Artikel Terbaru

Komitmen Kasih Rumah Sakit Katolik

Uskup Ruteng Mgr Hubertus Leteng saat ditemui di Gedung Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) Cut Meutia Menteng, Jakarta Pusat, Jumat, 9/11.
[Dok.HIDUP]
Komitmen Kasih Rumah Sakit Katolik
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comRumah sakit Katolik berupaya mengembangkan mutu pelayanan. Mereka berkomitmen mengemban misi Gereja: melayani yang miskin dan tersingkir.

Dewasa ini, rumah sakit-rumah sakit berlomba meningkatkan mutu pelayanan dan penyediaan sarana medis yang lebih baik. Di tengah dinamika ini, rumah sakit Katolik berusaha memberikan pelayanan prima dengan berbagai fasilitas dan sarana medis yang menunjang, namun tetap berupaya mengemban misi pastoral Gereja yakni memperhatikan dan peduli kepada mereka yang miskin dan tersingkir.

Delegatus Karya Kesehatan Katolik-Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), Mgr Hubertus Leteng menjelaskan, komitmen rumah sakit Katolik ini lahir dari misi Kristus dan Gereja untuk menyelamatkan manusia dan kemanusiaan. Rumah sakit Katolik diharapkan mewujudkan kasih dengan peduli kepada mereka yang miskin dan tak berdaya. Berikut ini petikan wawancara HIDUP dengan Mgr Hubertus:

Bagaimana tanggapan Bapak Uskup mengenai perkembangan rumah sakit Katolik saat ini?

Perkembangan rumah sakit Katolik saat ini memang tidak selalu mulus. Ada banyak tantangan dan masalah, ada banyak kekurangan dan keterbatasan. Menghadapi situasi seperti itu, rumah sakit Katolik tidak putus asa, tetapi terus berkompetisi dan menyesuaikan diri dengan tuntutan perubahan dan per kembangan zaman. Dengan segala kekurangan dan keterbatasannya, rumah sakit Katolik tetap optimis dan terus memajukan potensinya sambil dengan tekun dan setia belajar melihat berbagai peluang untuk memberikan layanan kesehatan yang prima dan maksimal kepada masyarakat.

Menurut Bapak Uskup bagaimana rumah sakit Katolik saat ini dalam mengemban misi pastoral Gereja?

Tidak ada keraguan dan tidak perlu juga diragukan bahwa rumah sakit Katolik masih tetap konsisten mengembangkan misi pastoral Gereja. Rumah sakit Katolik lahir dari misi Kristus sendiri dan Gereja-Nya yang menyelamatkan manusia dan kemanusiaan dari berbagai bentuk penyakit yang merusak dan menghancurkan mutu pribadi dan hidup manusia. Di atas fondasi inilah rumah sakit Katolik tidak akan berhenti dan tidak akan kenal lelah untuk mengembangkan misi pastoral Gereja.

Meskipun tidak mudah dalam zaman yang kompetitif dewasa ini, rumah sakit Katolik tidak boleh kehilangan fokus cinta dan perhatiannya, fokus pelayanan dan komitmennya untuk orang-orang kecil, miskin dan sederhana, termasuk para penderita HIV/AIDS. Tidak banyak jenis rumah sakit yang memberikan prioritas pelayanan dan komitmen terhadap orang-orang kecil, miskin dan sederhana, orang-orang pinggiran yang cenderung terbuang dan terlupakan. Rumah sakit Katolik justru harus berorientasi sebaliknya, dari kecenderungan umum manusia dewasa ini yang mengejar keuntungan finansial sebesar-besarnya dengan mengabaikan orang-orang kecil, miskin dan sederhana yang tidak punya apa-apa dan tidak punya siapa-siapa untuk membela dan mem per tahankan diri dan hidupnya.

Hal-hal seperti apa yang perlu “dibenahi” oleh rumah sakit Katolik?

Setiap bentuk pelayanan pasti tidak ada yang lengkap dan sempurna, begitu juga pelayanan rumah sakit Katolik. Pembenahan mesti selalu dibuat secara rutin dan kontinyu dalam pengelolaan manajemen, personalia, keuangan, dan networking baik internal di antara unit-unit rumah sakit Katolik sendiri maupun networking eksternal dengan berbagai instansi terkait, di pemerintahan dan lembaga-lembaga sosial karitatif kemasyarakatan pada tingkat lokal dan nasional, regional dan internasional.

Harapan Bapak Uskup terkait pelayanan rumah sakit Katolik kepada mereka yang miskin dan tak berdaya?

Semoga rumah sakit Katolik bisa melanjutkan misi Kristus sendiri. Keunggulan dan kehebatan rumah sakit Katolik justru harus terletak pada komitmen cinta dan perhatian, pelayanan dan komitmen kepada orang-orang kecil dan tak berdaya. Rumah sakit Katolik harus tetap memiliki iman yang kuat dan keyakinan yang teguh akan Kristus yang memberi diri untuk menyelamatkan manusia terutama orang-orang kecil, miskin dan sederhana, tersingkir, terbuang dan terlupakan. Untuk itu, pelayanan rohani tidak boleh dikurangi dan orang-orang kecil, miskin dan sederhana, terpinggirkan, terbuang dan terlupakan harus diberi prioritas dalam pelayanan. Mereka tidak selalu mesti dipungut biaya. Untuk mereka, justru harus dicarikan bantuan kepada para donatur dan pemerintah, atau lembaga-lembaga donor.

Adrianus Aba/Maria Pertiwi

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*