Artikel Terbaru

dr Antonius Yudianto: Karya Karitatif

dr Antonius Yudianto
[HIDUP/A. Aditya Mahendra]
dr Antonius Yudianto: Karya Karitatif
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Menyoroti tentang pelayanan dan tantangan RS Katolik saat ini, Ketua Persatuan Karya Dharma Kesehatan Indonesia (Perdhaki) Keuskupan Agung Jakarta (KAJ), Dokter Antonius Yudianto memberikan tanggapan. Kata Dokter Yudi, begitu ia disapa, tantangan RS Katolik adalah bagaimana memenuhi standar dalam mengoperasionalkan RS yang bisa menjaga mutu dan keselamatan pasien. Hal inilah yang menjadi poin penting dalam akreditasi. “Tantangan lainnya tentu modal. RS Katolik kan berjalan not for profit bukan profit oriented. Jadi, semua diupayakan sendiri, berbeda dengan PT,” ujarnya saat ditemui HIDUP di kantornnya di RS Elisabeth Bekasi, Selasa, 21/6.

Menurut Dokter Yudi, tantangan yang ada pada RS Katolik memang harus dihadapi. Modal bukanlah satu-satunya alasan dan pengelola RS Katolik mesti mahfum bagaimana mengelola modal yang kecil dalam operasional RS tetapi dengan tetap melakukan tugas dan fungsinya dengan baik.

Baginya, setiap RS mempunyai berbagai kemampuan dan keunggulan yang khas. Misalnya, RS Elisabeth tentu berbeda dengan RS lain di sekitarnya. Ada hal khusus yang hanya dimiliki RS Elisabeth dan RS lain tidak. Keunggulan yang khas itu menjadi modal dalam pelayanan. “Kita ga bisa head to head dengan rumah sakit yang profit oriented. Tetapi kita bisa menonjolkan kekhasan Katolik, tentu dengan mengindahkan hal-hal yang ditekankan oleh lembaga akreditasi.”

Keunggulan atau ciri khas RS Katolik bisa dilihat dalam pelayanan dan juga dalam bentuk fisik. Misal, di setiap ruangan pasti ada salib. Menurut Dokter Yudi, kadang ada pasien yang minta agar salib diturunkan. “Tapi para staf dan perawat kami pinter jawabnya; karena itulah yang menjadi sumber kekuatan kami dalam melayani Bapak dan Ibu, karena Bapak Ibu adalah Tamu Ilahi.”

Ciri khas lainnya adalah doa sebelum kegiatan. Di setiap RS Katolik para karyawan rutin berkumpul untuk doa pagi bersama, membaca dan merenungkan ayat Kitab Suci. Bahkan saat pergantian sesi, setiap bagian akan berkumpul untuk berdoa. Hal ini tentu menjadi pembeda dengan RS lain yang sekuler. “Bahkan di RS Elisabeth, suster-suster OSF juga ikut terjun dalam pelayanan,” kata dokter Yudi.

Perdhaki KAJ merupakan komunitas, sebagai ruang para kru RS Katolik untuk bertukar pikiran dan saling menguatkan. Menurut alumni Fakultas Kedokteran Universitas Atma Jaya ini, kebersamaan dalam Perdakhi sangat penting, “Kalau jalan sendiri, nanti susah sendiri juga,” ujarnya.

Sebagai wadah perkumpulan, Perdhaki sering mengadakan seminar kaderisasi dan kepemimpinan. Tujuannya, untuk membekali para karyawan muda RS Katolik agar mampu memimpin dalam masing-masing unit. Meski RS Katolik berlandaskan pada nilai dan iman Katolik, bukan berarti mereka eksklusif dalam merekrut karyawan. “Mereka bersifat inklusif. Namun dalam proses rekrutmen, RS Katolik biasa menyampaikan visi, misi, nilai dan kultur RS Katolik kepada calon karyawan baru.”

Bagi dokter Yudi, nilai karitatif dalam pelayanan RS Katolik akan tetap menjadi wadas yang kokoh. Karena itu, meski berhadapan dengan RS lain dan aturan pemerintah, tidak ada kegentaran di pihak RS Katolik. Ia mencontohkan, beberapa waktu silam, RS Elisabeth pernah mengalami penurunan jumlah pasien. Tetapi mereka akhirnya bisa kembali meningkat setelah bekerjasama dengan BPJS.

Di atas semua itu, dokter Yudi yakin akan penyelenggaraan Tuhan dalam pelayanan karitatif ini. Karena itu, meski tidak bertujuan mengejar keuntungan profit, RS Katolik tetap bertahan dalam pelayanan kesehatan di era global ini. “Tuhanlah yang menyelenggarakan,” kata umat paroki St Paskalis ini mengakhiri perbincangannya.

A. Aditya Mahendra

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*