Artikel Terbaru

Pelayan Kesehatan Berdasarkan Kekatolikan

Kegiatan Bakti Sosial RS Atma Jaya jelang 40 tahun.
[NN/Dok.RS Atma Jaya]
Pelayan Kesehatan Berdasarkan Kekatolikan
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comDi era global, RS Katolik perlu meningkatkan inovasi pelayanan dan infrastruktur. Nilai-nilai dan karya pastoral tetap menjadi dasar dalam karya pelayanan mereka.

Tak ada gegap gempita pada puncak acara 40 tahun Rumah Sakit (RS) Atma Jaya, Jakarta awal Juni silam. Hanya Misa kudus yang dipimpin Mgr Ignatius Suharyo di ujung syukuran karya mereka. Sebelumnya, mereka juga menggelar kegiatan bakti sosial pengobatan dan pemeriksaan kesehatan gratis kepada masyarakat Rusunawa Penjaringan, Jakarta Utara.

Padahal, pada 2016 ini RS Atma Jaya mengalami beberapa momen spesial. Mereka baru saja mendapat pengakuan Akreditasi Paripurna. Sebuah capaian yang tak main-main. Hal lain, mereka juga baru saja selesai membangun Paviliun Bonaventura yang berdiri megah di daerah Pluit. Di antara momen spesial itu, RS Atma Jaya merayakan HUT 40 tahun.

Dalam khotbah, Mgr Suharyo mengajak seluruh kru RS Atma Jaya untuk tetap menjunjung tinggi nilai-nilai Atma Jaya yaitu manusia yang kristiani, unggul, profesional dan peduli. “Kita berharap agar sesudah 40 tahun dimurnikan di padang gurun, kita masuk tanah terjanji dipimpin oleh kemuliaan Tuhan,” pesan Mgr Suharyo.

Tamu Ilahi
Ditemui di ruang kerjanya di RS Atma Jaya Pluit, Jakarta, Selasa, 21/6, Direktur Utama (Dirut) RS Atma Jaya, Dokter Albertus M. Lisliyantotot, bercerita soal RS Atma Jaya. Dokter Totot, begitu ia disapa, tersenyum ketika ditanya soal tantangan terkini RS Atma Jaya. Katanya, ada perubahan dalam konsep layanan rumah sakit. Mulanya adalah normatif karitatif, di mana RS Atma Jaya merupakan perpanjangan karya Kristus. Inilah yang menjadi wadas atau dasar nilai-nilai RS Katolik.

Karena RS perlu survival, maka ada peralihan manajemen menjadi sosio ekonomi. Kini RS hidup dalam era pasar global yang ditandai kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Di era global ini, pelanggan (orang yang dilayani) lebih powerful dan tercerahkan dengan melimpahnya informasi kesehatan. Hal ini berbuntut pada sikap pelanggan yang lebih memilih dan menuntut. Alhasil, kendali bisnis ada di tangan pelanggan.

Secara umum, pelanggan hanya ingin dua hal: masalahnya diselesaikan dan impiannya terpenuhi. Semua RS bisa menyelesaikan masalah pelanggan, karena obat dan fasilitas yang digunakan sama. “Tetapi apakah impian mereka terpenuhi? Ini menjadi pertanyaan,” ungkap lulusan Magister Manajemen Rumah Sakit, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta ini.

Menyikapi hal itu, RS Atma Jaya kemudian mengubah pola pikir bahwa pelanggan yang datang adalah “Tamu Ilahi” yang ingin dilayani dengan baik. Pada ruang inilah RS Katolik bermain. Karena itu seluruh kru RS Katolik harus bercermin pada sikap Yesus yang rendah hati, cekatan, peduli dan mau empati. “Inilah keunggulan RS Katolik kalau kita punya paradigma bahwa pasien adalah Tamu Ilahi, Yesus dalam rupa manusia,” ungkapnya.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*