Artikel Terbaru

Abdi Gereja yang Humanis

Romo Franz Magnis Suseno saat Haul Gus Dur ke-VI di Tegal, Jawa Tengah, Januari lalu.
[NN/Dok.Panitia]
Abdi Gereja yang Humanis
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Ada banyak karya yang dihasilkan Romo Franz Magnis-Suseno SJ. Salah satu sumbangan terbesarnya adalah membangun pluralisme dengan umat Islam.

Gedung KORPRI di Jalan Dr Soetomo Slawi, Tegal, Jawa Tengah mendadak ramai. Sejak sore, gedung itu telah didekor secantik mungkin untuk perhelatan akbar Haul Gus Dur ke-6, Januari lalu. Sesuai tema, “Kita Semua Bersaudara”, Haul ini merupakan ajang Silaturahmi Nusantara yang diprakarsai Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Tegal dan Gusdurian Tegal. Semua elemen bangsa baik sipil, TNI, Polri dan tokoh lintas agama terlibat. Romo Franz Magnis-Suseno bersama Alissa Qotrunnada Munawaroh Wahid, puteri sulung Gus Dur serta Maulana Habib Luthfi bin Yahya di daulat sebagai pembicara.

Ketika tiba acara pembukaan, rasa cemas menghantui panitia. Alissa dan Habib Luthfi telah tiba di lokasi, tapi Romo Magnis belum tampak. Panitia pun menghubungi ponsel Romo Magnis beberapa kali, tapi tak ada jawaban. Sampai akhirnya beberapa menit kemudian, Romo Magnis muncul dengan naik becak menuju lokasi.

Untuk sampai di Tegal, Romo Magnis memilih menggunakan kereta api. Padahal panitia telah menyiapkan akomodasi tiket pesawat, tapi ia menolak. Bahkan ia lebih memilih tinggal di Pastoran Stasi terdekat ketimbang di hotel. Ia meminta agar semua biaya akomodasinya disumbangkan kepada anak-anak Yatim atau Panti Asuhan.

Secuil pengalaman Romo Magnis ini membuat Alissa kagum. Jesuit ini selalu tampil sederhana. Romo Magnis di mata Koordinator Jaringan Gusdurian adalah tokoh umat yang punya cara pandang transedental-spiritual. Pemikirannya selalu berpihak pada masyarakat kecil dengan mengedepankan nilai-nilai spiritualhumanis.

Pahlawan Humanis
Lebih dari sekadar kawan, Romo Magnis mampu menjadi roh penggerak bangsa. Kontribusinya muncul dengan menjunjung nilai-nilai keadilan dan kerukunan. Sisi humanisnya kuat. “Setiap melihat sosok Romo Magnis, mengingatkan saya pada Seven Deadly Sins, Mahatma Gandhi;Wealth Without Work, Pleasure Without Conscience, Knowledge Without Character, Commerce (Business) Without Morality (Ethics) Science Without Humanity, Religion Without Sacrifice dan Politics Without Principle,” ungkap Alissa.

Tokoh yang setia menjalin relasi antaragama ini tampil dan selalu di garis depan saat kerukunan umat terusik. Kehidupannya, lanjut Alissa, mengingatkan saya pada mendiang Gus Dur. “Dua orang ini adalah makhluk Tuhan yang punya hati untuk bangsa Indonesia,” ungkapnya.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*