Artikel Terbaru

Punya Anak di Kota Lain

[telegraph.co.uk]
Punya Anak di Kota Lain
Mohon Beri Bintang
HIDUPKATOLIK.com – Saya bertetangga dengan seseorang, sebut saja A (Katolik), nikah dengan B (Islam) di KUA. Setelah beberapa tahun mereka mempunyai seorang anak, B minta dibaptis. Kemudian A-B melakukan pembaruan pernikahan.
 
A bekerja di kota lain, tempat tinggal berjauhan, sehingga dua atau tiga bulan baru pulang. Sedangkan uang untuk keluarga dikirim bila ia tidak pulang. Beberapa tahun berjalan lancar, tidak ada gangguan. Tetapi, dalam waktu 3-4 bulan terakhir ini, tahu-tahu/diketahui bahwa A telah punya anak dengan C, dan anaknya telah berumur lima tahun. Dengan C nikah atau tidak, saya tidak tahu.
 
Yang saya tanyakan, bagaimana status suami (A) sehubungan dengan imannya dan bagaimana jalan keluarnya. Apakah selamanya A tidak bisa menyambut komuni?
 
Josephine, Temanggung
 
Pastor Al. Purwa Hadiwardaya MSF:
Ketika tetangga Anda, si A, yang beragama Katolik itu menikah di KUA dengan si B yang beragama Islam, ia memulai hidup perkawinan yang menurut agama Katolik tidak sah, tetapi menurut agama Islam dan menurut negara kita sah-sah saja.
 
Beberapa tahun kemudian, ketika si A dan si B melaksanakan pembaruan pernikahan, perkawinan mereka menjadi sah pula menurut agama Katolik. Bahkan, karena si B sudah dibaptis juga, perkawinan mereka menjadi perkawinan sakramen. Pantas disayangkan, si A tampaknya selingkuh dengan wanita lain, si C, sampai si C melahirkan seorang anak.
 
Bagi Gereja, istri A yang sah hanyalah satu, yakni si B. Selama si A mejalin relasi dengan si C, tentu saja ia tidak layak menerima sakramen-sakramen. Kalau pun ia nekad menerima sakramen-sakramen, sakramen-sakramen yang ia terima itu kiranya tidak menghasilkan rahmat apa pun. Bahkan, sakramen-sakramen itu malah memperburuk kondisi rohaninya, sebab ia telah ’melecehkan’ sakramen-sakramen.
 
Kalau si A mau bertobat dan layak menerima sakramen-sakramen lagi, ia haruslah memutuskan relasinya dengan si C. Tentu saja ia tetap punya kewajiban moral untuk memberi nafkah kepada si C dan anaknya.
 
***

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*