Artikel Terbaru

Sr Maria Josepha dari Yesus OCD: Tugas Kami Berdoa

Sr Maria Josepha dari Yesus OCD
[HIDUP/A. Aditya Mahendra]
Sr Maria Josepha dari Yesus OCD: Tugas Kami Berdoa
1 (20%) 1 vote

HIDUPKATOLIK.comPara Suster OCD memilih dan terpanggil hidup dalam biara tertutup. Tugas mereka berdoa bagi Gereja dan dunia. Mereka jantung tubuh mistik Kristus.

Para Suster Ordo Carmelitarum Discalceatorum (OCD) sudah resmi diterima di KAJ dan mendirikan biara di kompleks Wisma Samadi, Klender, Jakarta Timur. Berikut petikan wawancara wartawan HIDUP Stefanus P. Elu dan Christophorus Marimin dengan Priorin atau Pimpinan Biara OCD Lembang Sr Maria Josepha dari Yesus OCD, pada Selasa, 7/6:

Seperti apa posisi suster OCD dalam kehidupan menggereja?

Kami ibarat pekerja di tambang batubara yang bekerja di dalam lubang tanpa terlihat dunia. Para pekerja tak tahu siapa yang akan menggunakan batubara yang ia olah. Seperti itulah kami. Kami berdoa dalam biara yang tertutup untuk memohonkan rahmat Tuhan untuk Gereja dan dunia. Tapi kami tidak tahu rahmat Allah itu diberikan kepada siapa dan seberapa besar yang diterima masing-masing orang. Kami berdoa dan biarlah Allah yang menentukan kepada siapa rahmat yang kami mohonkan itu dilimpahkan.

Jadi tugas para suster mendoakan umat KAJ?

Tugas kami berdoa bagi Gereja dan keselamatan jiwa-jiwa, terutama berdoa bagi para imam dan para pelayannya. Jika Gereja adalah tubuh mistik Kristus, maka kami adalah jantung. Artinya kami mensuplai asupan rohani kepada kehidupan Gereja. Kehadiran kami ibarat Maria yang duduk di bawah kaki Yesus dan terus mendengarkan pengajaran; mendengarkan suara Tuhan. Sementara Marta adalah Gereja yang berkarya di tengah dunia. Tapi bukan berarti kami tidak bekerja. Meskipun dalam biara, kami tetap mengerjakan pekerjaan-pekerjaan rumah tangga, seperti menyapu, memasak, cuci piring, dan lain-lain. Kami tidak pernah memakai jasa pembantu.

Lalu apa yang bisa dilihat umat dari kehidupan para suster?

Kesaksian hidup, Tuhan berada di atas segalanya dan sanggup memenuhi kebutuhan manusiawi kami. Kami hidup tanpa penghasilan, tanpa bersentuhan langsung dengan kegiatan-kegiatan dan gemerlap dunia. Sepanjang hidup kami hanya tinggal dalam biara dan berdoa. Tetapi toh kami bisa bahagia. Yang ingin kami persembahkan kepada umat adalah sebuah relasi intim dengan Tuhan dalam model hidup kontemplatif.

Jakarta identik dengan kebisingan. Suster yakin bisa memperoleh waktu hening?

Yang diutamakan adalah perjalanan ke dalam batin. Justru di tengah hiruk-pikuk dunia, kami ditantang menemukan keheningan agar bisa mendengarkan suara Tuhan. Hidup seperti kami adalah silih bagi dunia. Menarik diri dari kebisingan untuk menciptakan ruang hening di dalam batin. Itulah yang kemudian diterjemahkan salah satunya lewat batasan-batasan, seperti saat berjumpa tidak bisa duduk berdampingan tetapi dari balik pintu atau teralis, pun hanya boleh pada waktu-waktu tertentu saja.

Bagaimana cara suster melayani umat?

Umat boleh datang ke biara untuk berbagi cerita, kami siap mendengarkan. Tetapi kami bukan konsultan. Umat boleh datang bertemu suster-suster pada jam-jam kunjungan yang sudah ditentukan. Tetapi kami hanya mendengarkan keluh-kesah atau ucapan syukur umat, kemudian kami persembahkan dalam doa-doa kami. Tapi sekali lagi kami bukan konsultan yang bisa menawarkan jalan keluar untuk aneka beban hidup yang dialami umat. Paling-paling pada ujung cerita para suster mengajak bersama-sama berdoa. Jika umat datang pada waktu-waktu non kunjungan, di depan sudah tersedia kertas, pulpen, dan kotak. Silakan tulis permohonan atau doa dan masukkan ke dalam kotak. Malam hari, kami akan membuka dan membaca semua permintaan doa tersebut. Kami berdoa tujuh kali dalam sehari dan kami selalu berdoa bagi dunia dan umat manusia.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*