Artikel Terbaru

Kebangkitan-Nya Bukan Halusinasi

[ldsblogs.com]
Kebangkitan-Nya Bukan Halusinasi
1 (20%) 1 vote
HIDUPKATOLIK.comDulu saya mengikuti Konghucu, yang menghormati pahlawan-pahlawan yang menunjukkan kesalehan, kesatriaan, dan kesucian. Dalam doa-doa Konghucu, mereka ini dihormati bagaikan dewa-dewa dan rahmat mereka dimohonkan untuk kami yang hidup. Seringkali saya sebagai orang Katolik tergelitik untuk bertanya, apakah pengakuan akan kebangkitan Yesus juga hasil evolusi seperti itu? Mungkinkah kebangkitan Yesus itu hanya akibat halusinasi para murid yang menginginkan Guru mereka tetap hidup? Maaf Romo, kalau pertanyaannya kurang berkenan. Mohon pencerahan.
 
Yusuf Tumarman, Temanggung
 
Yusuf yang terkasih, pertanyaanmu sungguh baik. Hanya orang yang ingin sungguh menghayati imannya seperti kamu, akan mempertanyakan butir iman itu untuk mendapatkan pengertian yang lebih mendalam. Iman itu mencari pengertian (fides quaerens intellectum).
 
Pertama, iman pada kebangkitan Yesus bukanlah hasil evolusi, tetapi buah kesaksian para murid yang mengenal Yesus historis. Pertanyaan Anda secara implisit mengatakan penghormatan kepada dewa-dewa Konghucu itu hasil evolusi. Sebaliknya, pernyataan Yesus bangkit, dilakukan orang-orang yang pernah hidup dengan Yesus dan mengenal-Nya secara dekat. Perbedaan soal waktu kapan dinyatakan adalah faktor yang sangat penting membedakan antara kesaksian akan kenyataan dan pengakuan hasil evolusi. Perkembangan evolusi membutuhkan waktu lama. Pernyataan tentang kebangkitan Yesus dan ke-Allahan-Nya berasal dari waktu langsung setelah kematian dan pemakaman-Nya. Kebangkitan-Nya diwartakan oleh mereka yang telah mengenal Dia baik sekali.
 
Kedua, memang ada tuduhan yang mengatakan kebangkitan Yesus hasil dari halusinasi para murid. Dikatakan, murid-murid begitu terkesan oleh kebesaran pribadi Yesus sehingga sesudah Yesus dihukum mati di salib, mereka tidak bisa menerima kenyataan itu. Mereka ini berada dalam kekecewaan dan keputusasaan yang sangat mendalam. Tanpa direncanakan dan tanpa disadari, kekesalan ekstrem mereka menimbulkan antusiasme ekstrem pula, yaitu mereka meyakinkan diri mereka bahwa Yesus tidak mungkin telah mati secara tetap. Dalam pergulatan luar biasa ini, muncullah secara spontan gagasan, Yesus telah bangkit dan bahwa mereka telah melihat Yesus yang bangkit itu. Gagasan ini ditularkan satu kepada yang lain, sehingga para murid lain juga mengaku telah melihat penampakan-penampakan. Jadi, keinginan yang mendalam bahwa Yesus tidak mati, telah menghasilkan penampakan-penampakan. Inilah yang disebut halusinasi. Iman akan kebangkitan adalah sebuah produk dari ketidakseimbangan jiwa para murid atau buah dari pikiran-pikiran yang terganggu.
 

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*