Artikel Terbaru

Frederikus Fios: Menyingkap Spiritual Etis Alam

Frederikus Fios
Frederikus Fios: Menyingkap Spiritual Etis Alam
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comFrederikus Fios melihat alam mempunyai dimensi spiritual etis. Manusia sebagai “homo ecologius” mestinya tidak mengabaikan dimensi ini dalam tatanan relasi dengan alam.

Juni lalu, Frederikus Fios berhasil mempertanggungjawabkan disertasinya dalam sidang promosi doktor di Universitas Indonesia. Pada pengujung sidang, ia dinyatakan lulus dengan predikat cum laude. Disertasi yang mengantar dia meraih gelar doktor itu berjudul “Homo Ecologicus Spiritual-Etis (Telaah Etika Lingkungan Atas Konsep Humanisme Ekologis Henryk Skolimowski)”.

Pria yang akrab disapa Fritz ini menjelaskan, dalam disertasi tersebut ia menyasar relasi manusia dan alam yang selanjutnya dipetakan dalam perspektif spiritual etis. Fritz menangkap, persoalan kerusakan alam sudah menjadi persoalan dunia. Isu kerusakan alam bukan lagi isu biasa, tetapi merupakan isu komunitas manusia.

Dalam konteks Indonesia, saat ini ada beberapa wilayah yang menjadi target eksploitasi kelompok kapitalis. Sebut saja, Kalimantan, Sumatera, Jawa, Nusa Tenggara Timur (NTT), dan juga Papua. Daerah-daerah ini kerap menjadi lahan empuk bagi kapitalis untuk dieksploitasi. “Setiap tahun ke rusakan hutan di daerah-daerah tersebut kian meluas. Itu belum termasuk tanah longsor, banjir, kebakaran hutan, dan lain-lain,” ujar Fritz.

Fakta-fakta empirik tersebut yang memotivasi dia menulis disertasi dengan konsentrasi relasi etis manusia dengan alam. Ia ingin, cara pandang yang ia tawarkan langsung mengena dan berdampak positif dalam pola pikir, pola sikap, dan pola laku manusia yang lebih etis, lebih adil, dan lebih baik terhadap alam.

Melalui telaah pemikiran humanisme ekologis Skolimowski, dosen Character Building Agama dan Character Building Pancasila Universitas Bina Nusantara (Binus) Jakarta ini menemukan dua konsep yang dapat mengantar manusia menangkap dimensi spiritual etis dari alam. Pertama, politik lingkungan. Setiap orang tinggal dalam komunitas, yaitu komunitas manusia. Maka, ia perlu melakukan tindakan politis yang menyelamatkan lingkungan. “Jika tidak, ia adalah manusia yang tidak berguna dalam komunitas masyarakat,” ucapnya.

Dia mencontohkan upaya reklamasi pantai utara Jakarta atau reklamasi Teluk Benoa, Bali. Di dua tempat ini terjadi pertarungan sengit antara pemegang kekuasaan, perusahaan kapitalis, masyarakat, dan nelayan. Nelayan yang kerap menjadi korban. Pembuat kebijakan cenderung mengambil keputusan dengan mengabaikan nilai-nilai etis yang intrinsik dalam alam, juga hubungan manusia dengan ekosistem lain yang lebih luas, maka perlu dibentuk kelompok yang memperjuangkan hak asasi alam. “Alam sedang dalam target eksploitasi. Maka, masyarakat perlu meng ambil inisiatif melakukan gerakan sosial untuk kontra terhadap kekuatan-kekuatan kapitalis,” tegas Fritz saat ditemui di Kampus Binus dua pekan lalu.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*