Artikel Terbaru

LPK Mutiara Kasih Jakarta: Pelatihan Kesehatan untuk Perempuan

Angkatan III: Peserta pelatihan Angkatan III dan pengurus di depan Wisma St Anna, tempat pelatihan berlangsung selama dua bulan.
[HIDUP/Anton Sumarjana]
LPK Mutiara Kasih Jakarta: Pelatihan Kesehatan untuk Perempuan
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Pensiun tidak berarti menganggur. Bahkan, bisa lebih berbuat nyata untuk membantu orang lain. Itulah yang dilakukan para mantan perawat dan tenaga kesehatan Rumah Sakit Sint Carolus Jakarta.

Saat masih aktif berdinas sebagai perawat di RS Sint Carolus, Agustin Marhaeni hampir tak mempunyai waktu untuk melakukan kegiatan sosial. Sehari-hari aktivitas Agustin – demikian sapaan akrabnya – tersita untuk merawat pasien di rumah sakit ternama ini.

Sewaktu masa pensiunnya tiba, muncul dalam pikirannya untuk berbagi pengalaman dan keahlian yang ia kecap selama puluhan tahun sebagai perawat. Dalam benaknya, tergambar sebuah pelatihan singkat dalam hal pengasuhan bayi, orang sakit, dan orang jompo. Ide ini ia lontarkan kepada sesama mantan perawat di RS Sint Carolus dan langsung mendapat sambutan baik.

Adalah Agustin Marhaeni, plus Christina Matondang, Yohana Purwanti, Felisitas Irene Kusuma, M. M. Eny Susatyo, dan Rosa Maryono yang mematangkan ide ini. Maka, terbentuklah Lembaga Pendidikan dan Keterampilan ”Mutiara Kasih” pada September 2006. Lembaga ini didukung oleh Yayasan Pendidikan Kesehatan Carolus (YPKC) dan Yayasan Pengembangan dan Manajemen Kesehatan Perdhaki. Bertindak sebagai pelindung LPK ”Mutiara Kasih” adalah Imelda Hoddy SKM dari Perdhaki.

Lembaga ini hadir dengan visi mengurangi pengangguran dan menyediakan lapangan kerja bagi para wanita dewasa. Imelda Hoddy menuturkan, para mantan perawat RS Sint Carolus merasa prihatin, masih banyak perempuan dewasa di Indonesia yang lulus SMP atau SMA tidak mendapatkan pekerjaan. Bahkan, banyak dari mereka terpaksa putus sekolah.

”Tiga puluh juta anak di Indonesia putus sekolah. Sementara di tengah tingkat pengangguran yang tinggi, terbuka peluang kerja di luar negeri. Tetapi, para perempuan Indonesia tidak bisa mengambil peluang ini karena tidak mempunyai keterampilan,” urai Imelda tentang latar belakang dibentuknya LPK Mutiara Kasih.

Asrama
Begitu terbentuk, LPK Mutiara Kasih langsung menyelenggarakan kegiatan. Pelatihan bertempat di Wisma Santa Anna, sekitar 20 meter tepi barat Jl Raya Bogor Km 24,6 Cijantung, Jakarta Timur, milik RS Sint Carolus. Di lokasi ini juga terdapat Balai Kesehatan Masyarakat (Balkesmas) dan Rumah Bersalin.

Materi pelatihan (teori dan praktik) meliputi: Etika Keperawatan dan Etiket, Pergaulan, Komunikasi, Aspek Hukum, Gizi, Kebersihan, Kesehatan Perorangan, Kesehatan Ibu dan Anak, Perawatan bayi, Perawatan Umum, Perawatan Lansia, dan P3K. Juga diberikan pengetahuan tentang Kesehatan Reproduksi dan Kesetaraan Jender.

Angkatan pertama berlangsung September-Oktober 2006. Pesertanya empat orang, seorang lelaki dan tiga perempuan. Mereka terjaring dari berbagai daerah di Indonesia. Selama dua bulan pelatihan mereka tinggal di asrama.

Sebenarnya, menurut Penanggung Jawab LPK Mutiara Kasih, Agustin Marhaeni, untuk mencapai peserta ideal (25 orang) pihaknya telah menyebar brosur ke paroki-paroki di Jakarta dan sekitarnya. Namun, hanya empat orang yang terjaring. ”Mereka lebih tertarik menjadi SPG (Sales Promotion Girl) atau bekerja di pabrik. Bekerja di rumah tangga masih identik dengan pembantu. Image ini tidak menguntungkan,” tutur Agustin memberi alasan.

Angkatan berikutnya diikuti delapan orang. Mereka juga datang dari berbagai daerah di Indonesia, seperti Manado, Nusa Tenggara Timur, Jawa, dan Lampung. Sedangkan Angkatan III, dimulai Februari 2007. Peserta berjumlah tujuh orang perempuan. Semua lulusan SMA.

Salah satu peserta Angkatan III adalah Maria Magdalena (25 tahun), asal Bajawa, NTT. Lulusan SMA Negeri Aimere (2004) ini pernah bekerja di supermarket di Jakarta selama dua tahun. Berhubung supermarket itu bangkrut, ia menganggur.

Suatu hari, Maria membaca brosur LPK Mutiara Kasih di papan pengumuman di depan Gereja St Arnoldus Bekasi. Ia pun terpikat. Hari berikutnya Maria menelepon Ibu Eny dan Ibu Christina di Mutiara Kasih. Ia menyampaikan niatnya mengikuti program pelatihan ini.

Sekarang Maria telah mengikuti pelatihan selama tiga minggu. Setiap hari, mulai pukul 08.00-15.00, bersama enam peserta lain, Maria berada di ruang kelas. Dua perawat dan dua bidan membimbing mereka selama pelatihan. Dua perawat adalah Yohana Purwanti (sekaligus Penanggung Jawab Pelatihan) dan Christina Matondang (sekaligus Ibu Asrama). Sedangkan dua bidan adalah Z. Kirti dan Herlina.

Maria tidak mengeluhkan materi yang ia terima selama tiga minggu ini. Ia hanya berpikir segera menyelesaikan pelatihan untuk mendapatkan pekerjaan. ”Jujur saja ya, saya pernah merawat nenek. Saya benar-benar merasakan penderitaan orang jompo seperti apa. Karena itu, saya ingin merawat mereka,” ucap Maria dengan penuh keyakinan.

Disalurkan
Jika Maria nanti menyelesaikan program pelatihan selama dua bulan, ia akan ditempatkan sebagai pengasuh bayi atau pengasuh orang dewasa yang sakit. Ia juga bisa menjadi perawat orang jompo. Demikian juga peserta pelatihan lainnya. Pihak lembaga akan menyalurkan mereka ke keluarga-keluarga yang membutuhkan jasa pengasuhan mereka. Baik keluarga-keluarga di Jakarta dan sekitarnya, atau bahkan di luar negeri.

Para pengurus lembaga ini menjamin lulusannya mampu bekerja dengan baik. Menurut Christina Matondang, selama pelatihan peserta telah dibekali ilmu dan keterampilan yang memadai. Baik teori dan lebih-lebih praktik kerja di dua tempat: RB St Anna yang terletak di kompleks yang sama dan Panti Werdha Melania di Rempoa, Ciputat, Tangerang.

Salah satu materi yang menurut Christina penting adalah soal komunikasi. Soal ini diajarkan secara sederhana sehingga peserta mampu hadir secara utuh sebagai alat dalam proses terapi. ”Komunikasi tidak sekadar cara menyampaikan pesan kepada orang lain. Tetapi, lebih dalam daripada itu. Pengasuh bisa mendengarkan apa pun yang diungkapkan orang yang diasuhnya dengan penuh perhatian. Ia harus bisa mencermati, bahkan kalau perlu memberi solusi,” terang Christina.

Menurut Agustin, semua lulusan Angkatan I dan II sudah mendapat tempat di keluarga-keluarga. Ada satu orang yang bekerja di Kanada. Kepada keluarga-keluarga yang membutuhkan jasa mereka, lembaga mengajukan persyaratan tertentu yang tertuang dalam kontrak kerja. Misalnya, pengasuh mendapat gaji pertama sebesar Rp 700 ribu dan hak libur dua hari dalam sebulan.

Jika ada komplain atas pelayanan pengasuh, pengguna jasa langsung berhubungan dengan LPK Mutiara Kasih. ”Biasanya kami kunjungi keluarga itu untuk memberi bimbingan lebih lanjut kepada pengasuh,” tutur Agustin. Intinya, menurut Imelda Hoddy, lembaga akan bertanggung jawab atas pelayanan yang diberikan lulusannya.

Umumnya para pengguna jasa mengkhawatirkan pengasuh yang diambil dari yayasan tidak akan kerasan. Atau, bahkan, sengaja dibuat agar pengasuh tidak kerasan, lalu cepat berpindah majikan. Tentang ’permainan-permainan’ seperti ini Agustin berujar, ”Kami ingin pengasuh bisa betah selama-lamanya di sebuah keluarga!” tegasnya.

Ke depan, para mantan perawat RS Sint Carolus yang mematrikan komitmen di lembaga ini berniat mengembangkan karya sosial ini. Imelda mengajukan rencana untuk berpromosi ke keuskupan-keuskupan di Jawa. ”Kami akan mengenalkan siapa kami, sekaligus menjemput peminat,” katanya.

Dengan demikian makin banyak perempuan dewasa yang masih menganggur akan menikmati hidupnya dengan bekerja dan memperoleh penghasilan. Syukur-syukur, seperti niat Maria Magdalena, sambil melayani orang-orang sakit atau jompo yang tidak berdaya.

Nama : LPK Mutiara Kasih
Berdiri : September 2006
Alamat : Wisma St Anna, Jl Raya Bogor Km 24,6 Cijantung, Jakarta Timur
Telpon/kontak: YPMK Perdhaki (021) 3914843, 3920250
Email : [email protected] / [email protected]
Kegiatan : Pelatihan untuk menjadi pengasuh bayi, orang sakit, orang jompo

Anton Sumarjana

(Sumber Majalah HIDUP, Edisi No. 10, Minggu, 11 Maret 2007)

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*