Artikel Terbaru

Mendampingi Istri Sakit Kanker Rahim

[abcnews.go.com]
Mendampingi Istri Sakit Kanker Rahim
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Beberapa waktu lalu, seorang bapak bercerita di saat usia perkawinannya menginjak 30 tahun beliau mengalami cobaan berat. Menurut bapak tersebut, istrinya berubah sifat seratus delapan puluh derajat. Perubahan sifat tersebut dimulai setahun yang lalu setelah sang istri didiagnosa menderita kanker rahim. Kanker tersebut harus diangkat dengan cara mengambil rahim istri. Sejak itu istri bapak tersebut berubah sifat menjadi sangat mudah marah, mudah menangis, dan tidak bisa tidur.

Bapak tersebut sudah berusaha meyakinkan pada sang istri, apa pun yang terjadi bapak tersebut akan setia kepada istri. Menurut beliau, rahim istri diangkat bukan masalah bagi beliau karena mereka sudah punya tiga anak yang sehat. Namun ternyata sang istri tetap kalut pikiran dan perasaannya, bahkan sudah setahun diagnosa tersebut dinyatakan tapi istri tetap belum mau mengambil keputusan untuk dioperasi. Bapak tersebut bercerita kadang-kadang bapak tersebut tidak bisa menahan jengkel kepada istri sehingga dia ganti marah. Suasana di rumah saat ini sungguh terasa tidak enak. Bapak tersebut bertanya-tanya apa yang harus dia lakukan untuk menyelamatkan istri dan keuarganya.

Konflik berat
Pada masa sekarang ini banyak penderita kanker. Penderitaan pasien kanker biasanya menjadi berlipat karena para pasien menyadari penyakit kanker saat ini masih merupakan penyakit yang sulit untuk diobati apalagi kalau terlambat penanganannya. Salah satu cara penangan penyakit kanker adalah dengan mengambil kanker tersebut dengan konsekuensi kadang organ dimana kanker tersebut tumbuh ikut diambil, contohnya dalam kasus kali ini adalah rahim.

Di sinilah letak permasalahan utama para perempuan penderita kanker rahim. Banyak dari mereka mengalami konflik yang sangat berat antara ingin hidup tetapi merelakan rahimnya diangkat. Di sisi lain ingin rahimnya tetap ada tetapi kehidupannya sendiri terancam. Konflik ini sangat berat bagi para perempuan, khususnya perempuan di Indonesia karena masyarakat kita masih merupakan masyarakat yang sangat mengagung-agungkan perempuan sebagai seorang ibu. Bukanlah hal buruk bila kita mengagungkan pribadi ibu, tetapi menjadi suatu beban yang sangat berat bagi seorang perempuan yang tidak dapat menjadi ibu entah karena kondisi fisiknya atau kondisi sosialnya. Masyarakat kita sering menganggap sehebat apa pun perempuan kalau dia tidak bisa punya anak dia tetap tidak berharga. Di sinilah beban perempuan penderita kanker rahim menjadi dobel antara berusaha untuk tetap hidup dan berusaha mempertahankan simbol keperempuanannya.

Kita bisa melihat begitu banyak perempuan merelakan kehidupannya untuk “sekadar” menggenggam simbol ibu yaitu keberadaan rahimnya. Perempuan-perempuan seperti ini berpikir bahwa hidup mereka tidak akan berarti lagi saat rahim mereka diambil. Banyak perempuan yang berpikir saat mereka tidak punya rahim, mereka tidak dapat memuaskan/dipuaskan suami di ranjang, walaupun banyak suami-istri yang bersaksi bahwa setelah istri mereka tidak punya rahim, mereka tetap bisa saling memuaskan.

Ketakutan akan kehilangan rahim ini semakin menguat saat penderita kanker adalah seorang perempuan yang belum menikah. Banyak kejadian, gadis penderita kanker rahim tergesa-gesa menikah saat ada pria yang melirik, tanpa mau tahu bagaimana sifat dan kondisi pria tersebut. Akibatnya tentu bukan pemecahan masalah tetapi justru penambahan masalah.

Menerima kondisi
Lalu apa yang dapat kita lakukan untuk membantu mereka? Kita bisa memulai dari permasalahan yang paling sering terjadi pada orang-orang yang didiagnosa penyakit kanker atau penyakit yang sulit diobati, yaitu pertanyaan:”Mengapa Saya? Apa dosa saya? Mengapa penyakit ini mengenai saya?” Pada tahap ini, orang-orang terdekat dapat mengajak pasien untuk memahami bahwa penyakit bisa diderita oleh siapa pun, bahkan saat kita sudah sangat berhati-hati untuk mencegahnya. Penderita bisa kita ajak untuk melihat bahwa yang menderita penyakit kanker bukan hanya dia sendiri di dunia ini. Kita bisa menunjukkan orang-orang lain yang nampaknya orang yang sudah rajin mencegah penyakit tapi toh tetap kena juga.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*