Artikel Terbaru

Asrama Putri St Maria Malang: Yang Panjat Pagar Dihukum

Asrama Putri St Maria Malang: Yang Panjat Pagar Dihukum
5 (100%) 1 vote

HIDUPKATOLIK.com – Romantika asrama tak lepas dari cerita panjat pagar akibat pulang kemalaman. Begitu pula cerita anak-anak penghuni Asrama Santa Maria di Malang, Jawa Timur.

 
Kepala asrama, Sr M. Henrika SPM mengisahkan, ia pernah menghukum tiga anak asuhnya setelah ’tertangkap basah’ memanjat pagar asrama. Mereka, yang semuanya gadis, memanjat pagar belakang asrama setinggi lebih dari dua meter.
 
Begitu mereka menginjakkan kaki di pekarangan, Sr Henrika sudah menunggu. Kontan saja mereka gelagapan. ”Saya minta mereka mengulangi bagaimana caranya memanjat pagar itu,” ujar Sr Henrika sambil tersenyum. Itulah salah satu hukuman yang ia berikan kepada anak-anak asuhnya itu.
 
Di Asrama Putri Santa Maria Malang, mereka yang tidak disiplin memang mendapat hukuman. Dari hukuman ringan seperti menyapu lantai, sampai yang berat seperti dikeluarkan dari asrama. Menurut Sr Henrika SPM, hukuman itu diberikan bukan untuk menyiksa anak asuh, tapi untuk mendidik mereka. Dengan demikian, para penghuni asrama yang jauh dari orangtua tidak menjadi teledor belajar, lalu melalaikan amanat orangtua dalam meraih masa depan.
 
Menyelenggarakan asrama putri adalah salah satu bentuk perhatian Kongregasi Santa Perawan Maria Amersfoort Indonesia (SPM) kepada kaum perempuan, khususnya di bidang pendidikan. Ini merupakan amanat langsung dari ibu rohani kongregasi ini, Suster Julie Billiart.
 
Pribadi utuh
Untuk mewujudkan amanat penting dari Sr Julie Billiart, pada 20 Juli 1951, Kongregasi SPM membuka Asrama Putri Santa Maria, berlokasi di Jalan Telomoyo 1A Malang. Awalnya, asrama ini memberi tempat kepada para remaja perempuan yang memerlukan tempat tinggal untuk menuntut ilmu di Kota Malang. Mereka berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Waktu itu asrama dihuni sekitar 200 remaja putri yang belajar di SMP sampai Perguruan Tinggi.
 
Para pelajar dan mahasiswa ini memiliki latar belakang berbagai suku: Dayak, Batak, Jawa, Manado, Flores, keturunan Tionghoa, dan lain-lain. Latar belakang keluarga pun berbeda-beda. Ada yang berlebih, ada yang pas-pasan. Keragaman ini tentu membutuhkan perhatian khusus dalam pendampingan.
 
Para suster pengasuh berpikir keras agar mereka yang menerima pendidikan di asrama mendapat pembekalan utuh dalam perkembangan pribadinya. Para suster berupaya agar anak-anak asuh ini mampu meraih masa depan dengan penuh tanggung jawab.
 
Menilik riwayat asrama ini, sedari awal penghuni asrama, yaitu remaja putri yang duduk di bangku SMP, SPG dan SMA bisa tinggal di dalam asrama dengan aman dan nyaman. Mereka tercukupi dengan fasilitas sederhana sesuai tuntutan saat itu. Mereka bisa belajar teratur di dalam asrama. Dengan pendampingan dari para suster, dijamin mereka akan berhasil dalam studi.
 
Dalam perkembangannya, ketika pemerintah menutup SPG, asrama pun kehilangan penghuni calon-calon guru. Penghuni tinggal remaja SMP dan SMA.
 
Sesuai zaman
Visi awal didirikannya Asrama Santa Maria Malang adalah untuk memberi perhatian pada kaum perempuan. Visi ini tetap menjadi pegangan sampai sekarang. Namun, kongregasi melihat, perhatian pada kaum perempuan ini harus dapat menjawab kebutuhan zaman dan sesuai tuntutan spiritualitas SPM, yaitu”Kesamaan Martabat”.
 
Maka, pengurus asrama pun berupaya melengkapi sarana asrama ini dari tahun ke tahun, disesuaikan dengan kebutuhan penghuni. Pimpinan asrama juga bekerja sama dengan kepala sekolah dan para guru tempat anak asuh menuntut ilmu.
 
Saat ini asrama mengasuh 93 anak yang terdiri dari 25 anak 68 orang anak belajar di SMA. Mereka berasal dari Semarang, Banten, Yogyakarta, dan berbagai daerah di Jawa Timur, Kalimantan, Sumba, dan Papua.
 
Bukan cuma belajar dan meraih ilmu yang membuat pribadi itu berkembang optimal. Masih diperlukan keterampilan yang mendukungnya. Karena itu, di asrama tersedia beberapa pelatihan keterampilan, antara lain kerumah-tanggaan yang meliputi kerapian, kebersihan kamar tidur, ruang belajar, ruang makan, ruang rekreasi, kamar mandi, dan tempat-tempat lain yang digunakan dalam keseharian.
 
Keteraturan bertugas diatur dengan piket kelompok. Sedangkan untuk membantu perkembangan hidup rohani, mereka menerima tugas dan berlatih liturgi menggereja, seperti kor dan lektris. Di asrama mereka memimpin doa harian sebelum/sesudah malam, sebelum/bangun tidur. Mereka berlatih memahami Sabda Tuhan secara terbimbing.
 
Akses internet
Menurut Sr Henrika, Asrama Santa Maria Malang mengutamakan keberhasilan pertumbuhan pribadi yang utuh, menyatu dengan tanggung jawab selaku perempuan untuk membangun masa depannya menjadi seorang ibu yang baik dan bertanggung jawab. ”Mereka harus belajar dengan tekun, teratur, dan disiplin sesuai dengan waktu yang disediakan,” ujar Sr Henrika. Jam wajib belajar dimulai pukul 18.30 hingga 21.30. Bagi mereka yang memerlukan, boleh belajar sampai tengah malam.
 
Tugas kelompok dibuat pukul 14.30–16.00. Demikian juga kegiatan ekstrakurikuler. Jika ada tugas yang harus dikerjakan di luar asrama, mereka boleh meninggalkan asrama. Paling lambat pukul 22.00 mereka harus sudah kembali. Kesempatan lain yang disediakan untuk keperluan pribadi di luar asrama, yaitu hari Sabtu pukul 16.00 – 20.00 dan hari Minggu pukul 09.00 – 13.00.
 
Penghuni asrama mendapat fasilitas makan dan makanan kecil (snack)sebanyak tiga kali setiap hari. Untuk pakaian, mereka boleh titip cuci seperlunya. Di asrama ini ada koperasi yang menyediakan alat tulis, fotocopy, dan keperluan lain. Penghuni tidak perlu seringkali harus belanja ke luar.
 
Mereka juga boleh mengakses internet berkaitan dengan tugas dan pelajaran di sekolah. Tersedia pula mobil yang mengantar mereka ke sekolah. Mereka pulang sekolah sendiri karena tidak bersamaan. Untuk tinggal di asrama dengan fasilitas seperti ini, mereka membayar Rp 750.000/bulan (tujuh ratus lima puluh ribu rupiah setiap bulan). Sedangkan untuk tranportasi dikenai bayaran Rp 50.000/ bulan (lima puluh ribu rupiah setiap bulan). Ada tiga anak yang merupakan anak asuh panti membayar lebih ringan.
 
Mengelola asrama putri berpenghuni 93 remaja bukan perkara mudah. Sr Henrika dibantu dua ibu asrama setiap saat harus berhadapan dengan keunikan-keunikan. Juga dalam berhubungan dengan sejumlah guru dari sekolah mereka masing-masing. Mereka juga tak lepas menempatkan diri di tengah masyarakat sekitar asrama.
 
Sr M. Henrika SPM berupaya mengemban tugas secara maksimal. Ia bekerja sama dengan pihak sekolah dan siapa pun yang terkait dengan pendidikan kaum remaja. Peran ini, demikian Sr Henrika, menuntut komitmen untuk saling menghargai dan menerima keberadaan setiap relasi sebagai saudari-saudari semartabat.
 
Jika ia harus memberi hukuman kepada para gadis remaja yang panjat pagar, itu merupakan ungkapan kasih sayangnya kepada mereka. ”Sebagai ibu,” demikian Sr Henrika, ”saya tidak ingin anak-anak terjerumus dalam kehidupan yang seenaknya sendiri, sehingga makin jauh dari masa depan gemilang yang mereka dambakan.”
 
Nama: Asrama Putri Santa Maria Malang
Alamat: Jalan Telomoyo 1A Malang
Berdiri: 20 Juli 1951
Penghuni: 93 remaja putri (2006)
Kepala: Sr M. Henrika SPM
 
Visi :
”Bertanggung jawab secara pribadi maupun bersama dalam interaksi dan sosialisasi dengan sesama yang dilandasi dengan nilai kasih dan semangat persaudaraan tanpa membedakan ras, suku, dan agama.”
 
Misi :
”Mengembangkan diri melalui interaksi dan sosialisasi dengan sesama sebagai saudara.”
 
Sr Lina SPM

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*