Artikel Terbaru

Perceraian Katolik

[tallskinnykiwi.typepad.com]
Perceraian Katolik
Mohon Beri Bintang
HIDUPKATOLIK.com – Banyak orang mengira, di lingkungan umat Katolik sama sekali tidak ada kemungkinan bercerai. Perkiraan itu salah, tetapi toh tidak seratus persen benar. Kenyataannya, dalam lingkungan Katolik ada perceraian, bahkan juga secara Katolik. Hanya saja istilah hukumnya bukan perceraian, melainkan pemutusan ikatan perkawinan.
 
Sabda Yesus
Sabda Yesus tentang perceraian kita temukan dalam Injil Markus (Mrk 10:1-12), Injil Lukas (Luk 6:18), dan Injil Matius (Mat 5:32 dan Mat 19:1-10). Inti sabda Yesus di keempat tempat itu kiranya dapat dirumuskan secara sederhana, bahwa pada prinsipnya, suami-istri tidak boleh bercerai, sebab mereka sudah disatukan Allah.
 
Ajaran Yesus itu juga ”dilaporkan” Paulus dalam suratnya yang pertama kepada umat Korintus (1 Kor 7:10-11). Bunyinya, ”Kepada orang-orang yang telah kawin, Tuhan perintahkan seorang istri tidak boleh menceraikan suaminya. Jikalau ia bercerai, ia harus tetap hidup tanpa suami atau berdamai dengan suaminya. Dan, seorang suami tidak boleh menceraikan istrinya”.
 
Kebijakan Paulus
Meski dengan setia menyampaikan ajaran Yesus, Paulus memberi kelonggaran tertentu kepada orang Kristen yang bersuami atau beristri bukan Kristen. Kelonggaran itu termuat dalam suratnya yang pertama kepada umat Korintus (1 Kor 7:12-15).
 
Rumusan yang dipakai rasul agung itu secara harafiah, ”Aku — bukan Tuhan (Yesus) — katakan, kalau ada seorang saudara beristrikan seorang yang tidak beriman dan perempuan itu mau hidup bersama-sama dengan dia, janganlah saudara itu menceraikan dia. Dan kalau ada seorang istri bersuamikan seorang yang tidak beriman dan laki-laki itu mau hidup bersama-sama dengan dia, janganlah ia menceraikan laki-laki itu… Tetapi, kalau orang yang tidak beriman itu mau bercerai, biarlah ia bercerai; dalam hal yang demikian saudara atau saudari tidak terikat”.
 
Kelonggaran yang diberikan oleh Paulus itu kemudian ditafsirkan oleh salah seorang Paus abad ke-12 dalam arti bahwa uami-istri yang tidak seiman masih mungkin bercerai karena perkawinan mereka bukan sebuah perkawinan sakramen!
 
Kebijakan Matius
Menurut banyak ahli Kitab Suci di kalangan Katolik, penulis Injil Matius menyisipkan sebuah kebijakan pastoralnya sendiri ke dalam sabda Yesus tentang perceraian. Sisipan itu kita temukan pada Injil Matius pasal 5 ayat 32 dan pasal 19 ayat 9. Karena sisipan tersebut, Sabda Yesus seolah-olah menjadi sbb: ”Barangsiapa menceraikan istrinya, kecuali karena zinah, lalu kawin dengan perempuan lain, ia berbuat zinah”.
 
Kebijakan pastoral Matius itu ternyata diikuti beberapa Gereja non Katolik. Di lingkungan Gereja-gereja tersebut, seseorang boleh bercerai dari suami atau istrinya, setelah terbukti bahwa suami atau istrinya tersebut telah berzinah dengan orang lain.
 
Wewenang khusus
Suatu ketika Yesus bersabda kepada Petrus, ”Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga. Apa yang kau ikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kau lepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga” (Mat 16:19).
 
Menurut banyak ahli Kitab Suci Katolik, dengan sabda tersebut, Yesus memberikan wewenang khusus kepada Petrus dan para penggantinya untuk mengikat atau melepas sesuatu di dunia ini. Selain itu, Ia juga berjanji untuk mengikat di sorga apa yang diikat para pengganti Petrus di dunia dan melepas di sorga apa yang dilepas para pengganti Petrus di dunia. Pengganti Petrus adalah Paus.
 

KOMENTAR ANDA:

1 Comment

  1. dear admin…
    bagaimana bila sang suami sdh tdk memberi nafkah selama 6 thn dan mempunyai anak dari selingkuhan dn menikah.
    bagaimana agar istri pertama dpt membatalkan perkawanannya

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*