Artikel Terbaru

Perkawinan Menurut Paulus

[wisegeek.org]
Perkawinan Menurut Paulus
Mohon Beri Bintang
HIDUPKATOLIK.com – Surat pertama kepada umat Korintus diakui oleh banyak ahli Kitab Suci sebagai tulisan Santo Paulus. Karena itu, dengan membacanya, kita dapat mengungkap pandangan rasul tentang berbagai hal, terutama yang terkait dengan iman dan moral.
 
Pandangan Santo Paulus tentang perkawinan dapat kita temukan dalam bentuk yang cukup utuh pada pasal 7 dari surat tersebut. Di bawah ini beberapa segi penting dari ajaran yang penting itu.
 
Menikah atau melajang?
Ayat 1-2 berbunyi sebagai berikut: Adalah baik bagi laki-laki kalau ia tidak kawin, tetapi mengingat bahaya percabulan baiklah setiap laki-laki mempunyai istri sendiri dan setiap perempuan mempunyai suaminya sendiri.
 
Menurut para ahli Kitab Suci, waktu menulis surat pertama Korintus, Santo Paulus masih mengira bahwa akhir zaman segera tiba. Berdasarkan asumsi itulah ia berpendapat bahwa para pemuda Kristen tidak usah repot-repot menikah. Untuk apa menikah, kalau akhir zaman segera tiba. Karena itulah, kepada para pemuda Kristen itu Santo Paulus memberi saran pribadinya: Adalah baik bagi laki-laki kalau ia tidak kawin…
 
Meskipun demikian, Santo Paulus juga menyadari bahwa beberapa pemuda Kristen tidak mampu hidup melajang. Maka, terhadap mereka itu dia memberi pilihan lain: Tetapi, mengingat bahaya percabulan, baiklah setiap laki-laki mempunyai istrinya sendiri…
 
Saran yang sama diberikannya untuk para pemudi Kristen yang tidak mampu hidup melajang.
 
Kesetiaan suami-istri
Ayat 3-4 berbunyi sebagai berikut: Hendaklah suami memenuhi kewajibannya terhadap istrinya, demikian pula istri terhadap suaminya. Istri tidak berkuasa atas tubuhnya sendiri, tetapi suaminya, demikian pula suami tidak berkuasa atas tubuhnya sendiri, tetapi istrinya.
 
Nasihat di atas jelas ditujukan kepda pria-pria dan wanita-wanita Kristen yang sudah menikah. Nasihatnya sangat tegas dan lugas. Intinya: suami harus memenuhi kewajiban-kewajibannya terhadap istrinya; istri harus memenuhi kewajibannya terhadap suaminya. Dan, salah satu dari kewajiban-kewajiban tersebut adalah kewajiban di bidang seksual. Santo Paulus berpendapat bahwa orang yang telah menikah punya kewajiban-kewajiban tertentu terhadap pasangan hidupnya, dan kewajiban-kewajiban itu haruslah dipenuhi.
 
Pisah sementara
Ayat 5-6 berbunyi sebagai berikut: Janganlah kamu saling menjauhi, kecuali dengan persetujuan bersama untuk sementara waktu, supaya kamu mendapat kesempatan untuk berdoa. Sesudah itu hendaklah kamu kembali hidup bersama-sama, supaya iblis tidak menggoda kamu, karena kamu tidak tahan bertarak. Hal ini kukatakan kepadanya sebagai kelonggaran bukan sebagai perintah.
 
Santo Paulus mengetahui bahwa beberapa orang Kristen kadang-kadang terpaksa berpisah sementara dari suami atau istrinya. Terkait dengan kenyataan itu, rasul agung itu merasa perlu memberi rambu-rambu berikut: sebagai prinsip, suami dan istri sebaiknya tidak berpisah; tetapi kalau mereka berdua bersepakat, mereka boleh berpisah sementara, asal ada alasan dan tujuan yang baik; sedapat mungkin, suami-istri yang berpisah itu segera hidup bersama lagi, terutama agar kedua-duanya tidak tergoda untuk selingkuh dengan orang lain.
 
Hidup melajang
Ayat 7 berbunyi: alangkah baiknya kalau semua orang seperti aku; tetapi setiap orang menerima dari Allah karunianya yang khas, yang seorang karunia ini, yang lain karunia itu.
 
Menurut para ahli Kitab Suci, saat menulis surat pertama Korintus, Santo Paulus hidup melajang. Dan, karena mengira akhir zaman segera tiba, ia mengungkapkan pendapatnya secara terus terang; sebaiknya semua orang melajang saja seperti dia! Namun, ia juga menyadari bahwa tidak semua orang dipanggil dan diberi karunia untuk hidup melajang. Karena itu, ia segera menyambung: tetapi mereka yang dipanggil Tuhan untuk menikah, ya sebaiknya menikah saja!
 
Perceraian
Ayat 10-11 berbunyi: Kepada orang-orang yang telah menikah, aku – tidak, bukan aku, tetapi Tuhan (Yesus) – memerintahkan, supaya seorang istri tidak boleh menceraikan suaminya. Dan, jikalau ia bercerai, ia harus tetap hidup tanpa suami atau berdamai dengan suaminya. Dan, seorang suami tidak boleh menceraikan istrinya.
 
Entah berdasarkan informasi dari siapa, Santo Paulus tahu bahwa Tuhan Yesus melarang pengikutnya menceraikan suami atau istrinya. Karena itu, dengan terus terang ia menegaskan; Tuhan (Yesus), bukan dia sendiri, melarang orang Kristen bercerai dari suami atau istrinya. Sementara itu, kepada mereka yang sudah terlanjur atau terpaksa bercerai, Santo Paulus menegaskan kembali ajaran Tuhan (Yesus): orang Kristen yang sudah terlanjur bercerai harus tetap hidup sendiri, atau rujuk dengan suami atau istrinya.
 

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*