Artikel Terbaru

Kerbau dan Lalat

Sumber Foto: guraru.org
Kerbau dan Lalat
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Nelayan dalam seluruh konstelasi penentu kebijakan ekonomi dan bisnis global adalah lalat yang terbang kesana kemari di sekitar tubuh kerbau. Lalat mencari dan makan apa saja di sekitar kerbau yang bisa dimanfaatkan untuk hidupnya. Sementara kerbau juga terus asyik dengan kegiatannya sendiri.

Kita hidup di abad yang ditandai dengan masyarakat organisasi. Semua warga yang hidup di abad ini tidak bisa dilepaskan dari sebuah jaringan. Jaringan ini meliputi sosial, politik dan ekonomi. Lebih tegas, jika seseorang ingin tetap survive dia harus masuk dan menjadi bagian jaringan, organisasi, atau lembaga. Ini sudah dikatakan oleh Margaret Thatcher, Perdana Menteri Inggris di awal tahun 1980-an. Dengan demikian – sedikit ekstrem – tidak ada seorang seniman yang mampu total tinggal sendiri di sebuah pulau dan mengisi hidupnya dengan melukis atau menulis puisi.

Benarkah demikian?

Kita ternyata memiliki alternatif lain: karier portofolio. Kita bisa bekerja di rumah, di halaman, di ladang, di pantai. Dengan demikian kita tidak harus bekerja di kantor atau pabrik. Orang dengan pendidikan rendah hingga akademisi semua terbuka untuk menekuni karier ini. Kita membuat roti, memberi les privat di rumah, hingga memroduksi kerajinan tangan.

Tidak sedikit orang dengan gelar Master dan Doktor mengambil pensiun awal – katakanlah sebelum berumur lima puluh tahun – dan kemudian memulai karier lain. Mereka sudah kenyang pergi ke kantor berdesak-desakan di jalan, dan pulang larut malam setelah didera kelelahan dengan sekian rapat dan pertemuan setiap hari.

Harus diakui bahwa orang dengan profesi semacam itu adalah lalat yang berterbangan di sekitar kerbau. Orang akan lebih memperhatikan si kerbau. Sementara lalat hanya dianggap sebagai binatang yang terbang kesana kemari tanpa memberikan makna. Kita memang lebih kerap terpesona pada gedung kantor tinggi dengan sistem raksasa disertai dengan detail yang sulit dibayangkan oleh kebanyakan awam.

Namun demikian, kerbau hampir tidak pernah pergi di luar rute tetap. Pagi ke luar dari kandang menuju tempat pembajakan, dan pulang kembali ke kandang di sore atau malam hari. Sebaliknya, lalat yang tidak pernah punya jalan setapak yang tetap. Ia kreatif terus menerus. Tidak mengherankan manusia-manusia jenis lalat lebih memiliki passion (gairah).

Kebenaran baru kerap tidak langsung diadaptasi. Biasanya ia menyatakan diri lewat tiga tahap. Pertama, mula-mula ia dianggap aneh oleh orang pada umumnya. Kedua, ia akan dilawan. Ketiga, ia akan diterima sebagai keyakinan setelah mampu membuktikan dirinya.

Orang kerap menertawakan gagasan yang menawarkan hidup dan karier menyerupai ”lalat”. Tetapi kita sebaiknya curiga, bahwa banyak orang yang ternyata berharap untuk menikmati hidup semacam itu. Bahkan, banyak orang sebenarnya sudah mempraktikkan cara bekerja seperti itu. Dan sumbangan merekalah yang membuat banyak bangsa – Indonesia di antaranya – mampu berdiri tegak.

Kita kenal pastoral nelayan. Pastoral ini memperagakan bagaimana ”organisasi lalat” diatur. Agar kelompok kecil seperti nelayan ini mampu bertahan hidup ia juga harus tetap membangun komunitas.

Ada semacam paradoks, semakin global realita hidup kita, perkara lokal harus semakin diperhatikan. Ingat, makna global menjadi kosong bila tidak ada lokal. Ini terbukti ketika krisis tahun 1997 melanda dunia. Masyarakat yang paling mampu bertahan adalah mereka yang ruang lingkup hidupnya berbasis lokal. Mereka tidak mendapatkan pukulan gelombang negatif yang meluluhlantakkan masyarakat kelas menengah yang kehidupannya sangat global.

Dengan demikian panggilan pastoral nelayan pertama-tama adalah memberikan penguatan komunitas lokal. Jangan sok menjadi global jika segala perangkatnya belum siap. Dan khususnya untuk kondisi Indonesia sekarang, prioritas penguatan lokal perlu dilakukan.

Orang tentu akan berkata, ”Ini sulit”. Memang. Namun demikian, berpikir alternatif inilah yang bisa memberikan sumbangan positif pada dunia. Kita tidak hanya ikut trend yang ada. Dan berpikir alternatif adalah mungkin.

Redaksi

(Sumber Majalah HIDUP, Edisi No. 6 Tanggal 11 Februari 2007).

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*