Artikel Terbaru

Josep Matheus Rudolf Fofid: Seperti Kami pun Mengampuni

Para penerima Maarif Award 2016 bersama Dewan Juri Maarif Award dan Dr Ahmad Syafii Maarif.
[HIDUP/Christophorus Marimin]
Josep Matheus Rudolf Fofid: Seperti Kami pun Mengampuni
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comRudolf Fofid menerima Maarif Award 2016. Lebih dari 17 tahun ia menyebar pesan damai di tanah Ambon. Seni dan sastra dipilih sebagai media perjumpaan lintas agama.

Januari 1999, konfilk Ambon pecah. Orang-orang saling membunuh. Rumah-rumah dibakar. Tak butuh waktu lama konflik berdarah itu menjalar hingga ke kampung-kapung. Tak terkecuali di Bacan, Kabupaten Halmahera Selatan, Maluku Utara. Di Bacan inilah kampung halaman Josep Matheus Rudolf Fofid. Ia tinggal bersama ayah dan dua kakaknya. Naas ketiganya terbunuh di hari-hari kelam itu dan rumah mereka pun dibakar.

Saat sang ayah dan kedua kakak dibunuh, Rudolf atau yang lebih akrab dipanggil Opa berada di Tual, Maluku. Ia pun pulang, di sana ia mendengar cerita dari tetangga, sang ayah dan dua kakaknya memang memilih bertahan ketimbang mengungsi. Sang ayah lah yang turut mengatur jadwal kapal untuk mengangkut para pengungsi meninggalkan Bacan. Namun ia menolak untuk diajak pergi.

Mendengar semua itu Opa berusaha tenang. Ia tidak tersulut untuk menuding siapa-siapa pembunuh keluarganya. “Tentu saya sedih karena tidak akan berjumpa dengan mereka lagi secara fisik. Tetapi saya tidak punya hak untuk balas dendam ke umat Muslim atau siapa pun. Waktu itu saya belum sakit,” ujarnya.

Penggalan kalimat doa Bapa Kami “Ampunilah kesalahan kami seperti kami pun mengampuni yang bersalah kepada kami” menjadi inspirasinya. Penggalan itu sudah ia daraskan sejak kecil. Di saat seperti itulah Opa sadar bahwa ia sedang ditantang untuk mewujudkan rumusan doa itu.

Petuah Sang Ayah
Ayah Opa adalah mantan tentara het Koninklijke Nederlands(ch)-Indische Leger (KNIL) dan pensiunan Tentara Republik Indonesia. Ketika terbunuh ayahnya berusia 84 tahun. Opa bisa memahami keputusan ayahnya untuk tetap bertahan di rumah meski ia tahu bahwa kematian segera merenggutnya. Menurut Opa, ayahnya selalu yakin bahwa ia berkawan dengan siapa pun tanpa pandang suku, agama, atau ras. “Ayah saya juga ikut mendirikan masjid. Rumah kami dibangun oleh orang-orang Muslim, dan orang Kristen banyak yang tinggal di rumah kami,” kata ayah empat anak ini.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*