Artikel Terbaru

Kejanggalan Doa MB No 23

[catholicsensibility.wordpress.com]
Kejanggalan Doa MB No 23
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comRomo, kami merasakan kejanggalan dalam Doa Mohon Kerendahan Hati di Madah Bakti No 23 (dari doa Kard. Merry de val). Terjemahan dalam bahasa Jawa ada di Kidung Adi No 23. Permohonan yang janggal pada bagian kedua: ”Semoga orang-orang lain lebih banyak memperoleh penghargaan daripada aku”; ”Semoga mereka mendapat jalan yang lancar sedangkan aku tersisihkan”; ”Semoga mereka bertambah besar di mata dunia sedangkan aku terbelakang”, dst.

Bukankah kalau kita terapkan dalam kehidupan masyarakat, di kepegawaian, politik, pendidikan, dll rasanya bertentangan. Orang Katolik minta dirinya supaya ketinggalan, kalah, disisihkan dari percaturan kehidupan masyarakat, kepegawaian, politik, pendidikan, dll. Jadi, kalau sekarang banyak orang Katolik maju baik di masyarakat maupun dalam hierarki Gereja, apakah itu tidak dibenarkan Yesus? Rendah hati bukan harus tersingkir, kalah, tidak maju, melarat, dll. Kalau doa itu bermaksud mendasarkan diri pada Sabda Yesus: ”Kalau ingin jadi yang terbesar hendaklah kamu menjadi yang terkecil di antara sesamamu”, rasanya kok konteksnya tidak cocok,. Namun, doa dengan judul yang sama di buku Puji Syukur No 141 sudah masuk akal, realistis, sesuai, proporsional. Apakah PS No 141 merupakan koreksi atas MB No 23? Kami mohon tanggapan dan bimbingan Romo.

R. Sukarji, Tegalrejo, Yogyakarta

Konsep kerendahan hati dalam doa tersebut mengalir dari pengalaman seseorang akan Allah dan pasti dilatarbelakangi sebuah spiritualitas. Pengalaman setiap orang (dalam hal ini Kard. Merry de Val) itu khas dan unik, karena itu perlu kita hormati. Pengalaman ”bertemu Allah,” Sang Kebaikan tertinggi, wajar kalau membuat orang tersebut melihat sedikit kebaikan dalam diri manusia sebagai gelap dan jelek. Ini mirip pengalaman kita ketika beralih dari panas terik matahari ke dalam rumah. Nyala lampu di dalam rumah yang biasanya sudah cukup terang, terasa masih gelap. Kerendahan hati berarti mengakui kejelekan yang luar biasa dalam diri manusia dibandingkan dengan Allah, Sang Kebaikan. Prinsip hidup rohani yang berlaku dalam relasi dengan Allah ini tentu tidak bisa diterapkan begitu saja dalam relasi sosial kita dengan sesama dalam masyarakat. Bisa saja orang yang berdoa begitu, dalam hidup bermasyarakat justru sangat bersemangat memperjuangkan kebaikan atas nama dan demi kemuliaan Allah, bukan demi diri sendiri.

Kesan saya, doa ini diresapi kuat sekali oleh spiritualitas apatheia (bdk A. Heuken SJ, Spiritualitas Kristiani, Pemekaran hidup rohani selama dua puluh abad, CLC, 2002). Apatheia berarti kebebasan dari dominasi macam-macam nafsu. Menurut pandangan aliran ini, Tuhan tidak bernafsu dan tidak emosional. Maka, supaya dapat mendekati Tuhan, orang harus menenangkan nafsu-nafsunya yang tak teratur (pengosongan hati). Dasar dari spiritualitas apatheia ialah pandangan bahwa manusia (dan segala jenis perasaan manusiawinya) dan dunia ini jelek dan berdosa, karena itu harus dijauhi. Manusia harus mengarahkan diri kepada Allah (theosentris). Jadi, inti dari hidup rohani ialah penyangkalan diri supaya Allah dapat menyempurnakan kita (bdk Mat 16:24-25). Maka, segala yang menonjolkan diri sendiri dipandang negatif. Penyangkalan diri dilakukan juga dengan cara memandang orang lain lebih baik daripada diri sendiri. Tujuannya ialah mendapatkan rahmat yang lebih besar bahkan bersatu dengan Allah. Inilah yang dirasakan sebagai kejanggalan. Spiritualitas yang sarat dengan penyangkalan diri muncul kembali dalam buku Imitatio Christi karangan Thomas A. Kempis (+1471), yang antara lain berkata: ”Orang yang memandang dirinya lebih hina daripada orang lain dan menganggap diri sendiri amat tak berharga, siap serta pantas menerima rahmat yang lebih besar lagi.” ”Kita semua rapuh, namun anggaplah tak seorangpun kurang rapuh (dalam arti rohani) daripada dirimu sendiri.” (Heuken, hlm 115). Ungkapan senada kita temukan juga pada tulisan Santo Yohanes dari Salib dan Santa Teresa Avila.

Bagi kita yang hidup sesudah Konsili Vatikan II, spiritualitas apatheia terasa tidak biasa dan tidak menarik karena tidak memberikan penghargaan yang positif atas manusia dan dunia. Zaman Renaissance terjadi perubahan dari spiritualitas yang theosentris (berpusat pada Allah) menjadi antroposentris (berpusat pada manusia). Dengan itu, ditonjolkan pandangan tentang dunia ciptaan Allah yang sungguh amat baik (Kej 1:31) dan manusia citra Allah (Kej 1:26-27) lebih digalakkan. Spiritualitas yang demikian lebih mengutamakan kuatnya kasih karunia dalam diri manusia (Rom 5:15). Jadi, ajaran Yesus tentang penyangkalan diri tetap dilakukan, tetapi diarahkan pada dosa dalam diri manusia (PS 141: ”kesombongan”), tetapi kasih karunia Allah dalam diri manusia diakui. Kerendahan hati berarti mengakui kebenaran, yaitu anugerah Allah dalam diri kita dan juga kelemahan kita.

Semangat penyangkalan diri dan lebih mengutamakan orang lain sebenarnya juga terasa kuat dalam PS 141, meski lebih lunak. Saya tidak tahu apakah PS 141 itu koreksi MB 23.

Pastor Dr Petrus Maria Handoko CM

(Sumber Majalah HIDUP, Edisi No. 4 Tanggal 28 Januari 2007)

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*