Artikel Terbaru

Menjadi Aktivis, Kuliah Terbengkalai

[google image]
Menjadi Aktivis, Kuliah Terbengkalai
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comDear Pengasuh Rubrik Konsultasi Keluarga, saya Maria dari Maluku. Saya telah menikah dan anak pertama kami sekarang kuliah di sebuah universitas Katolik di Yogyakarta. Akhir-akhir ini, saya merasa stres dan kecewa dengan anak kami. Tahun ini merupakan tahun ketujuh anak kami kuliah S1, tapi sampai saat ini belum juga selesai. Adiknya yang kedua malah sudah selesai dan sekarang bekerja di sebuah perusahaan tambang di Pekanbaru. Alasan utamanya adalah anak kami terlalu masuk dalam organisasi, mulai dari kelompok pecinta alam sampai organisasi Katolik sehingga kuliah terbengkalai. Saya tidak tahu berapa biaya yang sudah kami buang demi anak pertama ini. Bagaimana cara kami menyelesaikan masalah anak kami ini? Apa yang segera kami buat? Terima kasih.

Maria, Maluku

Ibu Maria yang terkasih, saya bisa memahami keprihatinan Anda selaku orangtua. Ananda yang sudah sekian lama kuliah, tak kunjung selesai. Tentunya beban finansial keluarga, beban emosi dan sosial Anda rasakan. Di pihak ananda pun diakui seakan tidak ada beban.

Sejenak mari kita alihkan dulu pada gambaran faktual tentang hal-hal yang dialami sebagian mahasiswa yang mengalami keterlambatan penyelesaian studi. Dalam pendampingan tugas akhir (skripsi), ada beberapa mahasiswa yang masa kuliahnya masuk kategori “bonus” (lebih lama dari rata-rata mahasiswa). Dari tanya jawab informal terhadap mereka, terungkap beberapa kondisi yang secara langsung atau tak langsung berpengaruh terhadap status “bonus” mereka, di antaranya kemampuan akademis yang rendah, kuliah karena terpaksa atau bukan keinginan pribadi–seperti tidak ada minat terhadap jurusan yang ditempuh.

Ada juga yang melihat kenyataan bahwa ijazah sarjana bukanlah jaminan bisa mendapatkan pekerjaan yang layak untuk hidup, terlalu fokus pada hobi, keasyikan berorganisasi di banyak bidang, kurang mampu mengelola diri (waktu dan aktivitas), merasa bahwa di bangku kuliah tidak mendapatkan hal atau materi yang bermanfaat bagi kehidupan nyata, dll.

Mereka yang lambat menyelesaikan studi karena keasyikan berorganisasi, bisa dilatarbelakangi oleh kuatnya passion berorganisasi ataukah semata-mata karena pengalihan atau pelarian. Indikasinya adalah kebutuhan yang tinggi untuk bersosialisasi, berafiliasi, dan dorongan untuk mengembangkan kepemimpinan. Di sini, organisasi diyakini menjadi media dan wahana untuk mengembangkan kemampuan berkomunikasi, kerjasama, kreativitas relasional, kemampuan berjejaring serta kepedulian sosial. Pun bisa terjadi, karena adanya kebutuhan melakukan kompensasi terhadap perasaan kekurangan atau kelemahan diri, sebagai pengalihan atau juga pelarian dari kondisi yang tidak menyenangkan.

Berkaitan dengan kasus Ibu, hal yang urgen dilakukan adalah mengagendakan dialog dari hati ke hati dengan ananda, setidaknya tentang apa hal atau problem yang menurut ananda menghambat penyelesaian kuliahnya. Apakah ananda memahami serta menyadari keprihatinan Anda terkait dengan keterbengkalaiannya dalam studi atau kuliahnya itu? Hal-hal ini perlu didialogkan secara bijaksana untuk mengidentifikasi tiga hal penting, yakni: Pertama,mendapatkan konfirmasi tentang kendala penyelesaian kuliahnya. Bisa jadi dugaan Anda tentang kendala itu tidak sama dengan yang dihadapi ananda. Bila itu karena passion, Anda bisa memberikan saran untuk melakukan pengelolaan waktu dengan baik.

Kedua, perlu terbuka kepada ananda tentang esensi keprihatinan yang Anda rasakan terkait dengan keterlambatan penyelesaian kuliah ananda. Bagaimana pun ananda adalah bagian dari keluarga dan sudah cukup usia untuk diajak memahami keprihatinan Anda.

Ketiga, dialog rencana ananda ke depan. Apakah akan menyelesaikan kuliah atau menempuh jalan lain. Apa pun respon ananda terkait perencanaan ke depan, perlu didengarkan. Di tahap akhir ini, selaku orangtua, Anda perlu menunjukkan sikap keterbukaan hati, kerelaan untuk memahami, serta di mana perlu sikap tegas yang tetap dilambari rasa kasih sayang. Sekian, semoga bermanfaat.

H.M.E. Widiyatmadi

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*