1979). Sejatinya politik oleh Foucault dilihat sebagai cara ampuh untuk saling memeriksa dan menyeimbang sehingga tidak ada yang namanya dominasi.

Mengingat yang dasariah dari demokrasi adalah pemerintahan dari rakyat dan untuk rakyat maka mekanisme kontrol atas roda pemerintahan harus tetap digiatkan dan dievaluasi, paling tidak untuk mengetahui sejauh mana demokrasi kita mengusung dan memperjuangkan kepentingan rakyat. Tetapi supaya rakyat merasa tidak diabaikan dalam kontrol itu maka sistem kontrol itu juga harus transparan baik dalam proses kontrolnya maupun dalam pencapaiannya. Di sinilah letak keterkaitan antara konstitusionalisme dengan demokrasi. Dalam arti ini kekuasaan negara yang demokratis dijalankan secara legitim atas hukum dan dalam batas-batas hukum. Dengan mekanisme kontrol hukum ini hendak dicegah pemerintahan yang otoriter.

Dalam demokrasi yang sehat terkandung segala keluhuran etika politik. Signifgikasi etika politik yang terletak pada tujuan untuk mensejahterakan rakyat adalah nurani dari demokrasi. Maka logikanya jelas: memasung demokrasi sama artinya dengan meniadakan keluhuran etika politik. Karena itu demokrasi yang sehat harus mampu meredam segala bentuk kenaifan politik yang cenderung permisif dan irasional. Tidak terlalu berlebihan kalau kita katakan membangun demokrasi yang sehat berarti siap berkorban (heroik). Tentu semuanya ini hanya mungkin kalau kita mau membangun ketulusan dalam berpolitik. Itu berarti menempatkan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi. Slogan ini sepertinya sudah begitu rapuh di negara kita. Karena itu kita perlu membangun kesadaran untuk menggemahkannya kembali dalam alam demokrasi kita yang sedang sekarat ini.

Usaha menyehatkan demokrasi menuntut dari kita semua untuk terus membangun kesadaran bahwa bangsa kita hanya mungkin berkembang dan bisa keluar dari krisis di berbagai lini kehidupan kalau kita mengusung demokrasi ke garda terdepan dalam berpolitik. Dengan demikian politik tidak melenceng dari tujuan dasarnya, melayani rakyat.

Pastor Donny Kleden CSsR
Penulis mahasiswa Program Pasca Sarjana Ilmu Teologi Universitas Sanata Dharma

(Sumber Majalah HIDUP, Rubrik Mimbar, Edisi No. 4, Minggu, 28 Januari 2007)

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*