Artikel Terbaru

Markus Bria dan Maria Tay: Bersandar Kepada Tuhan

Mgr Benyamin Yosef Bria bersama Markus Bria dan Maria Tay.
[NN/Dok.Pribadi]
Markus Bria dan Maria Tay: Bersandar Kepada Tuhan
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comPutra sulung mereka, Mgr Benyamin Bria meninggal. “Mengapa begitu cepat Engkau panggil dia?” protesnya dengan berlinang airmata.

Bola mata pasangan itu kian redup termakan usia. Langkah kaki mereka tak lagi setegar kala belia. Gerak tubuh suamiistri itu pun tak selincah dulu. Wajar, usia mereka hampir menyentuh satu abad. Markus Bria dan Maria Tay telah mengukir sejarah dalam lika-liku pernikahan. Pada 25 April lalu, mereka merayakan 60 tahun hidup bersama.

Mengenang perjalanan cinta mereka dalam guliran waktu terasa unik dan menarik. Bayangkanlah, awal perkenalan Markus dengan Maria amat kontras dengan kebiasaan saat ini. Waktu itu, belum ada surat menyurat, apalagi telepon dan layanan pesan singkat. Markus hanya bermodal nekat. Namun siapa sangka, dari jalinan cinta mereka lahirlah seorang pemimpin gembala Gereja.

Menemukan Cinta
Saban hari, Markus mencari uang logam perak dan emas. Barang itu ia lebur, kemudian dibentuk menjadi gelang dan anting. Ada beragam ukuran dan ukiran hasil keterampilannya itu. Hasil kreativitasnya sedap dipandang, juga menggoda untuk memilikinya. Tak hanya gelang dan anting, Markus juga membuat wadah penyimpan sirih pinang. Benda-benda itu ia jual atau sekadar menjadi hiasan untuk memanjakan mata di rumahnya.

Pekerjaan Markus itu pulalah yang mempertemukannya dengan Maria. Meski singkat, perjumpaan itu ternyata sanggup menumbuhkan tunas-tunas cinta di hatinya. “Kami hanya bicara sebentar karena baru pertama kali bertemu,” kenang Maria. Keuletan dan ketekunan Markus saat bekerja menyentil hati Maria.

“Saat bertemu, dia mau kasi (beri) uang buat saya. Apa yang terjadi? Saya takut dan lari. Baru bertemu, tetapi dia mau kasi langsung uang. Mungkin niat Markus baik, tetapi saya tidak bisa terima. Kondisi budaya dan situasi batin saya belum siap,” ungkap Maria.

Bicara soal cinta, apapun lika-liku perjalanannya selalu berakhir dengan kepastian. Bila cinta belum mendapatkan tambatannya, tak mungkin cinta bisa berlabuh. Demikian pula cinta Markus kepada Maria. Tak mudah meluluhlantakkan hati Maria. Namun Markus yakin, gadis itu adalah tambatan hatinya. Pancaran aura Maria nan teduh, membuat hati Markus mantap ingin menjadikan gadis asal Bani-Bani, Kecamatan Malaka Tengah (kini: Kecamatan Io-Kufeu), Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur (NTT), sebagai pendamping hidupnya. Pada 25 April 1956, Markus dan Maria mengikrarkan janji setia selamanya di Gereja St Yosef Seon, Keuskupan Atambua.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*