Artikel Terbaru

Sr Yohanita Pasaribu FCJM: Tantangan yang Menguatkan

Sr Yohanita Pasaribu FCJM (paling kiri) bersama empat rekan suster yang berkaul kekal.
[NN/Dok.Pribadi]
Sr Yohanita Pasaribu FCJM: Tantangan yang Menguatkan
Mohon Beri Bintang
HIDUPKATOLIK.comIdolanya para suster FCJM. Kekagumannya memantik mimpinya menjadi seorang biarawati. Panggilannya menghadapi cobaan, kedua orang tua meninggal sebelum ia lulus SMA.
Yohanita Pasaribu adalah siswi di SDN Blok 10, Silau Bawang, Tebing Tinggi, Sumatra Utara. Dengan mengenakan seragam merah-putih, bocah itu selalu tertegun melihat aksi para suster dari Tarekat Fransiskan Puteri-Puteri Hati Kudus Yesus dan Maria (Franciscanae Filiae Sanctissimae Cordis Jesus et Mariae FCJM). Hatinya berdecak kagum memandang para idolanya itu.
Gadis kecil kelas IV SD itu teramat kagum pada para perempuan berjubah putih itu. Kagum bukan karena para suster tampil spektakuler, melainkan karena hal sederhana yang bisa dilakukan semua orang. Misalnya, mengajak anak-anak bermain, menyanyi, dan menari. Namun hal-hal sederhana dan biasa itulah yang justru memantik panggilan suci bagi Yohanita. Suatu hari, Yohanita menghampiri seorang suster yang sedang asyik bercanda dengan para murid. “Saya ingin menjadi suster seperti Suster,” kata Yohanita yang kala itu.
Dukungan Bapak
Yohanita rajin mengikuti kegiatan Bina Iman Anak, apalagi yang mengajar Bina Iman Anak adalah idolanya, para suster FCJM. Kesetiaannya mengikuti Bina Iman Anak mendorong bapaknya, Tarsan Pasaribu, menjadi Katolik. Sebelumnya, Tarsan penganut Protestan.
Kebulatan tekad Tarsan bergabung dalam pangkuan Gereja Katolik demi mendukung cita-cita Yohanita, menjadi suster. Semula, Yohanita sama sekali tak menyangka, bapaknya diam-diam mendukung impiannya menjadi suster. “Ini sungguh rahmat Tuhan bagi saya,” kata Yohanita.
Keputusan Tarsan menjadi Katolik meletupkan motivasi anak gadisnya. Yohanita yakin, Tuhan menanamkan benih panggilan dalam dirinya melalui sang ayah. Namun di saat Yohanita sedang mempersiapkan diri menjadi biarawati, mamanya, Pesta Hasibuan meninggal.
Peristiwa ini memberi pukulan telak bagi Yohanita. Imannya tergoncang. Dia menyalahkan Tuhan atas peristiwa duka yang menimpanya. Dia memvonis, Tuhan tidak baik, tidak mencintai ibunya, dan membenci dirinya. Padahal, mama dan bapak sedang mendampingi Yohanita menjadi pelayan-Nya. “Saya tak mau lagi berdoa,” kenangnya.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*