Artikel Terbaru

Yori Antar: Berdoa dengan Melihat Bangunan

Yori Antar: Berdoa dengan Melihat Bangunan
Mohon Beri Bintang
HIDUPKATOLIK.comNomen est omen, peribahasa Latin, yang kurang lebih berarti nama adalah tanda. Dalam setiap nama pasti terkandung makna. Yori Antar, seorang arsitek muda berbakat pun menyadarinya.
 
Yori adalah nama baptis dari Yori Antar. Sepintas orang bingung akan nama ini. Dalam bahasa Rusia, Yori adalah Gregorius. Nama ini mengingatkan juga pada seorang astronot terkenal Yori Gagarin. Yori Antar menyadari bahwa nama yang diberikan oleh Hans Awal, ayahnya, memang sesuai dengan kegemaran dirinya sejak kecil, yaitu dunia dirgantara.
 
”Yori Gagarin” kan seorang astronot hebat. Lagi pula, saya juga tertarik dengan dirgantara. Maka, nama saya memang sesuai jiwa saya,” ungkapnya.
 
Sejak kecil, Yori tertarik ingin merancang pesawat terbang. Ia pernah bercita-cita mendesain model pesawat terbang. Baginya, hal yang menarik adalah kekuatan imajinasi saat mendesain.
 
Selepas SMA, Yori mendaftarkan diri ke Jurusan Mesin Fakultas Teknik Universitas Indonesia (1981). Ia berpikir, melalui Jurusan Mesin ia bisa belajar banyak tentang kedirgantaraan. Namun, ternyata prediksinya salah. Memang, di Jurusan Mesin ada mata kuliah menggambar, tapi ia tidak bisa menjiwainya. ”Meskipun saya cuma menggambar baut, sekrup, atau semacamnya, saya tetap tidak bisa menghayatinya. Tidak ada yang bisa saya jiwai,” ungkap pria kelahiran Jakarta, 4 Mei 1962 ini.
 
Meskipun sudah belajar sungguh-sungguh, nilai-nilai yang ia dapatkan tidak bagus. Ia berpikir, sebentar lagi ia akan dikeluarkan (dropped out). Daripada dikeluarkan, ia memilih pindah ke Jurusan Arsitektur. Di sinilah, ia merasa kembali ke rumahnya. ”Di arsitektur, saya merasa seperti di rumah saja. Di samping yang mengajar adalah ayah saya, ternyata bahasa yang digunakan telah menjadi bahasa sehari-hari di rumah,” tutur suami Jacklyn Manangsang ini.
 
Tidak puas
Tanpa disadarinya, sejak kecil Yori sudah mengenal banyak unsur dalam bidang arsitektur. ”Ayah saya seorang arsitek. Beliau sering mengajak saya ngobrol dan berkeliling melihat bangunan-bangunan yang pernah dirancang, seperti RS Carolus, Atma Jaya, dan beberapa gereja di Jakarta,” ujar penulis buku Tibet di Otak ini.
 
Semakin lama, ia semakin mencintai dunia arsitektur. Setelah lulus kuliah, ia beserta beberapa alumni mahasiswa arsitektur mendirikan Arsitektur Muda Indonesia (AMI). Ia mengakui, AMI membuatnya semakin matang. Dalam organisasi ini, secara tidak langsung dibentuk forum diskusi terbuka yang sarat dengan perdebatan. ”Kami berdebat secara demokratis, egaliter, dan terbuka dalam hal apa saja, seperti soal desain, siapa yang merancang, karya pribadi, dan lain-lain,” ungkapnya.
 
Yori semakin terpacu untuk berbuat lebih. Baginya, AMI merupakan energi yang tak pernah habis. Di kala ia sedang penat, komunitas ini memberikan inspirasi. ”Di dalamnya, terbentuk wadah untuk saling mengasah,” tambahnya.
 
Sebagai seorang arsitek muda, ia merasa hasil karyanya belum matang. Ia selalu gelisah akan banyak hal. Kegelisahan ini selalu dipelihara supaya ia tidak berhenti mencari dan berproses. Ia merasa mati ketika berhenti bereksplorasi dan sudah puas dengan karyanya. ”Mungkin karya saya baru matang saat saya berumur 60 tahun,” candanya.
 
Dunia arsitektur ia maknai secara mendalam dan filosofis. Hal ini ia dapatkan dari teman-temannya di AMI. Dalam komunitas ini sudah tidak ada lagi sentimen primordial. Tidak ada kepedulian asal dan tempat belajar. Apa yang dipentingkan adalah ilmu untuk dibagikan. Semangat saling berbagi yang terintegrasi dalam diri para arsitek muda membuat suatu percepatan. ”Saya merasakan suatu percepatan pengetahuan sehingga ilmu saya tidak jalan di tempat saja. Dengan kata lain, ada suatu perkembangan, suatu lompatan,” ujarnya.
 
Hidupnya ia gambarkan dengan sebuah puzzle. Permainan puzzle tidak memberi penekanan pada gambarnya, melainkan pada prosesnya menyusun gambar. Di dalamnya, ada makna pencarian dalam sebuah proses. Sekalipun teman-temannya kerap mengomentari metafor ini, ia tetap teguh bahwa ia tak akan pernah puas untuk mencari dan melewati proses.
 
Tak digali
Selain menggambar, Yori gemar melakukan perjalanan (traveling) dan fotografi. Kedua hal ini disadarinya telah banyak membantu dalam membuka wawasan. Saat ia berkunjung dan melihat bangunan fisik secara nyata, ia bisa belajar merasakan. ”Di bangku kuliah, saya tidak pernah diajari untuk merasakan. Hal ini saya dapat saat saya traveling,” ujarnya.
 
Ia mengambil contoh Menara Eiffel. Ia sempat berpikir apa jadinya Paris tanpa Menara Eiffel. Dari hal ini, ia melihat adanya suatu kekuatan di balik sebuah bangunan. Di samping itu, karya-karya arsitektur itu diyakini menyimpan suatu keabadian dan kejujuran. ”Arsitektur sebuah bangunan adalah suatu wujud materi dari kejujuran, rekaman peradaban, dan sejarah peradaban umat manusia,” tambahnya.
 
Candi adalah salah satu contoh bangunan yang merekam secara simbolik era pada saat pembangunan, siapa yang memerintah, keadaan politik, cara berpikir manusia pada zamannya, dan lain-lain. Hal ini membuatnya yakin bahwa arsitektur berkaitan erat dengan kebudayaan tertentu.
 
”Arsitek itu memiliki daya mempengaruhi. Indonesia pun seharusnya mampu mempengaruhi dunia, bukan sebaliknya. Indonesia memiliki keanekaragaman budaya. Inilah kekayaan Indonesia yang sama sekali belum digali secara maksimal. Istilah saya, budaya Indonesia sedang tidur,” jelasnya.
 
Ia cukup kagum dengan kebudayaan Bali yang mampu mempengaruhi dunia. Arsitektur dan kekayaan seni lainnya yang ada di Bali dimanfaatkan oleh beberapa negara untuk menarik minat wisatawan mancanegara. Ia prihatin dengan keadaan ini. Sebab, bukan Indonesia yang mampu menggalinya, justru orang lain. Indonesia terlalu terbuai dengan tawaran dunia internasional.
 
Melihat keadaan tersebut, ia bercita-cita menggali arsitektur lokal. Dalam hal ini, ia selalu terinspirasi oleh Romo Y.B. Mangunwijaya Pr. Romo Mangun adalah sosok arsitek pertama yang merdeka dan kaya. Sebagai seorang arsitek, Romo Mangun adalah pribadi dengan ego yang tinggi. ”Justru seorang arsitek harus memiliki ego tinggi. Beliau tidak hanya berteori secara filosofis, tapi cara membangunnya pun penuh makna. Beliau selalu membangun sesuai konteks masyarakat,” tuturnya.
 
Yang mengundang
Melihat semangat Romo Mangun, ia semakin mantap pada pemahaman bahwa hakikat utama arsitek adalah menghidupkan, bukan mematikan. Baginya, membangun sebuah gedung adalah hal mudah. Persoalannya, apakah gedung itu bisa bertahan dan diterima masyarakat sekitar.
 
Bangunan fisik sebenarnya terkait dengan kualitas unsur-unsur yang membentuk kemasyarakatan. ”Bayangkan saja, andaikata sebuah lapangan bola dijadikan area mal. Nantinya, akan banyak perubahan sikap mental masyarakat sekitar. Misalnya, orang malah lebih sering berkelahi karena berebut lahan sepak bola, pola-pola konsumtif, dan lain-lain,” ujarnya.
 
Itulah letak kesalahan sebuah bangunan. Bukannya menghidupkan, malah mematikan suasana. Maka, ia tidak heran atas kejadian pembakaran atau penutupan beberapa tempat ibadah. Dari sudut lain, ia melihat kesalahan terletak pada bentuk bangunan yang dirasa asing dan membuat masyarakat sekitar merasa kurang nyaman. ”Gereja di Poh Sarang, Kediri adalah sebuah gereja yang berdiri di tengah-tengah komunitas yang mayoritas Muslim. Tetapi, mengapa gereja itu tidak pernah diusik atau ditolak? Saya yakin, alasannya adalah bangunan gereja yang menyatu dengan lingkungan sekitar. Bangunan seperti ini tidak membuat jarak, malah semakin menghidupkan,” ungkapnya.
 
Menurut Yori, idealnya setiap tempat ibadah harus memberi kontribusi pada lingkungan sekitarnya. Di Paris, ia pernah melihat sebuah kapel yang amat indah. Ia kagum dan merasa bahwa kapel ini memiliki aura spiritual yang universal. ”Saat melihatnya, saya merasa sudah beribadah. Bahkan, teman saya yang Muslim pun merasa nyaman dengan kapel tersebut,” katanya.
 
Baginya, gereja seharusnya tidak hanya menjadi sebuah bangunan yang indah tempat orang bisa berdoa, melainkan harus memiliki daya undang. Gereja harus bisa mengundang orang untuk berdoa. Gereja semacam ini adalah gereja yang tidak memberi jarak bagi umatnya yang berasal dari berbagai lapisan masyarakat. ”Jangan sampai membangun gereja yang megah, berlantaikan keramik, tapi seorang tukang becak malah merasa tidak pantas untuk masuk ke dalamnya!” serunya.
 
Dari beberapa negara yang pernah dikunjungi, Yori menyadari bahwa ada suatu hal yang paradoks dalam arsitektur tempat ibadah. Ada tempat ibadah megah dan menawan, tapi tidak menawarkan rasa beribadah. Namun, ada juga bangunan biasa yang membuat orang merasa nyaman. Rasa nyaman ini adalah aura spiritual yang membuat orang rindu berdoa.
 
Pendiri Galeri Puzzle ini tidak mengetahui jawaban yang pasti akan permasalahan tersebut. Tetapi, justru itulah seni hidup. Dalam ketidaktahuannya, ia akan terus berjuang untuk mendapatkan jawaban yang pasti. Tentu saja, akan berguna bagi gerejagereja di Indonesia, terlebih kehidupan spiritual umat manusia.
 
Yori Antar
Nama: Yori Antar
Lahir: Jakarta, 4 Mei 1962
Pendidikan: S1 Jurusan Arsitektur UI (1982-1988)
Pekerjaan: Arsitek di PT Han Awal & Partners Architects
Istri: Jacklyn Manangsang
Anak: Kai Orion
Karya Bangunan:
Gereja St Andreas Kedoya, Jakarta Barat
Gereja St Yakobus, Kelapa Gading, Jakarta Utara
Gereja St Matius Penginjil Bintaro, Tangerang
Galeri Puzzle/Puzzle House (1992), Cinere, Jakarta Selatan
Buku: The Long Road Toward Recognition Tibet Di Otak
 
Agustinus Tri Nugroho
(Sumber Majalah HIDUP, Edisi No. 6 Tanggal 11 Februari 2007)

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*