Artikel Terbaru

Institusi Gereja yang Dewasa

Sumber Foto: catholicphilly.com
Institusi Gereja yang Dewasa
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Mesin mikro, gambar digital, dan bisnis lewat elektronik adalah teknologi-teknologi baru. Inovasi-inovasi lain akan segera bermunculan dalam waktu dekat. Teknologi inilah yang akan menciptakan sebuah produk (industri) yang sama sekali baru. Atau, dengan kata lain, akan menyingkirkan cara-cara lama yang sudahestablished.

Beberapa kerasulan Gereja sangat bergantung pada teknologi: rumah sakit, sekolah, perguruan tinggi, komunikasi sosial. Kita pernah berjaya dalam kerasulan lewat radio di tahun 1970 dan 1980-an. Kerasulan ini sekarang hanya terdengar gaungnya saja. Lebih parah, kerasulan radio Gereja sekarang ini hanya menambahkan suara berisik yang sudah ada. Ketidakmampuan Gereja mengantisipasi kehadiran televisi dan teknologi baru lainnya membuat kerasulan radio yang dikerjakan dengan teknologi lama menjadi obsolete.

Teknologi yang bermunculan silih berganti kerap kali menjadi pengalaman traumatis untuk Gereja. Gereja dipaksa – karena tidak ada pilihan – mengikuti arus kebudayaan umat dan masyarakat luas. Alasannya ada dua. Pertama – defensif – karena gentar bahwa pendatang baru akan menggunakan teknologi inovatif yang akan mendesak karya-karya Gereja. Rumah-rumah sakit yang dilengkapi dengan teknologi baru untuk penyakit jantung, kanker, diabetes, telah membangun citra center of excellence untuk institusi sekular di luar Gereja. Menghadapi peta baru perkembangan ilmu dan teknologi kedokteran ini Rumah Sakit Katolik kerap gagap dan tidak tahu apa yang hendak dilakukan.

Kedua, sekali teknologi baru merealisasikan potensinya, dia akan menciptakan market yang baru pula. Jika Gereja tidak peduli ini, ia akan ditinggalkan sekian banyak orang yang seharusnya bisa dilayani. Munculnya jurusan-jurusan Manajemen Informatika atau Teknologi Informasi di Perguruan Tinggi Katolik pasti didorong adanya pasar-pasar baru.

Teknologi telah memberikan bentuk dan isi kesibukan baru yang sebelumnya tidak pernah ada dalam Gereja. Komunitas Gereja mempelajari, mengimplementasikan, lewat trial and error.Beberapa berhasil, tetapi tidak jarang mengalami kegagalan. Inilah kecemasan yang menghinggapi Gereja dalam menggumuli teknologi.

Tata permainan baru dalam kerasulan Gereja lahir dengan maraknya teknologi. Tata permainan yang kompleks dan tak menentu. Perubahan cepat mewarnai kehadiran Gereja di tengah-tengah dunia. Sementara Gereja terus-menerus tergopoh-gopoh berjuang menguasai kompetensi baru yang datang pergi silih berganti. Institusi semacam Penerbit-Percetakan Kanisius yang tahun 2007 ini berumur 85 tahun pasti merasakan kebenaran ini.

Menyadari gelombang-gelombang tinggi dan kuat ini, satu perkara sebaiknya direnungkan mereka yang secara serius hendak berjuang untuk Gereja. Dalam ilmu sejarah organisasi kita kenal istilah creative destruction.

Sebuah organisasi – sehebat apapun ia – tidak akan menjalani grafik yang terus menaik. Dia akan sampai di puncak, kemudian berjalan datar, dan akhirnya mengalami krisis. Dalam pembicaraan ini, krisis dialami oleh sebuah lembaga Gereja bukan karena faktor internal. Perkembangan teknologi adalah faktor eksternal yang jika tidak direspon secara dewasa akan membuat sebuah lembaga kerasulan akan menjadi nampak tua.

Sebuah karya Gereja yang matang dan ingin berkesinambungan akan melakukan creative destruction. Secara sadar dan kreatif, ia mengubur produk dan teknik kerasulan lama. Tanpa menghilangkan identitas dirinya, ia lahir kembali dalam wajah muda, dengan penampilan sesuai zaman. Inilah yang pasti sudah diupayakan oleh Penerbit-Percetakan Kanisius yang mampu menembus umur puluhan tahun.

Sebaliknya, institusi yang ’kekanak-kanakan’ selalu akan ragu-ragu melakukan destruksi kreatif tadi. Upaya ini selalu menimbulkan paradoks dan ambiguitas. Institusi yang tidak dewasa tidak akan tahan dengan pengalaman tidak menentu ini. Misalnya, semua orang tahu bahwa institusi pemenang dan inovator hanya diraih oleh mereka yang bermental pionir. Maka mereka ingin menjadi pionir. Persoalannya, kebanyakkan pionir gagal. Menyadari ini mereka takut dan tidak berani maju. Ini baru menyebut satu contoh paradoks yang harus diakrabi oleh institusi-intitusi kita di zaman modern ini.

Redaksi

(Sumber Majalah HIDUP, Edisi No. 4 Tanggal 28 Januari 2007)

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*