Artikel Terbaru

Tommi, Anak Thomas Aquino

Tommi, Anak Thomas Aquino
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Seratus hari lalu, Tommi Legowo dipanggil Tuhan (29/3). Rupanya Tuhan berpikir, “Tugasmu sudah cukup: pulanglah”. Tommi menunjukkan pada saya, bagaimana melaksanakan Gaudium et Spes (GS) sebagai awam di tengah masyarakat Indonesia. Sejak di Paroki St Yusuf Bintaran, D.I. Yogyakarta, saya kenal Tommi sebagai orang berpikiran lincah dan bersahabat–mirip St Thomas Aquino, pelindungnya. Pikirannya mondar-mandir antara dunia “ramai” dan “hening”, mirip orang yang dulu jadi tetangganya, Ki Hadjar Dewantara. St Thomas punya tulisan tak terhitung jumlahnya, seperti paper-paper Tommi: refleksi atas hidup dalam dunia tapi dengan kejernihan orang beriman. Keduanya tetap saja hidup tenang. Tomi damai saja dengan penyakit gulanya dan St Thomas dengan makan banyak–sehingga konon mejanya harus digergaji, agar perutnya yang “extra-large” dapat ikut dalam makan bersama komunitas. Kini banyak orang mengintip pikiran St Thomas me lalui tulisan-tulisannya “teologi di tengah kesibukan dunianya”.

Tommi, saya kenal sebagai pemuda saleh dan beriman, seperti beberapa anak-anak Bapak FX Sudijana, yang enggan melepaskan “Franciscus Xaverius” nya ketika diangkat menjadi Inspektur Jendral Departemen Pendidikan dan Kebudayaan oleh Menteri Daoed Joesoef. Kedua anak beranak itu–Soedijana dan Tommi–adalah orang-orang berprinsip Katolik di tengah kancah politik yang sering menuntut orang menanggalkan kekatolikannya. Sayang, beberapa politisi kita melakukan sebaliknya. Tapi Tommi menerjemahkan kekatolikannya dengan bahasa diplomatis di ranah sangar politik. Dialah bidan yang membuat lahirnya Formappi (Forum Masyarakat Peduli Parlemen Indonesia).

Anggota Formappi berasal dari agama apapun, dengan satu tekad untuk membadankan Kedaulatan Rakyat dengan mencermati perilaku mereka yang secara resmi disebut wakil rakyat. Dengan semangat Bagian Satu Konstitusi Pastoral “Gereja dalam Dunia” (GS) mereka menerjemahkan pesan Bagian Dua. Politik ada demi bonum commune. Dalam Formappi, mereka menjadikan gagasan berupa kata dan gerak. Mereka punya catatan mengenai hampir semua anggota DPR/MPR; berapa sering mereka hadir, berapa lama mereka hadir, berapa banyak mereka bicara dan mereka mengucapkan apa saja, seberapa sering mereka meninggalkan sidang atau malah tidak hadir, apa bobot percakapan mereka, dst. Sesekali mereka menciptakan forum untuk mempercakapkan apa yang ada di balik perdebatan parlemen. Dari merekalah rakyat mendapat informasi dan tawaran diskusi mengenai seluk beluk persidangan parlemen. Dengan demikian, mereka adalah orang-orang yang mencermati bagaimana anggota parlemen kita–sungguh atau tidak–mewakili pikiran rakyat; pun kalau dalam aneka perbincangan partai-partai mengaku menjadi wakil rakyat, dan sering memang demikian.

Tommi berperan menjadi pemberi semangat dan pemersatu Formappi; sesekali mengusahakan disiplin profesionalitas, agar kedaulatan rakyat sungguh terpaparkan. Studinya di bidang politik maupun Ajaran Sosial Gereja membuatnya berusaha cermat berpolitik dan bersuara-hati dalam berpendapat. Banyak yang menimba insight darinya. Dalam dirinya, banyak politisi menemukan rekan-bincang yang “kritis” (Yunani: krinein, mencari yang benar).

Tommi dalam tugasnya membawa “cahaya” di tengah kegelapan politik yang rumit dan “garam” dalam kekelaman kolam politik yang mirip Ciliwung tempo dulu; sulit menemukan ikan yang pantas jadi santapan nikmat. Dalam pembicaraan intern kader-kader Katolik, ia menemani analisis kelompok, yang harus membawa idealisme politik yang sehat pada aneka partai politik. Suara-hati etika politik Katolik dapat diterjemahkannya dalam aneka alternatif gerakan politik, saling menghargai dan mencari bonum commune dengan cara masing-masing. Ia belajar dari St Thomas; tidak menjadi pelaku politik praktis dalam partai, tapi membantu kader menyaring prinsip Kristiani bagi masyarakat Pancasila yang tepat azas, pun berhasil-guna. Tom, terimakasih untuk darma baktimu. Sampaikan salam kami kepada St Thomas Aquino di “situ”. Semoga ada kader-kader Katolik baru.

B.S. Mardiatmadja SJ

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*