Artikel Terbaru

Percikan Refleksi Dasa Windu Romo Magnis

Romo Franz Magnis-Suseno SJ pada usia 80 tahun.
[HIDUP/Yanuari Marwanto]
Percikan Refleksi Dasa Windu Romo Magnis
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Memasuki usia 80 tahun, Romo Franz Magnis-Suseno SJ masih tampak bugar. Ia mengingatkan Gereja agar tampil sederhana dan berkontribusi bagi Indonesia.

Suatu malam, Romo Franz Magnis-Suseno SJ membeli martabak di pinggir jalan. Ketika sedang memesan martabak, ia bertemu seorang bapak yang ternyata mengenali dirinya. Setelah memperkenalkan diri, mereka terlibat dalam sebuah obrolan.

Bapak itu mengatakan, dirinya juga umat Katolik dari salah satu paroki. Tiba- tiba ia mengungkapkan isi hatinya. Dengan penuh perhatian, Romo Magnis mendengarkan luapan hati teman ngobrolnya. Bapak itu berkeluh, dirinya merasa tidak kerasan lagi pergi ke gereja parokinya pasca gereja tersebut dibangun.

“Saya terkena di hati,” ungkap Romo Magnis ketika menceritakan kembali kisah pertemuannya dengan si Bapak. Menurutnya, gereja yang baru dibangun itu tidak terlalu mentereng. Namun, menjadi pertanyaan di benaknya ketika ada umat sederhana yang sampai tidak kerasan pergi ke gereja baru itu. “Orang kecil dengan pakaian sederhana merasa malu atau apa? Hampir pasti umat di paroki itu tidak berbuat apa-apa untuk menolaknya; umat kita tidak seperti itu. Tapi justru kesannya! Di paroki kita itu kelas menengah ke atas, tapi yang paling penting adalah orang-orang kecil seperti itu harus bisa masuk, harus bisa merasa kerasan, harus merasa dibantu,” tegas kelahiran Eckersdorf, Jerman (kini: Bożków, Silesia, Polandia), 26 Mei 1936 itu.

Gereja Orang Miskin
Memasuki usia 80 tahun, Yesuit yang bernama asli Franz Ferdinand Graf von Magnis ini merasa bersyukur bahwa Gereja Katolik di Indonesia sudah mampu hadir di tengah masyarakat. Ia menilai, sudah banyak yang dilakukan Gereja dalam tanggung jawab sosial bagi kaum miskin sebagai bagian dari bangsa Indonesia. Namun, Romo Magnis berharap, tanggung jawab sosial demi kemajuan bersama harus terus menjadi kesadaran Gereja.

Dalam usaha memperkokoh kesadaran tanggung jawab sosial tersebut, tak dipungkiri teror konsumerisme dan hedonisme juga mengintai Gereja. Dalam hal ini, Romo Magnis mendorong agar Gereja senantiasa membuka diri terhadap kesulitan orang kecil tanpa memandang latar belakang agama. “Dalam hal inilah masih jauh lebih banyak yang harus dibuat daripada yang sudah kita buat. Kita tidak bisa mengubah perbedaan ini, tapi kita bisa membantu orang yang betul-betul butuh bantuan di antara kita; tentu juga di luar tidak terbatas hanya pada kita. Kita juga memberi perasaan spontan pada umat kita yang kurang berada bahwa mereka sama saja penting dan dihormati, menjadi pusat perhatian daripada yang lain-lain,” jelas penerima Doktor Teologi Honoris Causa dari Fakultas Teologi Universitas Luzern, Swiss ini (2002).

Menurut Romo Magnis, orientasi memprioritaskan orang miskin tanpa henti diserukan Paus Fransiskus. Bapa Suci menegaskan, Gereja untuk orang miskin. Gereja harus bisa menempatkan diri dan jangan memamerkan kekayaan. Maka segala jor-joran kekayaan, tidak sesuai Injil dan spiritualitas yang ditegaskan Paus. “Jadi jangan kita kelihatan kaya raya karena tidak ada hubungan antara kekayaan dan kemewahan dengan Tuhan Yesus. Tidak percuma Yesus sering memperingatkan itu dan mengatakan betapa susah orang kaya masuk Kerajaan Allah dan hidup sederhana. Itu bagi seluruh umat kita berlaku! Bukan berarti tidak boleh ada orang kaya di Gereja. Ada wanita-wanita kaya yang mendukung Yesus; itu tidak masalah. Mestinya kita selalu kelihatan sederhana dan dalam arti apapun jangan sampai kehadiran kita mengancam,” tegas alumnus Doktor Filsafat dari Ludwig-Maximilians-Universitat, Munchen, Jerman, dengan predikat summa cum laude (1975).

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*