Artikel Terbaru

Berkat ”Pesan Suci”

Menciptakan kehangatan: Kris Biantoro di rumahnya yang asri di kawasan Cibubur, Jakarta Timur, awal Desember 2006
[HIDUP/Alexander Aur]
Berkat ”Pesan Suci”
1 (20%) 1 vote
HIDUPKATOLIK.com – ”Kris, pokoknya kamu ke Jakarta. Kalau nanti kamu sudah terkenal, jangan kawin gaya Hollywood dan jangan jadi PKI.”
Begitu pesan Prefek SMA de Britto, Yogyakarta Pastor Arnoldus Ingen-Housz SJ (1914-1987) saat Kris lulus tahun 1958. Pesan itu tetap diingat oleh Kris Biantoro dan terus terngiang di telinganya sampai sekarang.
”Bekal yang saya bawa ke Jakarta cuma itu. Dan itu membuat saya berani meninggalkan Indonesia untuk belajar ke luar negeri,” kenang Kris Biantoro saat ditemui di rumahnya yang asri di bilangan Cibubur, awal Desember 2006.
”Pesan suci” itu meneranginya saat ia meniti karier sebagai artis dan juga dalam
membangun rumah tangga. Bahkan, pesan itu makin mengkristal dalam dirinya saat ia memasuki usia perkawinannya yang ke-40 yang jatuh pada 17 Desember 2006.
Kristalisasi pesan itu tidak saja membuatnya sujud mengucap syukur kepada Yesus. Tetapi, juga membuncah menjadi kegelisahan. Kegelisahan yang semakin mengental saat ia melihat situasi negara yang semakin tidak keruan dan gaya hidup para artis yang semakin tidak terarah.
Kemiskinan yang diderita banyak rakyat Indonesia, anak-anak muda yang tidak paham tentang sejarah Indonesia, serta kasus perceraian yang tiada henti di kalangan artis, mendorong Kris Biantaro dan belahan jiwanya Maria Nguyen Kim Dung mau berbuat sesuatu untuk anak-anak muda dan para artis.
Ia pergi ke mana saja untuk berbagi pengalaman dengan anak-anak muda tentang sejarah dan perjuangan bangsa Indonesia. ”Anak-anak muda sekarang tidak paham mengenai sejarah bangsa ini karena mereka tidak diajarkan. Kalau sekarang saya masih muda, saya sama seperti mereka. Kendalanya karena ada yang tidak beres dalam mengurus bangsa ini,” kata artis yang dijuluki Mario Lanza Indonesia ini.
Reriungan keluarga
Di tengah kebiasaan para artis kawin cerai, Kris Biantoro memberikan sesuatu
yang berbeda dan berkualitas kepada para artis. Sebagai orang Katolik, ia mengakui dengan tulus bahwa pelayaran bahtera rumah tangganya di lautan dunia modern dewasa ini bukan usahanya semata. Melainkan, karena ia dan keluarganya sudah diselamatkan.
”Sebagai orang yang diselamatkan, pasti ada campur tangan Tuhan dalam kehidupan saya. Yesus mengajarkan kita menikah sekali seumur hidup,” tegasnya. Hidup berkeluarga selama 40 tahun pasti tidak berjalan mulus. ”Kalau sekarang kami kokoh dalam berumah tangga, pasti Tuhan ikut berkarya,” ujar veteran perang yang selalu menyapa orang dengan kata ”merdeka” ini.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*