Artikel Terbaru

Beato Isidore Bakanja: Martir Skapulir dari Afrika

Skapulir coklat Bunda Maria dari Gunung Karmel.
[philomena.org]
Beato Isidore Bakanja: Martir Skapulir dari Afrika
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Ia menjadi Katolik berkat Misionaris Trappist di Republik Demokratik Kongo dengan sarana Skapulir Karmelit dan Rosario. Ia disiksa dan wafat karena membela imannya.

Jantung seorang budak seolah berhenti berdetak. Di hadapannya tiba-tiba berdiri beberapa orang kulit putih bersenjata lengkap. “Apakah kamu orang Kristen?” teriak mereka pada si budak. “Benar, saya pengikut Kristus,” jawabnya. Mereka lantas menangkapnya.

Mereka menghadapkan budak negro itu ke hadapan seorang majikan asal Belgia, André van Cauter. Van Cauter menjadi terkenal karena kebengisannya membunuh orang-orang Kristen. Ia bak singa yang siap menerkam mangsa kala melihat budak Kristen. Ia menendang, memukul dan memaki budak itu. Tak cukup dihina, ia memerintahkan si budak dicambuk seratus kali dengan cambuk dari kulit gajah dengan paku pada ujung-ujungnya.

Si budak berhasil melarikan diri ke hutan. Ia mengalami luka di sekujur tubuhnya. Karena tak segera diobati, luka-luka itu pun bernanah dan bau. Ia tak bisa bertahan hidup karena mengalami infeksi.

Itulah secuil kisah Beato Isidore Bakanja, martir negro asal Bokendela, Kongo-Belgia (kini Republik Demokratik Kongo, RDK). Ia hidup pada masa kolonialisme Eropa masih mengangkangi Benua Hitam.

Bocah Perantauan
Isidore Bakanja berasal dari keluarga miskin di Bokendela. Ia diperkirakan lahir sekitar tahun 1880-an. Bokendela terletak di RDK, Afrika Tengah, yang awalnya bernama Kongo-Belgia. Teritori itu juga pernah menyandang nama Negara Kongo Merdeka dan Zaire. Banyak orang mengenal daerah ini karena perang saudara yang berlangsung panjang sejak 1996.

Kemiskinan menjadi momok masyarakat. Aksi kekerasan terjadi di mana-mana. Infrastruktur dan perekonomian morat-marit. Sejak zaman kolonial, wilayah ini diperebutkan oleh negara-negara Eropa. Saat itu, Kongo berada di bawah kendali Raja Belgia, Léopoldo II (1835-1909).

Banyak perusahaan asing merangsek dan mengais rezeki di Kongo. Monopoli karet dan gading gajah menjadi trend di seantero Afrika. Salah satu perusahaan mashyur adalah Société Anonyme Belge (SAB), tempat Isidore bekerja. Kehadiran kolonial membawa dampak buruk bagi masyarakat. Rakyat terseok-seok dan terasing di negeri sendiri.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*