Artikel Terbaru

Sakramen Tobat Sebelum Dibaptis

Sumber: [allofmylovenfp.blogspot.com]
Sakramen Tobat Sebelum Dibaptis
Mohon Beri Bintang
HIDUPKATOLIK.comPada masa Adven yang lalu, ada seorang Ibu yang tidak Katolik ikut serta antri untuk menerima Sakramen Tobat. Akhirnya Ibu itu juga masuk ke dalam ruang pengakuan dosa. Romo juga tahu bahwa Ibu itu belum Katolik. Apakah seorang yang belum Katolik boleh menerima Sakramen Tobat?
Lita Cendrawati, Surabaya
Sakramen Tobat hanya boleh diterima oleh orang yang sudah dibaptis. Karena itu Sakramen Baptis disebut sebagai pintu gerbang untuk sakramen-sakramen
lainnya (ianua sacramentorum). Bisa saja seorang yang belum Katolik datang kepada imam untuk mengakukan dosa-dosanya sebagai ungkapan penyesalannya. Tetapi pengakuan itu bukanlah sakramen, dan orang tersebut tidak bisa memperoleh pengampunan dosa (absolusi) dari imam. Tetapi imam tetap bisa memberi nasihat dan kemudian mendoakan orang tersebut, termasuk juga memohonkan pengampunan dari Tuhan. Kemungkinan, inilah yang terjadi
pada saat Ibu itu masuk ke ruang pengakuan dosa, karena Romo tersebut juga sudah tahu bahwa Ibu itu belum Katolik.
***
Menurut pelajaran agama yang saya terima dulu, Sakramen Baptis berguna untuk menghapuskan dosa asal dan dosa-dosa lainnya. Jika demikian, mengapa Yesus dibaptis? Bukankah Yesus tidak mempunyai dosa? Apakah yang diterima oleh Yesus itu juga adalah Sakramen Baptis? Mohon pencerahan Romo!
Theresia Maria Agustyarini, Malang
Pertama, pembaptisan yang diterima Yesus bukanlah Sakramen Baptis, seperti yang kita terima. Sakramen-sakramen baru ada sesudah kebangkitan dan kenaikan Yesus ke surga, karena sakramen-sakramen adalah tanda dan sarana kehadiran Yesus di dunia. Yang diterima oleh Yesus dari Yohanes adalah pembaptisan pertobatan untuk pengampunan dosa (bdk. Mrk 1:4).
Benar bahwa Yesus tidak mempunyai dosa. Tidak ada satu penginjil pun yang menyiratkan bahwa Yesus memerlukan pembaptisan tersebut. Yesus memang
sama seperti kita manusia kecuali dalam hal dosa (Hbr 4:15). Karena itulah Yohanes Pembaptis berkeberatan membaptis Yesus (Mat 3:14). Yesus dibaptis bukan supaya Dia bertobat. Dengan dibaptis, Yesus menunjukkan
solidaritas-Nya dengan seluruh umat manusia yang berada di bawah kuasa dosa dan membutuhkan penyelamatan dari Allah. Inilah yang dikehendaki
Allah (Mat 3:15).
Kedua, selain solidaritas ini, ada makna yang sangat penting yang diungkapkan oleh para penginjil sinoptik dalam peristiwa pembaptisan Yesus itu. Pembaptisan Yesus oleh Yohanes ini sungguh merupakan kunci utama untuk mengerti arti pelayanan dan pesan Yesus. Hal ini dinyatakan melalui pewahyuan yang diterima Yesus dari Bapa sesudah Dia keluar dari air, yaitu ”Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan” (Mat 3:17). Markus dan Lukas mengungkapkan sebagai seruan Bapa: ”Engkaulah Anak yang Kukasihi, kepada-Mulah Aku berkenan” (Mrk 1:11; Luk 3:22). Seruan Bapa itu menggabungkan Mzm 2:7 (”AnakKu engkau!”) dan Yes 42:1 (”yang kepadanya Aku berkenan”). Jadi, seruan Bapa itu menunjukkan misi mesianis macam apa yang menjadi panggilan Yesus.
Rujukan pada Mzm 2:7 (yaitu Mazmur pentahtaan Mesias Raja) menunjukkan bahwa Yesus akan ditahtakan menjadi Raja, tetapi caranya bukanlah seperti apa yang diharapkan oleh umat Israel pada waktu itu. Cara ini ditunjukkan oleh rujukan kedua, yaitu awal Kidung Hamba Allah (Yes 42:1). Perlu diingat bahwa menurut budaya Yahudi, rujukan pada awal suatu buku atau bagian,
berarti merujuk ke keseluruhan buku atau bagian itu. Maka, rujukan Yes 42:1 (kata-kata awal Kidung Hamba Allah yang pertama) menunjukkan bahwa Yesus itulah hamba Allah yang akan menjalani semua yang dikatakan tentang hamba Allah. Yesus adalah ”hamba” yang tidak akan bersuara dan berteriak, dan tidak membuat suaranya terdengar di jalan-jalan. Dia tidak akan melakukan perbuatan-perbuatan spektakuler (Yes 42:2). Dia akan mewujudkan perjanjian Allah dengan umat-Nya, tetapi akan juga menjadi terang universal bagi bangsa-bangsa dan akan menegakkan ”keadilan”, yaitu tatanan adil Allah atas seluruh dunia (Yes 42:6.4). Jika melihat Kidung Hamba Allah yang terakhir, maka bisa dikatakan bahwa pembaptisan Yesus bukan hanya merupakan tindakan solidaritas dengan orang-orang berdosa, tetapi sudah merupakan antisipasi dari penanggungan Yesus atas ”dosa-dosa orang banyak” dalam kematian-Nya yang menebus (Yes 53:11-12).
Pastor Dr Petrus Maria Handoko CM
(Sumber Majalah HIDUP, Edisi No. 6 Tanggal 11 Februari 2007)

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*