Artikel Terbaru

Sukacita Sambut Suster Pendoa

Para Suster OCD menerima roti buaya dari Romo Samuel.
[HIDUP/Christophorus Marimin]
Sukacita Sambut Suster Pendoa
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comUmat KAJ bersukacita. Pada peziarahan selama 210 tahun ini, akhirnya KAJ diwarnai dengan kehadiran para suster kontemplatif. Mereka akan berkarya dalam doa.

Keuskupan Agung Jakarta (KAJ) diperkaya dengan kehadiran suster kontemplatif. Delapan Suster Ordo Carmelitarum Discalceatorum (OCD) atau Ordo Karmel Tak Bersepatu atau Ordo Karmel Tak Berkasut, kini hadir di Wisma Samadi, Klender, Jakarta Timur. Ini peristiwa bersejarah bagi KAJ. Setelah dua abad lebih Gereja KAJ berdiri, baru pertama kali ini hadir tarekat religius kontemplatif.

Selasa petang, 31/5, Vikaris Jenderal KAJ Romo Samuel Pangestu didampingi Romo Ekonom KAJ Romo Antonius Suhadi Antara dan Direktur Pusat Pastoral KAJ Romo Thomas Ulun Ismoyo menyambut para Suster OCD di Wisma Samadi. Romo Samuel secara simbolik memberikan penganan khas Betawi, roti buaya, sebagai tanda penyambutan. Dalam pernikahan Betawi, roti buaya menjadi tanda kesabaran dan kesetiaan sampai akhir hayat.

Para suster tampak penuh sukacita menempati “rumah baru”. Dengan wajah penuh keceriaan, delapan Suster OCD akan mengawali hidup baru di biara itu. Delapan suster ini adalah Sr Elisea dari Ratu Kemuliaan OCD, Sr Maria Magdalena dari Salib OCD, Sr Maria dari Yesus Tersalib OCD, Sr Maria Aurelia dari Kelima Luka Suci OCD, Sr Agustina dari Bunda Allah OCD, Sr Margaretha Maria dari Anak Yesus OCD, Sr. Maria Agustiani dari Hati Kudus Yesus OCD, Sr Francis Edith dari Keluarga Kudus OCD.

Nama mereka memang unik. Mereka menyebut sebagai “nama misteri” yang di peroleh ketika mengucap kaul. Rentang usia para suster ini antara 40 hingga 75 tahun.

Pinangan KAJ
Semua itu berawal pada 2013, ketika berkarya sebagai Administrator Apostolik Keuskupan Bandung, Uskup Agung Jakarta Mgr Ignatius Suharyo memimpin perayaan Ekaristi Pesta Emas hidup membiara Suster Elisia OCD di Biara OCD Lembang. Dalam khotbah, Mgr Suharyo menyinggung bahwa di wilayah KAJ belum ada karya biara kontemplatif. “Saya iri, karena di Keuskupan Agung Jakarta yang mempunyai sejarah lebih dari 200 tahun, belum hadir biara kontemplatif. Sementara di Keuskupan Bogor dan Keuskupan Bandung yang merupakan bagian dari Provinsi Gerejawi Jakarta sudah hadir biara kontemplatif,” ucap Mgr Suharyo kala itu.

Telah menjadi tradisi, setiap kali masa Prapaskah dan Adven, para Suster OCD di Lembang mengundang seorang uskup untuk menjadi bapa pengakuan luar biasa. Alhasil pada Adven 2013, Mgr Suharyo kembali berkunjung ke Biara OCD di Lembang. Kali ini, Mgr Suharyo diminta menjadi bapa pengakuan para Suster OCD.

Priorin atau pemimpin komunitas Biara Suster OCD Lembang, Sr Maria Josepha dari Yesus OCD berbincang dengan Mgr Suharyo terkait undangan berkarya di KAJ. Sr Josepha OCD mengatakan bahwa ada beberapa suster yang merasa tersentuh dan terpanggil menjadi jantung dalam kegiatan karya pastoral di KAJ.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*