Artikel Terbaru

Kesetaraan Laki-laki dan Perempuan

[tribune.com]
Kesetaraan Laki-laki dan Perempuan
Mohon Beri Bintang
HIDUPKATOLIK.comMenyimak gerakan membela perempuan dalam masyarakat kita, saya bertanya-tanya, apakah Kitab Suci kita memang mengajarkan bahwa perempuan itu lebih rendah daripada laki-laki? Alasannya: 1) pria diciptakan terlebih dahulu (bdk 1 Kor 11:8-9; 1 Tim 2:11-15); 2) perempuan diciptakan dari tulang rusuk pria (Kej 2:21), dan 3) Kej 3:16 mengatakan bahwa laki-laki akan berkuasa atas perempuan, 4) Apalagi kalau kita menyimak 1 Kor 14:34-35. Mohon tanggapan Romo.
Maria Teresia Tunu, Sumba
Pertama, baik kalau kita pertama-tama melihat maksud penciptaan Allah yang tercermin dalam kisah penciptaan Kej 2:4b-25. Kesalahan umum dalam menafsirkan perikop ini ialah bahwa kata ”manusia” langsung diartikan sebagai Adam, manusia laki-laki. Padahal, dalam bahasa Ibrani, kata ”Adam” yang ditulis dengan kata sandang berarti manusia pada umumnya, belum dibedakan antara laki-laki dan perempuan.
Perhatikan perikop itu tidak menyebut nama ”Adam” sama sekali. Apa yang dikatakan tentang manusia berlaku baik untuk laki-laki maupun perempuan (ay 4b sampai ay 20). Harus dikatakan bahwa perbedaan gender harus diletakkan di bawah kemanusiawian. Perbedaan gender itu muncul dalam rangka untuk mengerti manusia secara lebih mendalam. Dengan demikian, tidak bisa dikatakan bahwa laki-laki lebih tinggi derajatnya daripada perempuan karena laki-laki lebih dahulu diciptakan (Kej 2:21). Ini sesuai dengan Kej 1:27 yang secara eksplisit menegaskan bahwa baik laki-laki maupun perempuan diciptakan menurut citra Allah, dan karena itu sepadan martabatnya.
Kedua, penciptaan manusia Hawa dari tulang rusuk manusia menunjukkan bahwa laki-laki dan perempuan berasal dari kesatuan yang lebih mendalam daripada perbedaan gender di antara mereka. Bisa saja Allah membuat sejak awal dua manusia, laki-laki dan perempuan. Tapi, hal ini tidak dilakukan Allah, justru untuk menunjukkan kesatuan asali antara laki-laki dan perempuan. Jeritan kegembiraan Adam yang terkenal: ”Inilah dia, tulang dari tulangku, dan daging dari dagingku” (Kej 2:23) bisa ditafsirkan bahwa manusia ”terbangun dari tidurnya” dan mencapai kesadaran dirinya sebagai laki-laki dan perempuan.
Laki-laki mengenali dalam diri perempuan teman ”yang sepadan” (Kej 2:18), bukan yang lebih rendah, dan yang berbeda dengan binatang-binatang. Kesadaran akan kehadiran sesama yang sepadan ini mengatasi kesendirian asali (Kej 2:18). Mereka menemukan maskulinitas dan femininitas yang saling melengkapi, dan karena itu mereka bisa bersatu. Jadi, Kej 2:21 tidak menunjukkan bahwa perempuan lebih rendah.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*