Artikel Terbaru

Lusia Satiyem: Cinta Kilat, Warung dan Kebaikan Tuhan

Lusia Satiyem
[NN/Dok.Pribadi]
Lusia Satiyem: Cinta Kilat, Warung dan Kebaikan Tuhan
Mohon Beri Bintang
HIDUPKATOLIK.comPertemuan sekilas menghantar gadis belia dan pria 29 tahun lebih tua ini menjadi suami istri. Setelah kematian suami, ia berjuang sendiri membesarkan empat anaknya – tiga orang menjadi sarjana.
Rumah Lusia Satiyem hampir tak pernah sepi. Selalu saja ada orang datang ke rumahnya. Seperti pada Senin siang, minggu lalu, baru sejam bersama Ibu empat anak ini, rumahnya sudah disinggahi empat orang. Mereka yang datang adalah tetangganya. Tujuan mereka ke rumah Satiyem hanya satu, membeli aneka kebutuhan, seperti: beras, air, dan mie.
Di rumahnya, Satiyem punya warung. Ia menjual bahan kebutuhan pokok, galon air, gas berukuran tiga kilogram, makanan dan minuman ringan. Warung berukuran 1,5 x 2,3 meter itu berada dalam satu lokasi dengan rumahnya di Jalan PLK 2, Gang Bekisar, Kecamatan Makassar, Jakarta Timur. Gang menuju warung Satiyem cukup sempit, hanya muat dua motor.
Satiyem amat bangga dengan warungnya. Karena itu, ia mempertahankan warung itu meski dikepung minimarket. Warungnya kini telah berusia sekitar 18 tahun. Selain uang dari anak-anaknya, pada warung itulah Satiyem menggantung hidup.
Cinta Semalam
Di mata Satiyem, warung itu bukan hanya sebagai salah satu sumber rezeki dan penyambung hidup keluarganya.Menurut perempuan kelahiran Wonogiri, Jawa Tengah, 55 tahun silam itu, usaha tersebut juga warisan berharga dari suami tercinta, Andreas Ande Boko. Warung itu dibangun dari uang pensiun suaminya sebagai satpam di perusahaan pembuat ban di Jakarta Timur.
Satiyem semula mengira, suaminya bakal membuat pos jaga. Ia tercengang ketika suaminya bilang ingin membuat warung. Ande berharap, warung itu bisa menjadi salah satu penopang ekonomi keluarga. Warung itu mampu bertahan ketika negara ini dilanda krisis moneter pada 1998. Bahkan usaha kecil itu masih tegak berdiri di tengah menjamurnya toko waralaba.
Kendati semua anaknya sudah bekerja, Satiyem masih meneruskan usaha warung. Padahal, pada usianya yang telah setengah abad itu, ia sebenarnya bisa duduk santai di rumah. Namun, ia tak mau menutup usahanya tersebut. Warung itu punya banyak kenangan baginya.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*