Artikel Terbaru

UBK Bagian Gereja

Paus Fransiskus menyapa UBK usai Misa Yubileum bagi orang sakit dan difabel di Vatikan.
[romacare.it]
UBK Bagian Gereja
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Selama Tahun Suci Kerahiman Allah, Paus Fransiskus juga memberikan kesempatan perayaan Yubelium bagi orang sakit dan kaum difabel. Rangkaian perayaan Yubileum digelar di Vatikan, Jumat-Minggu, 10-12/6. Bahkan Bapa Suci pun hadir dalam Kongres Disabilitas yang diprakarsai Konferensi Para Uskup Italia. Perhatian Takhta Suci terhadap Umat Berkebutuhan Khusus (UBK) ini sungguh menggetarkan. Lapangan St Petrus Vatikan penuh ribuan umat dalam Misa Yubileum bagi orang sakit dan kaum difabel.

Paus mengajak semua pihak dalam Gereja untuk memperbarui komitmen bersama dalam pelayanan terhadap UBK. Gereja dalam level terkecil di paroki mestinya menjamin bahwa sesama yang berkebutuhan khusus di terima menjadi bagian di dalamnya, juga oleh asosiasi dan organisasi, serta gerakan Katolik lainnya.

Penerimaan Penuh
Seruan Bapa Suci seolah menegaskan kembali iman Gereja akan Yesus Kristus, Sang Tabib Sejati. Menurut Paus, Yesus adalah tabib yang menerima siapapun yang datang kepada-Nya. Gereja sudah semestinya menerima dan melayani UBK dengan cinta seperti Yesus.

Istilah UBK merujuk pada umat yang masuk kategori penyandang disabilitas. Menurut UU No.4/1997 tentang Penyandang Cacat, Pasal 1, penyandang disabilitas adalah orang yang mempunyai kelainan fisik dan atau mental, yang dapat mengganggu atau merupakan hambatan baginya untuk melakukan kegiatan secara selayaknya, yang terdiri dari penyandang cacat fisik, cacat mental, serta penyandang cacat fisik dan mental (ganda). Termasuk kategori UBK adalah authism, down syndrome, attention deficit hyperactivity disorder/attention deficit disorder (ADHD/ADD), cerebral palsy (CP), intellectual development disorder, tunalaras, tunagrahita, tunarungu, tuna netra, tunawicara, tunadaksa, tunaganda, dll.

Tiga kategori disabilitas itu pasti mendapat perlakuan berbeda. Dibutuhkan pelayanan pastoral yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Gereja layak mengalokasikan sumber daya dan perhatian bagi kerasulan di bidang ini. Dengan demikian, aksesibilitas infrastruktur dalam lingkungan rumah ibadah, sarana dan prasarana penunjang, serta pelayan pastoral dan katekese berkelanjutan, menjadi kesadaran bersama untuk diadakan. Inilah penerimaan tanpa syarat bagi UBK, bahkan hingga level paroki.

Aksesibilitas UBK
Berdasarkan keterangan dari 16 aktivis Gereja dari paroki berbeda di Keuskupan Agung Jakarta (KAJ) pada Juni 2016–tidak termasuk Dekanat Bekasi dan Tangerang–hampir semua paroki tidak memiliki data pasti mengenai jumlah UBK, termasuk Anak Berkebutuhan Khusus (ABK). Mereka menyebutkan jumlah di bawah 20 orang dalam satu paroki; bahkan 75 persen tidak mengetahui jumlah UBK di parokinya. Ini menunjukkan perhatian Gereja terhadap pastoral UBK sangat kurang.

Terkait dengan aksesibilitas infrastruktur dalam lingkungan gereja, separuh dari 16 paroki tidak memiliki tempat duduk (ruang) khusus bagi UBK. Toilet (WC) khusus UBK hanya tersedia di lima paroki dari 16 paroki KAJ dan tempat drop off bagi UBK juga hanya tersedia di tiga paroki. Hanya sepuluh paroki yang telah menyediakan jalur ram (bidang miring).

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*